Steffan mengerjapkan matanya saaf merasakan tempat di sebelahnya kosong. Ia melihat ke sekeliling dan hanya mendengar suara dari kamar mandi. Dia melirik jam yang masih menunjukkan pukul tiga pagi.
Tanpa berkata apapun dia langsung masuk ke sana, alangkah terkejutnya saat melihat Shella yang duduk bersimpuh di bawah sambil memegangi perutnya.
Shella terkejut saat merasakan seseorang mengusap pundaknya. Dia memejamkan matanya sejenak.
"Shel, kamu kenapa?"
"Mual pak, perut saya sakit," ringis Shella.
Steffan membantu Shella berdiri, dia merangkul Shella yang sudah tidak terlihat bertenaga sama sekali. Tubuh Shella terasa dingin karena sudah terlalu lama di kamar mandi. Bahkan wajahnya sangat pucat. "Sudah berapa kali muntah?"
"Empat, sakit perutnya ..." lirih Shella seraya meremas perutnya yang entah mengapa terasa keram juga nyeri.
"Ayok ke dokter,"
"Ga usah-" sebelum menyelesaikan bicaranya, ia kembali merasakan mual. Dia berbalik menuju wastafel dan berusaha kembali memuntahkan sesuatu yang bergejolak dalam perutnya. Namun nihil, hanya cairan bening saja yang keluar. Steffan memijat tengkuk Shella.
"Sudah?"
Shella mengangguk lemas, sementara Steffan menyeka sudut bibir Shella lembut. Dia hampir ambruk jika Steffan tidak menahannya, ia lalu membawa Shella menuju kamarnya.
Steffan menuangkan kayu putih dan mengoleskannya pada perut Shella."Masih mual?" Tanya Steffan ketika Shella menutup mulutnya.
Shella mengangguk membuat suaminya dengan sigap mengambil tempat sampah kecil yang ada di ujung kamarnya. Dia mengurut tengkuk Shella selagi wanitanya kembali muntah.
"Sebentar, saya ambil air hangat dulu,"
Shella mengusap perutnya yang masih terasa keram juga sakit. Tidak biasanya seperti ini. Padahal dia sudah datang beberapa hari yang lalu.
"Ini, diminum dulu,"
Shella meminumnya sedikit, sedangkan Steffan menyimpan tempat sampah itu di bawah. Dia membantu Shella berbaring lalu menyelimutinya.
Steffan berbaring di samping Shella dan memeluknya. Shella membenamkan wajahnya di dada Steffan. Anehnya rasa mual itu berkurang.
"Tidur lagi ya. Masih mau muntah?"
Shella menggeleng.
🌱
"Jangan dulu ke kampus,"
Shella yang sedang mengeringkan rambutnya menoleh pada Steffan sekilas. Dia memakai liptint agar menutupi bibirnya yang pucat. Sebenarnya dia masih merasa sedikit mual, namun jika di rumah dia akan sangat bosan. Juga dia ada kuis hari ini.
"Saya udah ga apa-apa,"
"Istirahat, ya, di rumah," pinta Steffan.
"Gamau, Pak!" rengek Shella.
Steffan menghela nafas, saat melihat Shella ia terkejut ketika dia hampir menangis. Matanya sudah berkaca-kaca.
"Kenapa nangis?" Tanya Steffan sambil membawa Shella ke pelukannya. Dia mengusap punggungnya beberapa kali untuk menenangkan Shella.
"Saya padahal mau ke kampus, Bapak ga izinin. Saya bosen di rumah," keluh Shella.
"Yasudah, tapi jangan terlalu lelah, kelas kamu sudah selesai langsung ke ruangan saya," Steffan mengusap rambut Shella.

KAMU SEDANG MEMBACA
Life With My Lecturer [republished ]
Fiksi RemajaDi dunia ini yang paling menyebalkan bagi Shella adalah tugas. Apalagi dengan dosennya yang sangat menyebalkan. Shella rasanya ingin menhilang saja. "Rashella Anindya! Kamu bisa belajar lebih serius? Mau jadi apa kamu ini?" "Istri bapak hehe," "M...