Chapter 27

747 104 54
                                        

Jeongyeon pov

Sudah sebulan sejak pepmbicaraan terakhirku dengan mina, yah meski waktu itu sikapku sangat kasar tapi dia masih tetap setia pada kata-katanya.

Makan siang yang ku pikir pada akhirnya akan berhenti datang tidak pernah terlewatkan sehari pun dan pesan yang tidak kunjung ku balas membanjiri kotak masuk ku.

Aku pikir mengabaikannya akan berhasil tapi itu ternyata sia-sia. Aku memutuskan mengirim pesan padanya untuk menyuruhnya berhenti dan kembali ke korea.

Namun itu hanya menghasilkan serangkaian pesan darinya tentang hal-hal lain. Sekarang bahkan dia selalu menunggu di luar apartemen ku setiap aku pulang kerja.

Aku masih ingat dengan jelas pertama kali aku menemukan mina berjongkok di depan pintu apartemen ku dengan kepala terselip di antara lengannya.

Hari itu sangat dingin dan entah bagaimana dia nekat menunggu ku di luar meskipun cuaca sangat buruk.

Aku sangat syok bahkan aku tidak bisa menggambarkan perasaan ku waktu melihatnya saat itu. Aku berdiri di sana selama beberapa menit bertanya-tanya apakah aku sedang berhalusinasi.

Aku memutuskan untuk menghindarinya karena di setiap pertemuan kami hanya akan ada banyak tangisan dan penyesalan.

Aku tahu itu hanya akan menyakitinya, tapi dia perlu mengerti bahwa aku bersungguh-sungguh dengan apa yang ku katakan padanya.

Jadi dengan sepelan mungkin aku berjalan dan masuk ke apartemen ku. Dia terlihat tidak begerak sedikit pun, mungkin karena dia kelelahan dan itu membuatku semakin khawatir karena meninggalkannya di luar sepanjang malam.

Keselamatan dan kesehatannya adalah prioritas utama ku, jadi pada akhirnya aku membuat teh hangat dan mengambil selimut dari kamarku. Aku dengan selembut mungkin membuka pintu dan berlutut di sampingnya.

"Maafkan aku..."gumamku sambil menutupi bahu mina dengan selimut dan meletakkan teh hangat di sampingnya.

Aku diam-diam mengamatinya selama beberapa detik dan mengulurkan tamgan untuk menyisir rambutnya. Tapi kemudian aku ingat bahwa aku tidak boleh melakukan itu dan langsung menarik tanganku kembali.

"Tolong lupakan aku..."desahku dalam hati dan berdiri.

Sakit rasanya ketika aku sendiri menyakitinya, tapi apalagi yang bisa kulakukan? Ini yang dia inginkan dari awal.

Aku berbalik untuk masuk ke dalam dan sengaja membanting pintu dengan keras agar mina terbangun dari tidurnya. Aku ingin dia kembali pulang ke rumahnya dan tidak menunggu ku di sini lagi.

Aku bisa mendengar pintu apartemen ku di gedor tanpa henti oleh mina. Itu menarik hatiku saat dia memanggil namaku dari luar, tapi aku menguatkan diriku untuk mengacuhkannya dan menghidupkan musik di dalam kamarku dengan keras.

Saat tengah malam, aku akhirnya keluar dari kamar dan melihat keadaan di luar. Aku memeriksa apakah mina masih ada di sana atau tidak.

Aku akhirnya bisa bernafas lega dan bisa meyakinkan diriku untuk tidur saat mina tidak ada lagi di depan apartemen ku.

Hari-hari berikutnya pun tidak jauh berbeda. Mina masih terus menunggu di luar apartemen ku setiap malam. Dia bahkan memastikan untuk tetap terjaga dengan harapan bisa bertemu dengan ku.

Beberapa kali dia berhasil bertemu denganku, tapi aku selalu bersikap dingin dan kasar padanya agar dia menyerah dengan keputusannya.

Tapi lagi-lagi semua itu sia-sia karena dia sama sekali tidak terganggu dengan sikap dingin dan kasarku.

REGRET (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang