Krekk.
Pintu mobil itu pun terbuka dengan sendirinya, "Tolong!" Ringkih seseorang yang masih hidup dari dalam mobil. Zidny yang melangkah semakin dekat mulai menodongkan senjatanya dan menanyakan perintah kepada Pablo yang masih berada di dekat jeep. "Bos, masih ada yang hidup." Teriaknya.
"Paman bolehkah aku minta sesuatu," ucap Alia secara tiba-tiba mengejutkan Pablo.
"E-eh iya kenapa Alia?" Tanya lelaki itu terlihat sedikit kelelahan setelah menjalani operasi yang gagal itu.
"Tolong jangan bunuh orang di dalam mobil itu, ada temanku disana." Jawabnya memasang senyuman lebar. Sontak Pablo semakin terkejut dan merubah raut wajahnya, "Apa maksudmu?" Tanyanya lagi.
"Jika kau melihat seorang remaja lelaki seumuran denganku di dalam mobil itu dan dia masih hidup, ia adalah temanku yang kabur bersamaku dari kapal Lena beberapa hari yang lalu." Jelas Alia terlihat lebih bahagia dari biasanya. Senyum manis nya segera mengembang dan semakin membuat bingung Pablo yang menatapnya.
"Nih anak makin lama makin aneh deh," batinnya sambil berjalan ke arah Zidny yang sudah tinggal beberapa langkah kaki dapat melihat mobil itu dan seisinya.
"Zid, lo balik mundur deh gue aja yang ngecek mobilnya." Perintah Pablo dengan santainya tanpa membawa senjata apapun.
Tangan dempalnya segera mendorong mobil itu seorang diri dan berhasil membalikkannya dalam sekejap, matanya memeriksa dengan cekatan kondisi para penumpang yang hanya berjumlah empat orang di dalam. Nihil, mereka semua terlihat tak bernyawa dan hanya satu orang yang masih sadar.
Keempat pintu mobil segera ia buka untuk mengeluarkan para penumpang yang masih di dalam, ia menarik satu persatu badan mereka dan menyeret menuju jalan setapak. Sedangkan yang lainnya hanya melihatnya beraksi seorang diri, orang pertama mengeluarkan darah banyak di kepala begitupun dengan ketiga orang lainnya. Tetapi ternyata salah satu dari mereka masih sadar dan memang wajahnya terlihat muda seperti apa yang dikatakan Alia, ia bahkan tampak tidak berbahaya seperti preman-preman pelabuhan lainnya dan hanya dapat mengeluarkan permintaan tolong dari mulutnya.
"Rafa!!" Teriak Alia dari kejauhan melambaikan tangannya.
Mata semua orang disana menuju kepada Alia, "Hah?! Siapa Rafa?" Tanya Arsyi yang memang berada paling dekat dengan Alia.
"Dia temanku paman aku mengenalnya." Teriaknya kepada bos tanpa memperdulikan mata curiga Arsyi yang menatapnya kebingungan.
Matahari sudah terlihat terbenam dan hari menjadi gelap sedikit demi sedikit, Alia merasa bahagia dapat bertemu dengan seorang remaja lelaki yang menjadi temannya kabur dari kapal milik Lena tetapi di satu sisi ia juga merasa bersalah sudah membuat mobil musuh itu terkena ledakan ranjau sehingga membuat celaka para penumpang.
"Alia!! Kemarilah!! Bantu bibi sebentar." Teriak bibi Ani nyaring dari kejauhan.
"Ahh!! Ternyata kalian semua disini, ada apakah ini?" Tambahnya. Arsyi segera memberi isyarat kepada Alia untuk segera pergi agar bibi Ani tidak perlu kemari. Tanpa disuruh dua kali ia segera berlari ke arah bibi Ani dan segera menarik tangannya kembali menuju kamp yang akan mereka tinggalkan.
Ketiga orang sudah ia keluarkan tapi tak ada satupun tanda-tanda kehidupan di antara mereka, padahal harapannya adalah dapat menawan salah satu personil Lena untuk menginterogasinya dengan berbagai macam pertanyaan. Tibalah giliran orang terakhir yang akan dikeluarkan oleh lelaki bertubuh dempal itu dari dalam mobil, samar-samar ia mendengar suara lirih meminta pertolongan.
"Tolong aku, aku bukan bagian dari mereka." Terdengar lirih suara penumpang keempat yang sedang dikeluarkan oleh Pablo dari dalam mobil.
"Siapa namamu nak?" Tanya bos sambil mengulurkan tangannya guna menariknya keluar.
"Ra-Rafa paman." Seketika Pablo hanya mematung kebingungan. Tetapi karena memang hari sudah mulai malam ia menyimpan dahulu pertanyaan aneh di kepalanya. Tangannya segera meraih badan Rafa dan mengeluarkannya dari sana.
Kepulan asap mobil mulai membumbung tinggi menandakan mungkin mesin mobil itu sudah rusak parah dan tidak bisa digunakan. Para pemberontak juga sudah terlihat sangat kelelahan, sedangkan mereka harus meninggalkan tempat ini sesegera mungkin sebelum Joseph menyadari bahwa asistennya gagal dalam misinya.
Tiga mayat tergeletak bersimbah darah, mungkin karena benturan yang sangat keras membuat kepala mereka seketika hancur dan tidak berfungsi total. Kemudian Pablo memerintahkan anak buahnya untuk membakar mayat-mayat itu bersama mobil mereka, tetapi sebelum itu mereka harus kembali terlebih dahulu ke kamp untuk mengambil barang-barang yang dapat mereka bawa.
"Bos mau dibawa kemana tuh preman?" Tanya Zidny menghalangi jalan ketuanya yang sedang membopong tubuh Rafa guna memindahkannya ke atas jeep.
"Valentina, kau periksa luka anak ini!" Perintahnya setelah melewati tubuh Zidny yang menghalanginya, bahkan pertanyaannya pun ia acuhkan.
"Bos!" Desak Zidny.
"Kenapa ada musuh yang harus kita selamatkan?" Tambahnya.
"Kau masih berada di pihak kami kan?" Pertanyaan datang secara bertubi-tubi membuat kepala Pablo serasa hendak meledak.
"DIAM CUNGKRING!!" Teriaknya membuat Zidny naik pitam.
Ia segera melemparkan senjatanya ke atas tanah dan menantang ketuanya untuk adu tinju dengannya, teman-teman lainnya hendak melerai tetapi terlambat. Tinju mentah sudah mendarat terlebih dahulu di tubuh cungkring milik Zidny, ia segera terjerembap ke atas tanah tanpa memberikan perlawanan.
Tubuhnya yang lincah segera kembali bangkit dan memasang kuda-kuda, terdengar samar-samar teriakan teman-teman mereka untuk melerai tapi nihil. Mereka berdua terlalu asik untuk jual beli pukulan, saling menghindari lalu saling mengenai kemudian saling menangkis. Begitulah ritme pertarungan kecil ini yang terjadi berulang-ulang dalam dua hingga tiga menit.
"PABLOO!! Jika kau masih berniat untuk menyelamatkan orang ini, berhentilah bertingkah seperti anak-anak!" Teriak Valentina setelah melihat sekilas luka yang dialami oleh Rafa.
Seketika Pablo lengah karena menengok ke asal suara itu, dan bukkk.
Sebuah Upper Cut dari Zidny telak mengenai leher ketuanya itu, ia segera terpelanting dalam sepersekian detik. Tegar yang memiliki badan paling besar ternyata baru datang karena ia tidak dapat menahan kencingnya barusan, kaget melihat apa yang terjadi ia segera mengunci tubuh cungkring Zidny.
"Lo resek banget sih kalau lagi laper," ungkapnya sambil mencapit kedua tangan Zidny membuatnya tak bisa bergerak seperti cacing kepanasan.
"Bos, lo masih sehat kan?" Tanya Tegar kepada Pablo yang terjatuh dalam posisi tengkurap.
"Bos!! Boss!!" Tambahnya dan belum mendengar jawaban.
Tubuh Zidny segera ia lemparkan hanya demi melihat kondisi Pablo yang sedari tadi tanpa jawaban, ia segera membalikkan tubuhnya dan terlihat ketuanya pingsan karena pukulan telak itu.
"AHH!! SIALAN LO!!" Teriak Carlo kesal dengan kelakuan Zidny.
"Lagian dia ngapain bawa musuh ke jeep, mau diobatin lagi biar sembuh terus bisa bunuh kita gitu kan ya." Ungkap Zidny dengan ekspresi kesalnya.
Kebingungan dengan kondisi ini, Shania mulai mengambil alih komando di geng pemberontak itu karena memang dia yang paling waras dibanding lainnya. Ia segera memerintahkan untuk mengangkut Pablo ke atas bak jeep yang terbuka dan berkata bahwa ketua mereka akan siuman dalam beberapa jam lagi.
Mobil pun segera melaju kembali menuju kamp karena melihat hari semakin gelap, Valentina yang berada di jeep kedua melakukan pertolongan pertama sebisa mungkin kepada Rafa yang sedari tadi mengucapkan terima kasih berkali-kali kepadanya. Untung saja ia tidak kesal, mungkin jika wanita berkaca mata itu kesal tentu ia akan menimpuk kepala Rafa dengan sesuatu.
"Shan, kita kemana setelah ini?" Tanya Arsyi yang menyetir jeep pertama disampingnya.
"Tenang, setelah kita kembali aku sudah punya tujuan kita selanjutnya." Ucapnya sedikit tersenyum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alia dan Semestanya
Fiksi RemajaJangan Ceritakan Kisah Ini!! Bagaimana rasanya menjadi jenius karena kecelakaan yang tidak sengaja? Apa yang akan dilakukan seorang remaja dengan otak super jeniusnya setelah ia menyadarinya? Diawali dengan kisah tak terduga yang dialami oleh seoran...
