dua puluh

3.6K 276 9
                                    

Keduanya masih sama-sama terdiam setelah kegiatan panas mereka. Shella membiarkan Steffan memeluk tubuhnya dari belakang. Nafas keduanya masih terengah-engah juga jantung yang berdetak dua kali lebih cepat.

Steffan menciumi bahu Shella yang tidak tertutup oleh selimut. Dia menghela nafas lega setelah dua kali mencapai puncaknya. Pelukan yang dia berikan kini lebih erat.

"Masih sakit, gak?"

Suara Steffan membuka percakapan setelah hampir dua puluh menit hening. Dibalas gelengan oleh Shella.

"Kamu kenapa diam saja, Shel? Marah?" Tanya Steffan.

Shella menggeleng. "Gak mau mau ngomong apa, malu,"

Pria itu terkekeh pelan, dia lalu meraih Shella agar berbalik menghadapnya. Kini keduanya memandang satu sama lain. Shella memejamkan matanya merasakan usapan lembut di dahinya.

"Makasih banyak, Shel,"

Shella bergumam, dia mengeratkan pelukannya karena merasa jauh lebih nyaman jika kulit mereka bersentuhan secara langsung seperti ini.

"Besok gak usah masuk dulu," kata Steffan.

"Iya,"

Setelah itu tidak ada lagi percakapan karena Shella yang sudah terlebih dahulu tertidur karena kelelahan.

...

Shella perlahan membuka matanya, dia melihat sekelilingnya. Ia meregangkan tubuhnya, seluruh badannya masih terasa sakit.

"Sudah bangun?"

Shella menoleh, dia mengangguk. Matanya kembali terpejam membuat Steffan tertawa kecil.

"Mandi dulu,"

"Dingin pak, badan saya juga masih pada sakit," kata Shella memelas.

"Maaf, saya tidak bisa kendalikan diri saya semalam, salah kamu juga," ujar Steffan.

"Apa sih kok nyalahin saya?"

"Terus malam tadi siapa yang menggoda saya? Sampai baju kekurangan bahan itu?"

Shella bungkam, ya itu kan karena ia ingin menjadi istri Steffan seutuhnya. Selama ini Steffan selalu menahan untuk tidak menyentuh Shella lebih jauh.

Tanpa berkata apapun, Steffan langsung mengangkat Shella menuju kamar mandi. Dan mend udukannya di bathup.

"Bapak kasar ih," protes Shella.

"Mandi dulu, pasti tidak nyaman. Bisa mandi sendiri?" Tanya Steffan.

"Bisa! Sana keluar!"

Shella merilekskan tubuhnya dalam air hangat, ia memejamkan matanya. Tubuhnya merasa lebih baik saat berendam.

"Nggak lagi deh gue kayak gitu, kapok banget," gumam Shella menyesali perbuatannya. Jujur saja seluruh tubuhnya terasa sangat pegal dan linu. Apalagi bagian bawahnya terasa sangat perih. Dia juga cukup kesulitan berjalan.

"Pak Steffan nyeremin banget gila," Shella menggelengkan kepalanya sambil bergidik ngeri.

"Gue udah nggak suci,"

"Bundaaaaaa," rengek Shella.

Terdengar suara ketukan pintu di luar, Shella menghela nafasnya lalu membilas tubuhnua dengan air bersih. Ia berjalan keluar walaupun menahan sakit.

"Lama,"

"Saya semedi dulu pak, biar punya kekuatan seribu bayangan," jawab Shella asal.

"Jangan, satu Shella aja sudah bikin saya darah tinggi," kata Steffan.

Life With My Lecturer [republished ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang