Violet (pov)
Ugh no! NO!!
Bukan begitu maksudku!!!
Ah ya tuhan, sekarang aku-lah yang terdengar jahat disini. Mr. Choi sudah melalui banyak hal. Dan aku malah mengucapkan hal-hal yang bisa berpengaruh kepada kesehatan mentalnya. Sudah cukup ayahnya yang membuat pria itu merasa buruk.
Aku tidak khawatir dengan pendapat ayahku yang kelihatannya, sangat mendukung jika aku berpacaran dengan Mr. Choi. Ayahku dan aku memang tidak pernah berselisih paham. Dari dulu juga, kami selalu memiliki pendapat dan pemikiran yang sama.
Sayangnya, aku tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang ibu-ku.
"Pah. Bisakah kita bicara berdua?" Tanya mom kepada dad.
"Hm? Okay."
...
Mereka berdua bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan. Setelah mereka pergi ke Aku melirik ke arah Mr. Choi yang saat ini sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Mas?" Panggilku pelan.
"Hm."
"Aku tidak bermaksud seperti itu-"
"Tidak perlu menjelaskan. Aku mengikuti kenyamananmu saja." Potong Mr. Choi dengan nada dingin.
Jawabannya tidak seperti Mr. Choi biasanya. "Huft.. Maaf.. Aku- aku benar-benar panik tadi. Di tambah dengan raut wajah ibu-ku yang seperti itu-"
"Just drop it, Vi.." Jawab Mr. Choi, masih mengabaikanku. "Aku sudah bilang tidak apa, bukan?"
"Kamu tidak bilang seperti itu. Kamu tidak mengatakan jika kamu tidak apa."
Mr. Choi menghela nafasnya berat. "Aku sedang marah, jangan berbicara denganku. Aku tidak ingin semakin marah. Biarkan saja selama 10 menit, maka aku akan kembali tenang seperti biasanya."
"Marah saja.. Tidak baik jika di pendam seperti itu-"
"Diam Vi- hentikan!" Mr. Choi mendesis menjawabku.
Third person (pov)
"Pah! Kenapa papa dengan mudahnya mendukung mereka? Selain perbedaan umur mereka.. Bukannya papah biasanya posesif ya, sama aku dan Violet? Bagaimana jika-"
"Tidak.. Choi Mujin adalah pria yang sempurna untuk gadis kita, mah."
"Huft.. Tau darimana?"
"Mungkin dari perbincanganku dengannya tadi.. Dari caranya bersikap, berbicara, dan melihat Violet? Feeling-ku tidak pernah salah mah.."
Tentu saja feeling pria itu tidak salah. Seorang dengan kepribadian yang sama, bertemu satu sama lain.
Setidaknya, salah satu dari mereka pasti menyadari detik itu juga. Akankah mereka akan menjadi musuh bebuyutan, atau sahabat karib.
Dan disini, pria itu memilih Choi Mujin untuk menjadi sahabatnya.
"Ada apa dengan itu semua?"
"Hanya saja.. Papah bisa tau, jika Choi Mujin- bukan pria biasa. Bahkan bisa dibilang bukan pria yang baik. Aku tau dari tatapan pria itu. Tatapannya- terlalu dingin untuk tatapan pria yang normal."
"Ih.. Sama sekali tidak menghilangkan rasa khawatirku, honey.."
"Tenang saja.. Dia tidak akan menyakiti perasaan Violet."

KAMU SEDANG MEMBACA
CRAZY LOVE
RomanceCan you call a crazy obsession, love? ____________________________________________ "KAU! Kau adalah psikopat yang gila!" - Violet Summer. ____________________________________________ "Satu saja gadis kecil.. Psikopat.. Atau.. Gila? Hahaha!" - Choi...