Can you call a crazy obsession, love?
____________________________________________
"KAU! Kau adalah psikopat yang gila!"
- Violet Summer.
____________________________________________
"Satu saja gadis kecil.. Psikopat.. Atau.. Gila? Hahaha!"
- Choi...
Violet akhirnya tertidur di sofa. Aku menggendongnya bridal style, memindahkan gadis itu agar bisa tidur dengan nyaman di kamarnya. Sekujur tubuhku rasanya seperti berteriak kesakitan gara-gara aksiku sekarang ini. Tetapi, aku memilih untuk mengabaikan rasa sakit itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aku menurunkannya dengan lembut di atas kasurnya. Ingin rasanya berbaring bersamanya, memeluknya dengan erat. Tapi, aku tidak bisa.
Aku memperhatikan raut wajahnya saat tidur. Violet- terlihat sangat tenang.
"Aku berharap yang terbaik untukmu gadis kecil.. Aku mungkin tidak ada di sisimu. Tapi.. Sesekali aku akan berada di dekatmu. Di tempat dimana kau tidak bisa melihatku, namun aku bisa melihatmu dengan jelas. Setidaknya, izinkan aku itu. Kau tidak perlu khawatir, bersenang-senanglah di luar sana. A- aku berharap kamu bahagia." Ucapku menatap sendu ke arahnya.
Aku mendekatkan wajahku, dan berbisik di telinga gadis itu. "Maafkan aku saat itu.. Aku yang kasar, tidak sabaran, dan memaksamu untuk menjadi milikku."
Aku mengecup kening gadis itu, lalu memberi perlakuan yang sama pada kedua pipinya. Dan yang terakhir, bibirnya. Aku mengecupnya dengan lembut.
"Hiks." Aku mengusap air mataku yang jatuh, dan mengenai pipi gadis itu. "Ah shit.. Menangis benar-benar melelahkan."
...
DRRTTT..
Aku membuka notifikasi ponselku yang bergetar. Oh- dari Donghoon Kepsek SMA Highmoore.
Donghoon: Hey, Choi Mujin! Ada kabar baik untukmu. Kebetulan guru permanen pengganti Miss Rose tiba-tiba menghubungiku.
Katanya dia bisa mengajar lebih awal! Bahkan besok dia sudah bisa. Bagus bukan?
Aku tau kamu adalah pria yang sibuk (menjadi seorang professor di kampus dan seorang penulis! Ckck memang temanku yang satu ini sangat keren!).
Donghoon: Tapi tentu saja keputusan terakhir ada di tanganmu, bagaimana menurutmu?
Huft.. Itu bukan kebetulan Donghoon bodoh. Itu semua ulah Choi Robin, ayahku. Ucapku dalam hati.
Choi Mujin: Bagus.
Donghoon: Thanks bro.. Sudah mengajar di sekolahku. I'm gonna miss your ugly face :(
Choi Mujin: HAHA! Dasar bedebah gila. Aku tidak akan merindukanmu :)
Donghoon: Hey- kamu tidak akan berpamitan kepada anak-anak di kelas?