Jungkook memang sering pulang malam. Akan tetapi, ia masih cukup waras untuk tidak melakukan hal konyol seperti yang Yoongi pikirkan.
Alih-alih melampiaskan segalanya pada sesuatu yang akan membuatnya rusak, Jungkook memilih untuk menyibukkan diri dengan bekerja di sebuah kafe usai menyelesaikan sekolahnya.
Kira-kira sudah lebih dari satu minggu, Jugkook bekerja di sana tanpa sengetahuan dari ayahnya. Ia hanya tidak mau, sang ayah melarangnya dengan alasan hal itu akan mengganggu jam belajarnya.
Selain untuk menghindar dari sang ayah seperti yang beliau katakan. Jungkook juga merasa, ia harus mulai belajar mandiri mengingat ia tidak bisa selamanya bergantung pada Yoongi.
"Jungkook."
Jungkook yang sebelumnya tengah sibuk membersihkan meja, lantas menoleh usai mendengar panggilan dari Jihoon—salah satu teman kerjanya.
"Dipanggil sama Bang Joon, tuh."
"Hah? Kenapa, ya, Ji? Aku ada buat kesalahan, kah?" tanyanya, heran. Jungkook rasa, ia tidak melakukan kesalahan hingga membuatnya harus dipanggil oleh sang atasan.
Belum ada satu bulan Jungkook bekerja di sini. Tidak lucu, apabila ia harus kehilangan pekerjaan dengan secepat ini.
"Mana Gue tau. Mending langsung ke ruangannya aja, gih. Kerjaan Lo biar Gue yang beresin," jawab Jihoon.
"Ya udah. Makasih, ya, Ji?"
Jihoon hanya mengangguk. Mengambil alih pekerjaan Jungkook, dan membiarkan ia pergi menghampiri pemilik kafe ini.
***
Kehilangan pekerjaan adalah hal pertama yang Jungkook pikirkan usai mendengar ucapan dari Jihoon. Jungkook memang tidak melakukan kesalahan, setidaknya hari ini.
Akan tetapi, mengingat kesalahan yang telah ia lakukan pada awal bekerja: seperti memecahkan gelas, membuat pelanggan kesal lantaran tak sengaja menumpahkan minuman, belum lagi kesalahan-kesalahannya yang lain. Tidak menutup kemungkinan, jika atasannya akan memecatnya dengan alasan demikian.
Jungkook terus menunduk sembari memilin ujung bajunya. Ia benar-benar gugup saat sudah berada di depan sang atasan hingga tak berani untuk mengangkat kepalanya.
"Duduk, Jungkook."
Jungkook menurut saja. Ia menyeret kursi di bawah meja yang memberi jarak antara dirinya dan sang atasan, untuk kemudian mendudukkan dirinya di sana.
Anak itu terus menunduk, hingga satu pertanyaan yang tak ia duga akan keluar dari belah bibir sang atasan secara refleks membuatnya mengangkat kepala.
"Kamu ada masalah?"
"Y-ya, Pak?"
Jungkook bingung, tentu saja. Pertanyaan yang baru saja pria di hadapannya lontarkan benar-benar di luar dugaannya.
"Sebelum itu, tolong jangan panggil saya 'Pak', ya? Sudah saya katakan dari awal untuk memanggil saya 'Abang' atau 'Kakak saja', bukan?"
Jungkook mengingatnya. Namun, tetap saja ia sungkan untuk memanggil atasannya sendiri dengan sebutan seperti itu.
Kendati pemuda berlesung pipi—yang berstatus sebagai bosnya—memang terlihat cukup muda untuk ia panggil 'pak'. Tetap saja, rasanya tidak sopan memanggilnya tanpa menggunakan bahasa formal.
"Baik, K-kak ... Namjoon."
Jungkook sedang tidak dalam situasi di mana ia harus memusingkan panggilan apa yang harus ia berikan pada sang atasan. Dibanding itu, ia lebih penasaran pada apa yang membuatnya harus menghadap Namjoon dan memilih untuk menuruti perintahnya saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mistake✔️
FanfictionSemua baik-baik saja antara Min Yoongi dan Jungkook-sang putra. Hingga satu kebenaran terungkap, dan membuat segalanya mulai terasa runyam. Cover by : Pinterest.
