"Alia terima kasih ya sudah menjaga Rani," ucap sosok misterius itu. Wajahnya putih bersinar mengeluarkan cahaya sehingga mata Alia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Tante!! Tante Rini kan?!" Teriaknya memanggil sosok yang mulai pergi meninggalkannya, ia yakin sekali bahwa itu memang tante Rini. Tanpa berfikir panjang ia pun segera mengejar sosok itu sambil memanggilnya berkali-kali sambil berusaha untuk meraih tangannya.
"Alia gak usah dikejar ya!" ucap sosok itu sambil menoleh ke belakang membuat Alia seketika berlutut dan terpaku di tempat. Ia seakan ingin mengejarnya tetapi tubuhnya tidak mau untuk digerakkan sedikitpun, hanya teriakan yang dapat ia keluarkan. Tangannya pun mengepal memaksakan tubuhnya untuk berdiri dan berhasil, ia berlanjut mengejar sosok itu lagi. Larinya semakin lama semakin kencang sampai suara teriakan sosok itu menghentikannya, "ALIAA!!"
"ALIAA!! ALIAA!!" Sayup-sayup terdengar suara orang-orang yang berkumpul di sekitar Alia, matanya mengerjap-ngerjap lemah dan segera terbangun dari pingsannya. "Oh, barusan hanya mimpi," batinnya dalam hati.
"Akhirnya kamu bangun juga," ucap Shania yang pertama kali terdengar di telinga Alia.
"Ke-kenapa kalian terlihat begitu khawatir?" Tanyanya polos berusaha untuk duduk di atas kasur.
Sinar matahari ternyata sudah menerobos celah jendela kamar sehingga membuatnya berkali lipat lebih terang di pagi hari, tangan lentiknya segera menutup matanya yang silau terkena cahaya. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, ternyata orang-orang sudah berkumpul mengelilinginya dengan wajah khawatir.
"Kalian kenapa? Apa yang terjadi?" Tanyanya kedua kalinya karena mereka tak kunjung menjawab.
"K-kamu barusan mengigau, banyak hal-hal aneh yang kamu ucapkan barusan." Jawab Valentina guna menenangkannya karena Alia mulai terlihat cemas dari raut wajahnya.
Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi tenang sambil memasang senyuman yang lebar, orang-orang di sekitarnya pun mulai tertawa guna mencairkan suasana yang tegang. Mereka segera berhamburan keluar setelah Pablo yang sedari tadi menguping di pintu meyuruh mereka untuk berkumpul di lapangan tengah.
**
Perkumpulan itu tidak lain hanya membahas tentang operasi yang rencananya akan dilaksanakan empat hari lagi, tetapi ada sesuatu yang sangat penting dan mereka bahas disana yaitu tentang apa yang dibicarakan oleh Alia ketika dia menggigau.
"Siapa yang percaya itu akan terjadi?" Tanya Pablo memasang wajah tenang seperti biasa.
"Ayo lah angkat tangan kalian jangan malu-malu!" Tambahnya.
Walaupun serangan misterius semalam lumayan menguras tenaganya, ia tetap bugar seperti hari-hari biasa mungkin karena fisiknya yang kuat. Sebelum ada yang memberikan respon dari pertanyaan bos geng itu, ia terlebih dahulu mengangkat tangannya sambil berkata, "Aku percaya."
Seketika gumaman dari orang-orang yang tadi berdiam diri memenuhi area sekitar, terdengar sayup-sayup mereka berbicara satu sama lain bahkan ada juga yang menanyakan kenapa ia percaya dengan omongan remaja yang sedang menggigau.
SSSSTTT.
Tangan kanannya mengepal di udara pertanda semua harus diam karena biasanya ia akan mulai berbicara tentang suatu hal penting.
"Aku pernah melihat kejadian ini sebelumnya, ketika itu aku berada di medan perang di pedalaman hutan Amerika." Jelas lelaki itu mulai tersenyum tanda optimis.
"Kami terdesak waktu itu, kehabisan persediaan, banyak yang tewas di hari itu, bahkan kami mulai kehilangan harapan untuk dapat keluar hidup-hidup dari sana entah menang ataupun kalah." Tambahnya menceritakan kisahnya dahulu ketika menjadi tentara.
"Pada suatu malam, ada salah satu anggotaku yang menggigau dan menceritakan hal-hal aneh dan tidak masuk akal, seakan-akan ia benar-benar tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Lalu aku teringat bahwa beberapa hari sebelumnya, ia sempat terjatuh dari pohon ketika bersembunyi dan kepalanya membentur batu." Wajah tampannya terlihat mulai serius sebelum melanjutkan ceritanya.
"Seorang dokter yang kala itu mengikuti misi bersama timku memberikan diagnosa kepadanya bahwa terjadi kerusakan di otaknya, dan terlihat jelas dari perilakunya. Tetapi milyaran neuron otaknya tidak diam saja melihat rumahnya rusak, mereka seperti berusaha memperbaikinya sehingga kemampuannya pun berkali lipat menjadi lebih baik." Dia berhenti sejenak menarik nafas dalam-dalam.
Mungkin penjelasannya sangat rumit sehingga membuat beberapa anggotanya tidak menangkap penjelasannya, dan sebagai ketua yang baik ia memberikan permisalan lain atas penjelasannya.
"Arsyi! Apa yang kau lakukan ketika melihat dapur rumahmu terbakar?" Tanya Pablo menunjuk salah satu anak buahnya di barisan.
"Aku berusaha untuk memadamkannya meski aku tidak pernah melihat kebakaran sebelumnya," jawab Arsyi singkat.
"Benar sekali, selama kalian merasa dapur kalian bisa diselamatkan maka kalian akan mencari caranya. Tentu semua dimulai dari hal-hal yang pernah kalian lihat, dan aku yakin kalian semua pernah melihat dan tahu bagaimana cara memadamkan api." Perjelas sang ketua membuat seisi kelompok mengangguk-angguk tanda mereka mulai paham.
"Aku yakin karena pengalaman hidupnya dulu, sel otaknya menjadi terbiasa untuk bekerja lebih keras ketika berada di bawah tekanan dan tepat beberapa hari yang lalu ketika Alia mengalami benturan, disitulah milyaran sel otaknya bekerja berkali-kali lipat lebih keras dari biasanya untuk memperbaiki kerusakan di otaknya." Tepat setelah ia selesai menjelaskan apa yang sedang terjadi pada Alia, terlihat sebuah helikopter terbang di dekat area kamp mereka.
Barisan yang sebelumnya terlihat rapih segera berhamburan menuju gudang senjata, terdengar sayup-sayup suara Pablo memerintahkan untuk segera bersiap-siap. Sebuah pagi yang cerah menjadi tegang seketika, rencana operasi penghancuran pelabuhan segera dilaksanakan hari ini karena memang posisi mereka sudah ketahuan.
Dua menit sudah cukup bagi mereka untuk membentuk formasi bertahan. Tanpa berlama-lama, Tegar segera menembakkan RPG untuk melumpuhkan helikopter yang mulai menembak dengan senapan mesin di moncongnya.
Duorr.
Suara ledakan menjadi pemandangan langit di pagi itu, helikopter terlihat oleng semakin menuju ke kedalaman hutan dan terlihat salah seorang loncat meninggalkannya dari ketinggian.
"Anak-Anak!! Persiapan naik ke jeep, cepat!!" Teriak Pablo seperti sekelompok prajurit yang akan pergi ke medan perang.
**
Pablo dan anggota kelompoknya mempercayai apa yang dikatakan Alia dalam tidurnya, ditambah lagi ia sempat menggigau bahwa Lena akan menyerang kamp mereka pagi ini. Ia juga berkata bahwa kemarin ia sempat berjalan-jalan dan melihat banyak hal aneh di kedalaman hutan, mungkin beberapa hari yang lalu orang-orang yang berada di pelabuhan mulai mencurigai akan keberadaan sebuah pemukiman di sekitar sini.
Sehingga mereka pun berinisiatif untuk mengintai dan mengawasi daerah sekitar hutan, ditambah lagi dengan menaruh berbagai macam perangkap di antara rerimbunan pohon di hutan lebat itu guna mencelakai para pemberontak. Akhirnya setelah kedatangan helikopter tadi Pablo memutuskan untuk menyergap pelabuhan dengan rencana operasi mereka.
**
Sekali-kali curhat ya... jadi beberapa menit sebelum author nerbitin part ini, ranking di #sadlife terjun payung dari 2 langsung ke 353. Jadi kesimpulanya genrenya udah gak sad lagi keliatannya dan beloknya ke science fiction atau sci-fi. Pokoknya alurnya gak mungkin bisa ketebak kok, jadi ikutin aja perkembangannya. THANKS.
Kalau ada yang bingung langsung komen sebelah sini ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alia dan Semestanya
Teen FictionJangan Ceritakan Kisah Ini!! Bagaimana rasanya menjadi jenius karena kecelakaan yang tidak sengaja? Apa yang akan dilakukan seorang remaja dengan otak super jeniusnya setelah ia menyadarinya? Diawali dengan kisah tak terduga yang dialami oleh seoran...
