Shella berdecak merasakan kebosanan yang melandanya. Jam sudah menunjukan pukul tiga sore yang berati dia sudah berjam-jam hanya duduk menonton televisi.
Rafka ikut perjalanan bisnis bersama Vina, bocah itu sangat senang berjalan-jalan bersama neneknya itu. Dan itupun Vina yang memintanya karena supaya ada teman.
Dia dengan gontai berjalan menuju ruang kerja Steffan. Suaminya itu masih sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Pak,"
"Hm?" Balas Steffan tanpa menoleh. Matanya masih fokus pada layar laptop di depannya dan jari-jarinya terus bergerak untk mengetik sesuatu.
"Sibuk banget, ya?" Tanya Shella basa-basi.
"Enggak juga, supaya nanti tinggal sedikit," balas Steffan.
"Bosen pak dari tadi," adu Shella.
Akhirnya Steffan menoleh pada Shella. "Mau jalan-jalan?"
"MAU!"
Steffan terkejut mendengar pekikan Shella yang terdengar sangat bersemangat. Bahkan saking terkejutnya beberapa berkas sampai jatuh ke lantai.
"Mau kemana?" Tanya Steffan.
"Ke Mall mau? Sekalian belanja bulanan. Kemarin kamu bilang perlengkapan kamu banyak yang habis," jawab Steffan.
"Pulangnya ke tempat ramen dulu, ya. Saya lagi kepengen ramen deh," pinta Shella.
"Iya, sana kamu mandi dulu. Saya mau beresin ini," titah Steffan.
"Udah, loh. Dua jam yang lalu saya mandi. Tinggal berangkat aja ini,"
Steffan melihat Shella dari atas ke bawah. "Kamu mau pergi pake kaos terus celana pendek itu?"
Shella mengangguk. "Banyak juga kok saya sering liat disana pake ginian,"
"Gak bisa! Ganti sana!" tolak Steffan, apa-apaan Shella ini memakai pakaian seperti itu. Bahkan terlihat tidak memakai celana karena baju itu menutupi setengah pahanya.
"Gak mau, ah. Nanggung," tolak Shella.
"Shella, ayo ganti sekarang!"
"Mageer," rengek Shella.
Steffan langsung menggendong Shella seperti koala. Karena terkejut, Shella langsung memeluk leher Steffan karena takut jatuh. Steffan membawanya menuju kamar.
"Eh, turunin di sini aja! Saya mau ganti baju aja, kan udah mandi," pinta Shella.
Steffan malah tetap menggendong Shella ke kamar mandi. "Stt, sekali aja,"
"Saya udah mandi tau, aaaa turunin!" Rengek Shella.
"Gak mau," balas Steffan seraya tertawa dengan wajahnya yang terlihat tengil. Shella ikut tertawa melihatnya. Dia mencubit pipi si suami dengan gemas.
"Awas jangan lama, ya. Nanti ke mallnya kemaleman," peringat Shella.
"Sengaja, sekalian malam mingguan. Udah kamu jangan bawel, ngikut aja," Steffan mengecup bibirnya sekilas.
"Yeee penindasan,"
"Penindasan apanya? Belanja apapun yang kamu mau, deal?"
"Deal!" Balas Shella dengan semangat.
Steffan menutup pintu kamar mandi dengan kakinya. Lalu dia menurunkan Shella di bathup dan mulai mengisinya dengan air dingin.
"Pak Dingin, ih!" Pekik Shella kesal. Bahkan baju yang dia gunakan kini sudah basah kuyup.
Steffan ikut masuk ke dalam setelah melepas kaosnya. "Nanti juga panas lagi, hemat listrik,"
"Halah, alesan!"

KAMU SEDANG MEMBACA
Life With My Lecturer [republished ]
Fiksi RemajaDi dunia ini yang paling menyebalkan bagi Shella adalah tugas. Apalagi dengan dosennya yang sangat menyebalkan. Shella rasanya ingin menhilang saja. "Rashella Anindya! Kamu bisa belajar lebih serius? Mau jadi apa kamu ini?" "Istri bapak hehe," "M...