Happy birthday to me.
Doain Pechi biar jadi orang sukses, panjang umur, dan mungkin salah satu cerita Pechi bisa di pinang penerbit besar 🙂🤲
Narana mendengus geli, mengencangkan genggaman tangannya pada jaket hitam yang digunakan Sagara. Motor hitam ini semakin lama terasa lebih cepat.
Soal bagaimana dirinya bisa saling kenal dengan Sagara Adirtama adalah olimpiade—itu yang membuat mereka saling mengenal walau tak akrab.
Sudah lama sekali memang olimpiade itu dilaksanakan ketika mereka masih berada di jenjang SMP. Lagi pula siapa yang tidak mengenal Sagara Adirtama laki-laki pintar yang wajahnya seperti ketua geng motor.
"Ngga usah ngebut!" Entah sudah berapa kali Narana meneriakan hal yang sama pada laki-laki itu, namun sepertinya Sagara sedang tuli saat ini.
Rambut Narana berkibaran acak karena tak menggunakan helm. Bintang satu untuk sang pengendara, sudah memaksa tidak memberikan penumpang helm pula.
Motor hitam ini sama sekali ada tanda tanda akan memelankan laju kecepatan nya.
"Komplek gue bakal kelewatan kalo gini!" Narana mencubit pinggang Sagara cukup kencang, membuat sang empu mengerang pelan bahkan motor yang mereka naiki ini sempat oleh tak terkendali karena Sagara refleks melepas tangannya dari stank ingin mengusap bekas cubitan itu.
"Bahaya anjir! Bisa kecelakaan kita!" Namun Sagara dengan cepat menyeimbangkan posisi motor kembali, ia menghela nafas lega. Rasa sesal menyeruak isi hatinya, karena telah memaksa Narana agar mau ia antar pulang.
Gadis itu cukup pemberani melakukan hal berbahaya seperti itu, belum lagi cubitan nya yang memang terasa sangat ngilu di kulitnya.
"Makanya jangan jadi manusia budek!" Sama hal nya Narana, ia ikut menghela nafas lega, jantung nya sempat hampir copot saking kagetnya. Rasa sesal juga menyeruak isi hatinya, karena telah mengiyakan ajakan Sagara.
"Ck, mana bisa gue denger suara semut." Pada akhirnya laju motor itu memelan, sesuai keinginan penumpang. Suasana diatas kendaraan itu lenggang tak ada lagi percakakapan setelah nya, menyisakan suara kendaraan lainnya.
Kepala Narana tertoleh kekanan mendapati cafe janji palsu disana, ia menggigit bibir.
"Gue anter kesana dulu mau?" Sagara mengarahkan kaca spion pada Narana yang masih mengigiti bibir bawahnya, bahkan kepalanya menoleh kebelakang ketika bangunan cafe itu sudah tertinggal jauh dibelakang.
"Ngga, gue ngga mau." Narana menolak, mengembuskan nafas panjang, fokus lagi pada jalanan di depannya.
Sedangkan Sagara yang sempat menawarkan tadi mengendikkan bahu. "Rumah lo yang mana?" Motor hitam Sagara berbelok memasuki kompleks kecil.
Komplek tempat Narana tinggal cukup kecil, dan masih sedikit penghuni nya, karena itu masih ada satu jalan di dalamnya. Ini perumahan baru.
"Yang pagar nya warna coklat," jawab gadis itu pelan, seperti tak ingin didengar. Motor hitam itu maju sedikit lagi lalu berhenti tepat didepan rumah berpagar coklat sesuai ucapan Narana.
Narana yang hendak turun tiba-tiba terheti, menatap rumah berpetak kecil yang kondisi nya terlihat sudah buruk.
Sagara tertawa kecil melihat reaksi Narana. "Bercanda, gue tau rumah lo bukan yang ini." Sagara memundurkan motornya, berhenti di depan rumah dengan pagar yang berwarna coklat juga.
"Yang pagar nya warna coklat." Narana menghela nafas, rumah besar berpagar coklat dengan kondisi buruk itu bersebelahan tepat dengan rumah besar berpagar coklat juga.
"Katanya rumah itu bakal di gusur ya? Diganti sama rumah bagus kaya di sisi sisinya."
"Tapi yang punya nolak, dih, udah jelek gitu masih aja ditempatin ya?" Sagara menunjuk rumah itu, mendengus, lalu menyalakan motor besar nya kembali.
Narana diam, sama sekali tak menggubris perkataan—ralat—cemoohan Sagara soal rumah yang ingin di gusur itu. Matanya menatap lamat, pekarangan rumah yang dipeuhi bunga.
Rumah itu memang kecil, kondisi bangunan juga buruk, namun rumah itu memiliki taman yang indah.
"Lo ngga pergi Sagara?" Namun laki-laki pemaksa itu tak kunjung pergi, membuat Narana mengalihkan pandangan menatap wajah Sagara dengan malas.
"Makasih sama ganteng nya belom," ucap nya menjawab, sembari membalik arah motor.
"Norak banget sih pemaksa satu ini." Narana memutar bola matanya.
Tak mau ambil pusing Narana langsung memenuhi keinginan laki-laki itu." Walau setelah itu ia berpura pura muntah karena jijik karena ucapannya sendiri.
Sedangkan laki-laki diatas motor itu hanya terkekeh kecil. "Bisa bisanya Narana, cewek semanis lo sukanya sama modelan Jenderal," gumam nya pelan.
***
Cie, bosen sama part kali ini ya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Jenderal
Teen Fiction{ Angst-Hurt } { Lokal-Teen } { Jeno Lee from NCT } Hanya sepotong kisah sang pemilik senyuman terbaik; Jenderal. ❝𝙹𝚎𝚗𝚍𝚎𝚛𝚊𝚕 𝚒𝚝𝚞 𝚒𝚗𝚝𝚒 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚕𝚞𝚔𝚊, 𝚜𝚎𝚍𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚋𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝚋𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝚍𝚊𝚛𝚒 𝚙𝚞𝚣𝚣𝚕𝚎 𝚈𝚊�...
