sebelas

3K 243 5
                                    

Hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh keluarga besar mereka tiba. Dimana Steffan dan Shella akan menikah. Acara akan diadakan dihotel berbintang, atas permintaan Vina.

"Lo kenapa sih, dari tadi uring-uringan terus," tegur Dio lalu duduk disamping adiknya.

"Takut.." lirih Shella.

"Takut kenapa? Malam pertama?" Jawaban Dio mendapat tamparan dari Shella.

"G-gue.." nafas Shella tercekat.

Dio tersenyum lalu mengusap rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. "Lo sebentar lagi jadi milik orang lain, bukan tanggung jawab gue lagi. Nggak akan bisa gue jailin lagi, kalaupun bisa ntar suami lo ngamuk,"

Shella terisak dipelukan Dio, sebenarnya ia ingin tertawa saat mendegar kata terakhirnya. Namun suasana sedih lebih mendominasinya.

"Kok nangis?" Tanya Yona yang baru saja masuk ke kamar.

"Bundaa.." Shella memeluk bundanya sambil menangis. Yona mengusap punggunh anaknya, dia juga ikut meneteskan air matanya.

"Ayaah datang.."

Shella melepas pelukannya, tangisnya semakin pecah saat melihat orang yang selalu ia rindukan berdiri dihadapannya. Ia langsung memeluk erat ayahnya.

"Putri kecil Ayah sudah mau jadi seorang istri, rasanya baru kemarin ayah gendong kamu yang baru lahir," ujar Ayahnya dengan mata berkaca-kaca.

"Jadilah istri yang taat sama suami ya Nak, harus menurut sama suami, karena surganya istri ada pada suaminya," ucap Sandy—Ayahnya sambil mencium kening putrinya.

"A-apa kamu bisa?" Tanya shella yang masih terisak.

"Pasti bisa! Putri Ayah hebat,"

Mereka berempat berpelukan, walaupun sudah bercerai, tapi mereka mencoba untuk berdamai. Tidak ada gunanya bertengkar.

Yona membawa Shella turun ke bawah karena akad akan segera di mulai. Detak jantung Shella semakin tidak terkontrol.

Dia duduk di samping Steffan, di depannya sudah ada ayahnya dan penghulu.  Steffan melirik Shella, wanita itu sangat cantik dengan balutan gaun putih panjang itu.

"Siap?"

Steffan mengangguk, lalu Shella juga mengangguk. Steffan menjabat tangan Sandy.

"Baik, saudara Steffano Wilis Adhiyaksa, saya nikahkan engkau dengan putri saya, Rashella Anindya binti Sandi Choirul dengan mas kawin uang tunai sebesar seratus juta rupiah beserta seperangkat alat shalat dibayar tunai!"

"Saya terima nikah dan kawinnya Sandi Choirul—"

"Steffan! Yang lo mau nikahin itu shella! Bukan Bapaknya!" Teriak Chandra.

Shella melirik Steffan, seluruh wajahnya memerah dan dia beberapa kali menarik nafas.

"Sepertinya mempelai gugup, tenang saja nak, tarik nafas.." Steffan mengikuti intruksi dari penghulu itu.

"Baik saya ulangi,"

"saudara Steffano Wilis Adhiyaksa, saya nikahkan engkau dengan putri saya, Rashella Anindya binti Sandi Choirul dengan mas kawin uang tunai sebesar seratus juta rupiah beserta seperangkat alat shalat dibayar tunai!"

"Saya terima nikah dan kawinnya anak Bapak, Rashella Anindya binti sandy Choirul dengan mas kawin tersebut, tunai!" Ujar Steffan dengan satu tarikan nafas.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"SAAHHH!"

"Alhamdulillah.."

Life With My Lecturer [republished ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang