Dua puluh tujuh

670 12 1
                                        

Steffan menyimpan segelas susu hangat di hadapan Shella.

"Tugasnya belum selesai?" Tanya Steffan.

"Belum, kok susah banget, ya, Pak," keluh shella.

"Sini saya bantu," Steffan menarik sebuah kursi lalu duduk di sebelah Shella. Dia mulai menjelaskan satu persatu secara detail.

Shella semakin tidak fokus, apalagi jaraknya dan Steffan sangat dekat. Bahkan Shella bisa merasakan hembusan nafas sang suami yang menerpa lehernya. Jantungnya berdebar, dia bergerak pun terbatas. Wangi tubuh Steffan adalah kesukaanya akhir-akhir ini.

"Semuanya kamu teliti dulu, setelah itu tarik kesimpulannya," kata Steffan.

Shella mengangguk, jemarinya bergerak lincah di keyboard laptop. Steffan sesekali merevisinya jika ada kesalahan.

"Akhirnya beres! Makasih, Pak," ujar Shella.

Steffan mengangguk. "Itu susunya diminum dulu,"

Shella meminumnya hingga habis, setelah itu dia membereskan buku dan alat tulisnya. Steffan masih tetap dalam posisinya.

"Kamu mau tidur?"

Shella menggeleng. "Enggak, ah. Nanti pusing kalo tidur jam segini, mau nemenin Rafka aja,"

"Yasudah, ayo. Pelan-pelan jalannya," kata Steffan. Dia lalu mengikuti Shella dari belakang. Mereka berjalan menuju ke ruang televisi.

"Ayah! Bunda!" Seru Rafka senang, anak itu yang awalnya berbaring di sofa langsung duduk.

"Rafka lagi apa?" Tanya Steffan.

"Aka gambar bagus banget! Ini Bunda, ini Ayah, ini Aka, sama ini Oma!" Jelas Rafka antusias.

Shella tersenyum gemas lalu mengusak rambut putranya penuh sayang. "Keren banget gambaran anak Bunda. Tapi ini kenapa Bunda perutnya bulet banget?"

"Ini ada adek. Kata Oma Adek tumbuh besar di perut Bunda,"

"Oh iya, kenapa Adek ada di perut Bunda? Bunda makan Adek?" Tanya Rafka.

Steffan mendekat ke arah Shella, dia berbisik. "Karena benihnya Ayah masukin dengan cara hub—aduh iya ampun!"

Shella mencubit perutnya kuat, Steffan meringis sakit karena terasa cukup nyeri.

"Ayah kenapa?" Tanya Rafka.

"Saya jawab gitu aja gimana?"

"Jawab aja kalo mau, paling gak ada jatah sampe Adek lahir," jawab Shella.

"Mana bisa begitu?! Delapan bulan itu lama!" Protes Steffan.

"Ya makanya jangan ngomong sembarangan!"

"Iya-iya, saya cuma bercanda. Abisnya gemes banget sama pertanyaannya," balas Steffan.

"Gimana Ayah?" Tanya Rafka yang masih penasaran.

Steffan melirik Shella yang mengalihkan pandangan tak mau menjawab. Dia terdiam sejenak untuk merangkai bahasa yang sesuai agar mudah dicerna oleh anak seumuran Rafka.

"Jadi gini, Ayah sama Bunda saling ketemu, kan. Terus Ayah sama Bunda saling sayang, kita berdua menikah. Terus karena Ayah dan Bunda saling cinta, ini ada Adek sebagai hasil cinta dan kasih sayang kita," jawab Steffan seraya mengusap perut Shella.

"Oh, gitu. Jadi Aka ada juga karena Mama sama Papa saling sayang?" Tanya Rafka.

"Betul sekali,"

Bocah itu tersenyum lalu memeluk Shella, dia mengusap perut Bundanya. "Nanti kalo Adek udah lahir Aka bakal ajak main Adek. Nanti Aka ajarin Adek menggambar, main basket, sama apa, ya?"

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang