dua puluh enam

3.6K 244 3
                                        

Pagi-pagi sekali Shella sudah merasakan mual yang luar biasa, hingga mau tak mau dia harus bergegas ke kamar mandi.

Ia tidak mengeluarkan apapun, hanya cairan bening yang keluar dari mulutnya. Namun masih terasa sangat mual.

Usapan lembut pada pundaknya membuat shella menoleh sebentar sebelum dia kembali berusaha memuntahkan sesuatu.

Setelah beberapa menit, rasanya sudah lebih baik. Karena lemas dia memeluk Steffan yang masih setia berdiri di sampingnya.

"Sudah lebih baik?" Tanya Steffan.

Shella mengangguk, dia menghela napas pelan. "Rasanya pingin banget muntah, tapi gak keluar apa-apa,"

Steffan memeluk Shella dan menumpukan dagunya pada kepala sang istri. Dia mengusap rambut juga punggungnya dengan lembut. Tak lupa dia memberikan kecupan-kecupan ringan di pelipis Shella. Steffan lalu menggendong Shella kembali ke kasur.

"Okay, Shel, gak apa-apa. Itu wajar di trimester pertama. Kamu yang kuat, ya. Saya bakal selalu ada buat kamu," ujar Steffan.

Shella memejamkan matanya, dia merasa nyaman dengan perlakuan Steffan. Rasa mualnya masih sangat kuat hingga pada saat dia minum air pun akan keluar kembali.

"Mau makan apa, hm?" Tanya Steffan.

Shella menggeleng. "Gak bisa makan,"

"Gak boleh gitu, dong. Nanti kamu sama baby kelaparan. Terus nanti kamu makin lemes gimana? Saya beliin bubur mau?"

Shella menggeleng. "Enggak, bayanginnya aja udah eneg. Roti aja,"

"Yasudah, kelas kamu mulai siang, kan? Sekarang siap-siap dulu ke dokter buat check up, sekaligus konsultasi,"

🌱

Steffan menggenggam erat tangan Shella saat keduanya melihat bayi mereka lewat layar monitor. Shella tersenyum haru karena merasakan ada hidupan dalam rahimnya.

"Nah, ini baby nya. Usianya baru masuk tiga minggu lebih. Masih sangat kecil, ya. Ada keluhan, Bu?"

Shella mengangguk. "Mual sama muntah aja sih, dokter. Gak masuk makanan sama sekali, kadang mau cium baunya aja udah mual. Gimana ya, dokter?"

Dokter itu mengangguk. "Makan dalam porsi sedikit aja, Bu. Tapi sering. Jangan biarkan perutnya sampe kosong. Bisa juga minum air jahe supaya lebih baik. Saya kasih beberapa vitamin juga, ya, Bu,"

"Semuanya dalam keadaan baik, tapi tetap saja Bu Shella harus banyak istirahat, ya," ujar dokter itu.

Selesai dari rumah sakit, mereka akhirnya berangkat menuju kampus. Steffan melirik Shella yang terlihat senang, wanita itu beberapa kali mengelus perutnya yang masih terlihat rata seraya tersenyum.

Akhirnya mereka sampai, Shella terlebih dahulu keluar seperti biasa. Dia pamit pada Steffan terlebih dulu. Namun baru beberapa langkah, Shella merasakan ada seseorang yang berjalan di sampingnya. Sontak dia terkejut saat mengetahui siapa orang itu.

"Pak Steffan?! Kok disini? kan biasanya tunggu dulu bentar di mobil. Ini juga, lepasin. Nanti ada yang lihat," ujar Shella setengah berbisik pada Steffan. Mereka sedang berada di koridor kampus dan Steffan terus menggenggam tangan Shella.

"Memang kenapa? Kita sudah sah, saya juga tidak ada niat sembunyikan status kita mulai sekatang," jawab Steffan dengan enteng.

"Gimana kalo orang tau Pak?"

Life With My Lecturer [republished ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang