23. Tersadar

280 140 29
                                        

**

Sementara itu beberapa hari yang lalu

"Mama! Winda kangen kak Al," ucap adik tiri Alia dalam sandaran mamanya.

"Percaya deh, kakakmu baik-baik saja diluar sana, dia kan pinter kalau kabur dari suatu masalah." Ujar mamanya menenangkannya dengan mengelus kepadal kecilnya.

"Sekarang Winda gak usah mikirin apa-apa ya, tidur aja gak papa kok." Tambahnya

"Nina bobok, oh nina bobok kalau tidak bobok-" Gumam mamanya.

Tokktokktokk.

Belum selesai gumaman itu membuat Winda tertidur, terdengar suara ketokan pintu di malam itu, entah tamu berwujud apa yang masih saja memaksa untuk bertamu ke rumah orang lain pada larut malam.

"Iya sebentar!" Teriak mamanya dari dalam kamar segera berjalan cepat hendak membukakan pintu untuk tamunya itu.

Ceklek.

"Maaf kami dari kepolisian, apa benar di rumah ini tinggal seorang remaja perempuan bernama Alia?" Tanya seseorang dengan jaket hitam itu, kumisnya yang tebal menambah kesan garang dalam raut wajahnya itu.

"I-iya benar pak, apa ada yang bisa saya bantu?" Jawab mama membalikkan pertanyaan.

"Dimana keberadaannya sekarang? Apa bisa dibawa kemari?" Wajah yang terlihat garang itu mulai melunak dengan bumbu senyuman manisnya.

Panjang lebar mama Alia menjelaskan bahwa anaknya sudah pergi dari rumah tepat dua hari yang lalu, ia mendadak histeris setelah bercerita tentang ini dan itu tanpa memberikan kesempatan kepada polisi untuk berbicara sedikit pun. Tetapi yang namanya tugas tetaplah menjadi tugas, sehingga ia bersikeras menjelaskan apa yang sedang terjadi kepada Alia.

"Apa?!" Sontak mama kaget.

"Anda menuduh anak saya sebagai pembunuh sekarang?" Teriaknya sedikit shock.

"Dengan berat hati memang saya menetapkan anak ibu sebagai tersangka atas pembunuhan Andre, banyak saksi yang membenarkan kejadian tersebut tetapi semua itu belum terbukti karena sidik jari yang berada di barang bukti tidak terdata. Jadi kami ingin mengambil sidik jari milik Alia di benda-benda miliknya, ibu tenang saja karena Alia belum terbukti sepenuhnya bersalah." Jelas polisi itu panjang lebar berusaha menenangkan mama yang mulai terlihat gelisah.

Dengan berat hati mama mempersilahkan polisi itu untuk masuk dan mengeledah kamar Alia, ia juga terlihat membawa beberapa benda yang terlihat memiliki sidik jarinya. Tidak lupa polisi itu mengenakan sarung tangan silikon berwarna putih untuk menjaga keaslian barang bukti, setelah ia memasukkan semua yang diperlukan kedalam kantong plastik ia segera berlalu pergi dan pamit kepada mama Alia.

Keesokan harinya polisi itu datang kembali ke rumah Alia dan berkata bahwa sidik jari milik Alia sama dengan sidik jari di barang bukti. Meskipun berat untuk memberitahukan hal itu kepada mama, tetapi tentu sudah menjadi kewajibannya sebagai aparat kepolisian. Lelaki berkumis tebal tersebut segera menetapkan Alia menjadi buronan polisi di seluruh propinsi, bahkan ia menyuruh untuk memberitakan di televisi, surat kabar maupun di brosur yang dapat ditempel di mana pun.

"DICARI SEORANG REMAJA PEREMPUAN SEPERTI FOTO DI ATAS." Begitulah kurang lebih tulisan yang tertera di atas brosur dengan tambahan "BARANG SIAPA YANG MENEMUKANNYA DIHARAP UNTUK MENYERAHKANNYA KEPADA PIHAK BERWAJIB DAN AKAN DIBERI GANJARAN YANG SEIMPAL." Sungguh sebuah tawaran yang menjanjikan.

Mungkin sebuah ungkapan yang tepat bagi mama Alia adalah sudah jatuh tertimpa tangga masuk ke selokan ditambah lagi terkena kotoran burung yang sedang terbang. Bahkan ia sendiri merasa bersalah sudah bersikap kejam kepada Alia, meskipun memang niatnya untuk menyembunyikan identitas Alia di jalanan. Ia juga mulai menyalahkan diri sendiri, berandai-andai bahwa mungkin dengan membiarkan Alia kabur dari rumah tentu membuatnya terhindar dari penculikan.

Sudah pasti pikirannya kalut sekarang bagaikan benang layangan yang saling melilit satu sama lain, ia sudah tidak segarang dulu ia juga sudah tidak sesemangat dulu. Tetapi sebagai seorang ibu yang sekarang memiliki seorang anak yang masih duduk di sekolah dasar, ia tentu harus bekerja dan mulai melanjutkan berdagang tahu petis guna mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari.

"Maafkan segala kesalahan mama ya nak, mama hanya bisa mendoakanmu dari jauh." Batinnya seringkali jika ia merasakan sesak di dada.

**

Kembali ke waktu sekarang

Tidak lama setelah ketiga mobil itu berada di jalan propinsi, mereka segera memasuki cabang jalan yang lebih kecil menuju kota dimana paman Don tinggal. Jalanan yang tadinya terlihat lenggang dan sepi, sekarang mulai terlihat ramai karena orang-orang mulai beraktifitas. Ada yang hendak pergi ke pasar untuk membeli berbagai macam kebutuhan, ada juga yang membawa mobil bak terbuka dengan dagangannya menuju pasar walaupun ayam saja belum berkokok jam 2 dini hari itu.

"Ahh, dimana ini?" Terdengar suara familiar dari belakang bak mobil jeep kedua.

"SIAL! Apakah aku sudah mati?" Tanyanya dengan posisi berbaring masih kebingungan. Semua mata segera tertuju kepadanya dan malu-malu hendak menyambutnya kembali di dunia ini.

"Bos, lo udah sadar kan?" Tanya Zidny merasa bersalah. Tubuh cungkringnya segera bergegas mendekat ke Pablo yang masih berbaring di sebelah Rafa. Wajah berwibawa itu mulai kembali ke bentuk aslinya setelah ia mulai berusaha untuk mendudukkan tubuhnya yang masih terkulai lemas.

"Aduh, leher gue sakit ya Zid." Keluh bos sambil memegang jakunnya layaknya orang yang sedang kehausan.

"I-iya bos, mungkin gara-gara tadi sih." Jelas Zidny polos.

Pablo yang lemas terlihat seperti mengingat-ingat kejadian terakhir disaat dia masih sadarkan diri, "Ah, gue lupa kalau habis berantem ama lo ya." Simpulnya dengan kepala mendongak menatap tajam wajah Zidny yang sungkan.

Beruntung ketua para pemberontak itu memiliki sifat pemaaf sehingga ia segera memaafkan anggotanya dan memulai untuk mencairkan suasana. Mereka juga tak lupa bercerita kepada Pablo tentang apa yang sudah terjadi beberapa jam terakhir ini.

Waktu berjalan sangat cepat, setelah berkelok-kelok di jalanan kota akhirnya mereka semua telah tiba di sebuah rumah milik paman Don. Dari gerbangnya saja sudah terpampang sebuah logo yang mterlihat seperti huruf P dan D, mungkin artinya paman Don karena semua orang memanggilnya dengan sebutan itu.

Hamparan taman hijau di halaman rumah menambah sensasi sejuk ketika mulai memasuki pekarangan rumah tiga lantai itu. Susunan paving yang rapih menambah keestetikan halaman rumah megah itu, ditambah lagi dengan air mancur yang terletak masing-masing di sisi kanan dan kiri.

Cittt.

"Selamat datang wahai para pemberontak!" Seruan dari paman Don serasa menggelegar.

Sorak-sorai pun terdengar dari para tamunya layaknya pejuang perang yang mendapat hadiah berupa tempat tinggal sementara di tempat megah itu.

"Jangan khawatir! Rumah ini tidak terlalu besar dan ada tiga kamar kosong yang dapat kalian bagi di sebelah sana." Ucapnya sambil menunjuk ke arah sebuah tangga naik ke atas.

Paman Don memiliki banyak koneksi dan hubungan dengan berbagai macam kalangan, mulai dari politikus ternama, para pebisnis. mitra kerjanya hingga para penjual barang-barang ilegal. Sudah pasti di rumahnya terdapat kamar tidur untuk para tamu itu, jikalau sewaktu-waktu mereka datang mengunjungi paman Don.

"Akhirnya gue bisa tidur nyenyak malam ini," ucap Tegar mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya.

Mereka terlihat segera berhamburan menaiki tangga untuk beristirahat malam itu, mobil jeep lusuh mereka pun terparkir dengan rapih di halaman rumah yang memang tidak memiliki garasi. Wajah lesu dan letih mereka terbayar dengan kebaikan paman Don yang memang sudah menantikan keberadaan mereka.

"Oh iya Shania, kamu besok pagi ke taman ya setelah sarapan. Ada pesan dari ibumu," ucap paman Don kepada ponakannya sebelum ia benar-benar pergi ke atas melewati tangga.

"Baik paman, aku akan menghampirimu setelah sarapan." Timpalnya sambil sedikit menoleh.

"Pembantuku sudah kuberitahu untuk menyiapkan makan besar besok pagi untuk kalian, jadi jangan khawatirkan hal itu." Tambah paman segera berlalu ke sisi lain dari rumahnya yang merupakan kamar tidurnya.

Alia dan SemestanyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang