Pagi itu sebagaimana yang dijanjikan paman Don, berbagai macam makanan terhidang di atas meja bundar ruang makan yang terbilang cukup megah di rumahnya. Para pemberontak terlihat makan dengan lahap sambil bercanda kesana dan kemari dengan gelak tawa yang memenuhi ruangan itu. Shania juga tidak lupa dengan janjinya pagi itu di taman, "Eh, gue mau pergi keluar dulu ya, paman Don lagi pengen ngomong sesuatu." Ucapnya berlalu pergi dari acara sarapan itu.
Tidak susah untuk mencari tempat bertemu mereka meskipun halaman rumah itu begitu luas, karena hanya terlihat satu bangku di sebelah kanan taman dengan payung di atasnya.
"Paman! Aku disini," lambaian tangannya kepada pamannya yang sudah menunggu sambil menyeduh kopi dengan selapis sandwich.
"Kemarilah nak, duduklah disampingku!" Pintanya ramah.
Sesaat setelah tubuh lentik Shania duduk di bangku itu pamannya bertanya perihal surat dari ibunya kemarin, "Apa kau sudah membuka dan membaca surat itu?" Tanya paman menyeruput kopi dari cangkirnya.
"Belum, karena ibu sudah berpesan kepadaku untuk tidak membukanya." Jawab remaja itu singkat.
"Apa sebelumnya ayahmu pernah bercerita tentang sebuah kelompok yang didirikannya?" Tanya paman lagi.
"Tidak pernah, ia hanya melatihku seperti seorang pasukan khusus dan selalu berkata bahwa aku akan membutuhkannya beberapa tahun lagi. Tetapi aku sudah tau jika bosku sekarang adalah anak buah ayah dulu ketika mereka masih bersama-sama menjadi tentara." Jawabnya panjang lebar.
"Dasar bang Mail, masih aja batu gue bilangin dulu." Ucap paman ketus dengan sedikit senyuman.
"Ibumu berpesan untuk menceritakan apa yang kau alami sekarang, dan ia juga memberitahuku supaya tidak memberikan kabar sedikitpun kepadanya meskipun kau masih hidup." Tambah paman Don mulai bercerita panjang lebar tentang sebuah kebenaran.
**
Banyak kejanggalan yang dirasakan oleh ayah Shania sewaktu masih menjadi tentara, ia memang termasuk orang yang kritis dan selalu berpegang teguh kepada kebenaran apapun resikonya. Hingga ia bertemu dengan Pablo, seorang lelaki dengan darah keturunan luar negri yang ternyata memiliki visi dan tujuan yang sama dengannya.
Lambat laun mereka segera menyusun sebuah rencana yang dianggap gila oleh teman-teman mereka, dan pada akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti dari dinas militer guna menjalankan misi rahasia mereka sendiri. Mungkin memberontak kepada pemerintah dirasa kurang etis dan elok, hingga ia menemukan bahwa ada beberapa tokoh yang mengendalikan pemerintah.
Tidak lain dan tidak bukan adalah perusahaan turun temurun milik Lena, LenCorp sekarang. Banyak orang tidak mengetahui keberadaan mereka tetapi justru merekalah yang mengendalikan hampir semua aspek kehidupan, mulai dari pemerintahan, perekonomian dan banyak hal lainnya.
Bahkan banyak hal menyimpang yang juga mereka lakukan, dan tentu tidak akan ada yang menegur ataupun menghukum mereka karena penegak hukum saja sudah bertekuk lutut kepada Lena. Untuk itulah Mail mendirikan sebuah kelompok guna memberontak dan mengungkap keberadaan LenCorp di mata masyarakat.
Kegagalan terus terjadi ketika mereka menjalankan setiap misi mereka, hingga ketua mereka pada saat itu yaitu ayah Lena menghilang diculik entah kemana. Demi meneruskan perjuangan sahabat Pablo yang juga merupakan bosnya, ia melanjutkan misi pemberontakan dengan personil-personil baru tentunya. Hanya saja yang kurang dari mereka adalah "otak pemberontakan" yang bertugas untuk mengatur semua strategi ketika misi.
Paman Don menjelaskan kepada Shania juga perihal Alia yang terlihat mengidap penyakit jenius, bisa jadi membuat seseorang menjadi sangat idiot dan bisa juga membuat seseorang menjadi sangat jenius. Tetapi pamannya menyuruhnya bungkam karena hal itu masih belum pasti hingga ia melakukan test MRI guna mendeteksi aktifitas di otak Alia.
**
"Baiklah paman, terima kasih kau sudah menyampaikan permintaan ibuku." Ucap Shania sumringah.
Wajahnya dibalut kebahagiaan sekarang lantaran sudah mengetahui tujuan hidupnya sendiri, remaja dengan baju hitam tersebut segera berlalu kembali ke ruangan dimana teman-teman sudah pasti menunggunya untuk merencanakan misi selanjutnya.
"Akhirnya aku tahu maksud ayahku, terima kasih ayah!" Batinnya ketika menaiki tangga menuju lantai atas.
Piring-piring sudah tergeletak tak karuan di atas meja, mereka semua terlihat bahagia disana. Sungguh berbeda dengan keadaan Rafa yang sekarang berada di sebuah ruangan darurat milik paman Don tentunya. Ia terlihat terluka lumayan parah karena benturan dengan atap mobil sewaktu mobil yang ditumpanginya berguling-guling. Valentina yang memang memiliki pengalaman sebagai dokter berusaha untuk menjaganya tetap stabil dan hidup.
"Di-dimana aku sekarang ini?" Suara itu terdengar lirih di telinga Valentina. Ia yang sedari tadi berada disana dan meninggalkan sarapan bersama teman-temannya mulai bangkit dari tempat duduknya menghampiri asal suara itu.
"Terima kasih tante sudah menolongku." Tambahnya dengan tangan yang sedang berusaha untuk menggapai tubuh Valentina.
"Tenang anak muda, kau pasti akan selamat. Temanmu Alia lah yang membuat kami menyelamatkanmu, jadi ucapkanlah terima kasih kepadanya." Jelas wanita berkaca mata itu menenangkan Rafa.
"Siapa Alia?" Tanya pemuda itu dengan raut muka kebingungan.
"Maaf tante, tapi aku sepertinya tidak pernah mengenal seseorang yang bernama Alia." Tambahnya sontak membuat Valentina sedikit kaget.
"Eh, apakah kau mengingat siapa ibumu?" Desak Valentina yang yakin bahwa ia mengalami amnesia.
"Sebentar, aku akan berusaha mengingatnya." Jawabnya sambil memejamkan mata berusaha untuk mengingat segala kenangan yang ada di otaknya. Beberapa detik berlalu mulai bergantikan dengan menit dan terdengar sedikit desahan kecil pertanda ia sudah menyerah untuk membuka segala yang ada di ingatannya.
"Ahh, aku tidak bisa mengingat apa-apa tante. Aku hanya mengingat bahwa namaku Rafael dan-dan-" Ucapnya terhenti sejenak.
"Dan apa?" Valentina terlihat semakin penasaran dengan kasus yang dimiliki oleh Rafa.
"Dan aku ingat jika seorang wanita bernama Lena menangkapku ketika aku bersama segerombolan orang yang bahkan aku tidak ingat siapa mereka, lalu ia membawaku ke sebuah tempat dan memberikanku suntikan cairan berwarna biru." Jelasnya membuat mata Valentina terbelalak.
"Cairan penghilang ingatan." Gumamnya dalam hati segera berlari memberitahukan informasi ini kepada gengnya yang sedang asyik makan di ruang makan.
Sinar matahari terlihat menyengat pagi itu, ditambah ia sudah mulai membumbung tinggi di angkasa sekarang. Sahabatnya, awan, terlihat tidak berani untuk menutupi pancaran sinarnya takut dia akan mengamuk. Tetapi tentu terik panasnya tidak bisa meraih orang-orang yang berada di dalam rumah paman Don dikarenakan mereka memiliki AC untuk melawan hawa panas.
Jarak yang tidak terlalu jauh antara ruang darurat tempat Rafa dirawat dan ruang makan membuat Valentina tiba disana dengan cepat. Hembusan nafasnya tidak teratur, peluh keringat juga terlihat segera berlarian menetes dari keningnya. Teman-temannya disana merasa keheranan dengan wanita berkaca mata itu. Tentu terbesit di setiap pikiran mereka, "Ngapain nih orang lari-lari, udah kayak habis dikejar maling aja."
"Bos!" Sapanya langsung kepada Pablo dengan nafas yang mulai teratur.
"Gue ada berita buruk, makanya gue pengen cepet-cepet kasih tau lo." Tambahnya membuat seisi ruangan penasaran dengan berita yang akan disampaikan oleh Valentina.
"Mending lo minum dulu deh baru cerita!" Celetuk Zidny menyodorkan segelas jus jeruk segar dengan es di dalamnya.
"Eh iya deh, mana gelasnya?" Valentina mengambil gelas yang disodorkan oleh temannya itu dan segera mengambil tempat kosong bergabung dengan gengnya.
"Jadi ternyata-"
KAMU SEDANG MEMBACA
Alia dan Semestanya
Fiksi RemajaJangan Ceritakan Kisah Ini!! Bagaimana rasanya menjadi jenius karena kecelakaan yang tidak sengaja? Apa yang akan dilakukan seorang remaja dengan otak super jeniusnya setelah ia menyadarinya? Diawali dengan kisah tak terduga yang dialami oleh seoran...
