#22 : Ērādīx

20 3 3
                                        

Dan rencana itu pun dimulai, lokasi perkemahan tanpa ijin itu seketika dipenuhi bunyi kain koyak, patahan berdebam kayu sanggah dan serapah tiada henti.

Ald meliukkan tubuhnya agar terhindar serangan sihir dan tebasan pedang yang silih berganti kemudian membalas dengan lemparan batu atau benda lain yang ia temukan di sekitarnya.

"Haram jadah!!" serapah salah satu dari penyerang ketika sebiji Batata yang cukup besar telak mengenai wajah. Leleran darah segar menetes turun dari hidung, sepertinya lemparan tadi membuat hidungnya patah.

Cengir Ald membuat darah mereka makin mendidih dan mengejar bagai binatang buas memburu mangsa tanpa mengetahui bahwa peran mereka bisa bertukar hanya dalam kejapan mata. Para pengejar Ald berjumlah 5 orang, terdiri dari seorang pengguna pedang, seorang pengguna belati, dua perapal mantra dan seorang lagi yang sepertinya punya kedudukan lebih tinggi dibandingkan yang lain. Mereka tampaknya cukup mahir bertarung di medan yang tidak rata, dibuktikan dengan beberapa serangan sihir maupun fisik yang menyerempet bahu dan betis Ald dengan tujuan melumpuhkan lawan.

Latar belakang pengejaran seketika berganti dari pepohonan yang renggang dengan selusup cahaya matahari menjadi hamparan pepohonan berumur ratusan tahun dengan kerapatan tinggi antar dahan dan cabang sehingga cahaya tak bisa menembus barikade dedaunannya. Talamh An Cheo, begitulah penduduk Veilspire menyebut lingkar dalam hutan dengan gidikan ngeri. Tempat inilah yang menjadi titik tujuan dari strategi Ald menghabisi para pendatang haram wilayahnya.

Gelegak amarah yang tadi menguasai kepala perlahan surut ketika menyadari lingkungan sekitar terlebih lagi ketika yang dikejar melepas suar berbau menyengat ke udara.

"APA KAU SUDAH TAK WARAS HAH!!"

"Tak sopan kalau masuk rumah orang tanpa mengetuk kan?" kedik Ald penuh senyum.

"Tuan Sauvage, sebaiknya kita cepat bereskan bocah tak waras ini dan kembali ke perkemahan!" usul sang pengawal pengguna pedang.

"Hoo, akhirnya aku bisa berjumpa dengan Tuan Sauvage yang diceritakan pemanah usil itu ...."

Celetukan itu membuat sosok yang dipanggil dengan nama itu berbalik.

"Pema-nah usil? apa yang kau lakukan pada Arcus?!" radang pengawal pengguna belati.

Reaksi yang diharapkan Ald untuk terjadi agar mengulur waktu bagi yang diundangnya untuk menampakkan diri.

"Ah, namanya Arcus ternyata ...." manggut Ald memberi jeda dalam berucap. "Dia yang menyerangku duluan dengan panah dan aku tentu saja membalasnya dengan panah yang sama dengan sedikit sentuhan Nihtsċada." tutupnya.

"Katakan dimana dia!" serang sang pengawal pengguna belati disusul oleh yang lain sementara Tuan mereka diam tak bergeming.

"Apa aku terlihat seperti orang yang bekerja di pusat informasi orang hilang?" elak Ald satu demi satu serangan yang datang keroyokan.

Mungkin karena lengah atau mungkin karena menganggap remeh lawan, Ald terhempas telak oleh serangan sihir yang dilesatkan perapal sementara Sauvage masih dengan sikap badan yang sama. Darah segar termuntah keluar kala Ald bangkit dari jerembab, tubuhnya yang masih terhuyung serta pijakan kaki melangkah asal diartikan oleh lawan sebagai kesempatan untuk menghabisi nyawa bocah itu dengan cepat dan menyerang.

"Kalian tak buang-buang waktu ya?" senyum Ald menyongsong hunusan pedang dan belati yang terarah padanya.

Tebasan pedang vertikal menjadi awal serangan yang ditujukan padanya, pedang yang digunakan kemungkinan buatan khusus karena ada denging yang tercipta setiap kali tebasan.

Denging-denging itu memberi efek kebingungan sehingga pengguna belati begitu leluasa menghujamkan belati.

Taktik mereka selama beberapa saat berhasil dengan baik, menghasilkan luka tusuk dan tebas di sekujur tubuh. Namun, petaka terjadi ketika mereka menjadi terlalu bernafsu menyiksa lawan.

...Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang