Belum sempat Alia menjawab, tangannya pun ditarik menjauh dari pintu masuk mall, "Awas ya... kalau kamu sampai nolak, tante bakal kejar kemanapun kamu pergi," ancamnya dan segera melepaskan cengkeraman itu. Baru saja dia mendapat dua masalah serius hari itu, tetapi ternyata masih adalagi satu masalah lebih serius yang bahkan ia tidak tahu asal usulnya.
"Alia! Lo dari mana?" Tanya Rani terlihat sedikit khawatir setelah menunggunya cukup lama terpatung di pintu masuk.
"Gak papa kok, gue baru aja cari kamar mandi tapi gak ketemu," jawabnya memasang wajah sedikit tersenyum.
Tanpa basa-basi lagi, mereka memasuki mall dan memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu ketimbang langsung belanja. Memang di tahun itu pembangunan mall mulai menjadi sebuah primadona bagi kota-kota besar, dan mall yang mereka kunjungi sekarang merupakan salah satu mall yang baru saja beberapa bulan dibuka. Alia terlihat takjub dengan pemandangan di dalam mall, kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri sambil menunjuk sembari menanyakan apa yang dilihatnya kepada tante Rini.
"Ini namanya elevator, kamu harus hati-hati ya," ucap tante Rini mewanti-wanti Alia yang sepertinya memang baru pertama kali naik tangga berjalan itu.
"Ma... kita ke timezone dulu kan?" tanya Rani membujuk mamanya.
"Iya deh... sekarang kita ke timezone dulu."
Saking senangnya Rani sampai memeluk sahabatnya dengan erat, maklum memang ia jarang pergi ke timezone. Bahkan Alia sendiri pun hanya bengong melihat kelakuannya, karena ia sendiri tidak tahu apa yang mereka berdua bicarakan. Setelah mama Rani memberikan dua lembar uang berwarna merah, mereka berdua berlari kegirangan seperti anak kecil berusia lima tahun yang mendapatkan gula-gula.
Daripada hanya menunggu mereka tante Rini lebih memilih untuk melihat-lihat baju baru yang barangkali membuatnya tertarik dan membelinya."Permisi pak, stand toko H&M dimana ya?" Tanyanya kepada seorang security di sekitar area permainan mall itu. Setelah diberitahu olehnya, ia segera bergegas tidak sabaran.
Terik matahari yang panas pun tidak mereka rasakan lagi semenjak pulang sekolah tadi, hari sabtu sudah menjadi waktu tersendiri bagi orang-orang untuk bersantai sembari menghabiskan waktu luang mereka sebelum kembali ke aktifitas padat di hari senin.
Sementara di sisi lain, wanita berkaca mata hitam terus mengawasi Alia dan Rani dari kejauhan. "Pokoknya lo awasin mereka berdua, khususnya yang pake baju biru," bisiknya kepada rekannya sambil menunjuk Alia. "Gue mau lo ikutin ke rumahnya sampai bener-bener tau dimana mereka tinggal," tambahnya dengan senyuman jahat sambil berlalu entah kemana.
Terlihat gulungan tiket yang sangat banyak di spot mereka bermain, meskipun Alia baru pertama kali memainkan mesin itu tetapi ia sangatlah handal dalam masalah ketepatan dan keberuntungan. Hal ini tentu sangat menguntungkan untuk mendapatkan tiket yang banyak kemudian bisa ditukarkan dengan berbagai macam hadiah.
"Udah Al, ini terakhir banget. Kredit kita dah mau abis soalnya," ucap Rani dengan keringat yang mulai mengucur selepas bermain lempar bola basket.
"Coba cari mesin yang jackpotnya masih ada deh," pinta Alia.
"Coba deh yang di pojok itu, keknya belum kita mainin dari tadi deh."
Mesin pencapit boneka terlihat kosong menunggu untuk dimainkan, memang mesin itu sedikit tidak masuk akal sehingga jarang ada orang yang mau memainkannya.
"Lo yakin nih?" Tanya Alia sebelum menggesek kartu. "Nih mesin kagak masuk akal soalnya, lo mau panggil Albert EInstein di kuburan juga gak bakal bisa dapet boneka dia," tawa renyah terlihat dari wajah mereka.
Dan bingo... selang beberapa detik setelah mesin dijalankan Alia."Yess... dapet kan," teriak Alia membuat orang-orang di sekitar terlihat memandang sekilas ke arah pojok ruangan. "Nih lo pegang bonekanya, gue mau tukerin tiket," Alia hanya mengangguk-angguk mendengar pinta sahabatnya itu. Boneka hewan Alpaca menggemaskan itu didekapnya hingga tidak terlihat hidung remaja tujuh belas tahun itu.
"Alia... sini dong," terlihat lambaian tangan Rani menyuruhnya bergegas kesana.
"Nih kita dapet 3500 tiket, lo mau ikutan pilih hadiah gak?" Tambahnya.
"Gak deh... gue boneka ini aja udah seneng banget kok," ujar Alia dengan senyum sumringah.
Kasir terlihat sibuk mengemasi hadiah-hadiah yang dipilih Rani, hingga temannya pun datang membantu. "Eh... banyak banget hadiahnya, siapa yang borong?" Bisik teman kasir itu. "Tuh bocah, sekalian aja semua di borong biar besok gak kerja lagi kita hahahaha," terdengar suara tawanya. "Trus mau dapet duit dari mana lo?" Tungkas temannya. "Lah... iya ya kok gue gak kepikiran sampek situ sih." Balasnya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Rani... Alia...," terdengar panggilan dari tante Rini. Mereka yang sedang asyik menunggu hadiah langsung menoleh ke asal suara itu.
"Tau gak ma... kita borong hadiah loh," ucap Rani antusias menunjuk ke arah kasir.
"Emang hebat ya anak mama, hadiah di mall aja di borong apalagi hati doi," goda mamanya sambil tertawa kencang.
Mereka bertiga melanjutkan belanja di swalayan yang terletak di mall lantai satu dan memang merupakan bagian paling luas disana. Setelah dua jam berkeliling kesana kemari, tante Rini memutuskan untuk menyudahi belanja hari itu. Masing-masing membawa dua kresek besar -sudah termasuk hadiah dan boneka-, sedangkan tante Rini membawa sebuah kardus besar berisikan sembako seperti beras, minyak, gula dan barang lainnya.
Di sela-sela mereka tertawa masih terlihat seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan mengintai mereka dari jauh atas perintah tante kacamata hitam. Ia terlihat santai dengan mengenakan kemeja pendek, jeans dan tentunya kacamata hitam sama seperti rekannya. Entah kenapa ia sangat ingin mengetahui letak tempat tinggal mereka terutama Alia yang memang sudah sedari awal menjadi target.
"Oke... semua udah masuk ya," ucap tante Rini menutup bagasi belakang mobil miliknya. Jam sudah menunjukkan pukul 8 tetapi suasana mall masih ramai tak kunjung lengang, juga terdengar suara pengumuman yang mengharuskan pengunjung keluar dari mall sebelum jam 9.
"Mama... kita makan dulu ya, Rani laper nih," pintanya merengek. Alia yang sedari tadi terlihat diam tidak berbicara hanya mengangguk-angguk. Mobil fortuner putih yang dikendarai tante Rini melaju kencang di jalanan malam itu, ia sudah sangat hafal dengan berbagai macam lokasi menarik di kotanya.
Selang beberapa menit mereka meninggalkan area mall, nasib baik mungkin sedang tidak berpihak kepada mereka bertiga. Rem mobil itu seketika blong menjadi tidak berfungsi tepat di sebuah perempatan lampu merah. Teriakan dari dalam mobil terdengar kencang, sedangkan tante Rini berusaha fokus untuk menghindari mobil yang sedang berhenti di lampu merah itu. Ia membanting setir ke arah kanan guna menerobos lampu merah, tapi naas beberapa mobil dari arah lain juga sedang melewati perempatan itu sesuai giliran lampu hijau.
Tinnn.
Kecelakaan beruntun pun tidak dapat dihindari, tiga mobil terlibat dalam kejadian naas tersebut. Bahkan mobil yang dikendarai tante Rini sendiri terlempar dan terguling berkali-kali karena menabrak dua mobil lainnya dengan kecepatan tinggi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alia dan Semestanya
Teen FictionJangan Ceritakan Kisah Ini!! Bagaimana rasanya menjadi jenius karena kecelakaan yang tidak sengaja? Apa yang akan dilakukan seorang remaja dengan otak super jeniusnya setelah ia menyadarinya? Diawali dengan kisah tak terduga yang dialami oleh seoran...
