Matahari sudah tenggelam sepenuhnya tanpa menyisakan sinarnya, kebetulan malam itu bulan sedang dalam posisi sempurna, benar-benar bulat. Cahayanya yang sejuk menerobos pepohonan lebat layaknya sebuah lampu putih dari langit, alunan suara hewan-hewan malam juga bergantian memenuhi langit. Sesekali angin berhembus kencang membuat orang-orang menutupi muka mereka supaya terhindar dari debu yang berterbangan.
"Cepat!! Cepat!!" Samar-samar terdengar teriakan garang Arsyi, ia bisa dikatakan sebagai wanita yang tegas tetapi sayangnya terlalu cuek dan dingin sehingga kurang dapat memberikan simpati kepada teman-temannya yang lain.
Waktu semakin bergulir, mereka bergegas mengemasi barang- barang penting ke atas jeep. Entah cepat atau lambat tentu para penjaga pelabuhan akan mencari keberadaan pasukan mereka yang tak kunjung memberi kabar, bahkan tak kunjung kembali ke pelabuhan.
"Cepat!! Sekarang kita pergi!!" Teriak Alia membuat semua orang memandangnya aneh.
"Ayo Arsyi nyalakan mobilnya, aku sudah mendengar ada yang datang." Tambahnya memohon dengan suara serak.
"Baiklah sudahi berkemasnya, ayo kita segera meninggalkan tempat ini." Ucap Zidny mendukung perkataan Alia. Orang-orang hanya menurut saja perkataan itu dan mereka segera naik ke atas jeep.
**
Sementara beberapa jam yang lalu.
"Bos, gak ada kabar dari Ken." Ucap anak buah Joseph kepadanya yang sedang mengisap cerutu di pinggir laut memandangi lautan senja.
"Tidak ada jawaban di radio?" Matanya melirik ke arah anak buahnya.
"Be-belum ada." Jawabnya singkat.
"Baiklah kirimkan setengah pasukan untuk menyusuri hutan dan lacak keberadaan mobil Ken terakhir kali." Perintahnya membuang cerutunya ke lautan, segera berdiri dan mengambil senjata favoritnya.
Beberapa mobil yang terparkir rapih segera diisi oleh para preman pelabuhan dengan pakaian ala baddas mereka lebih dari siap untuk melumat sekelompok pemberontak. Satu per satu iring-iringan mobil mulai menyebar ke seluruh penjuru hutan, memang hutan tersebut sangat luas dan hanya sedikit bagian yang sudah memiliki jalan setapak. Joseph sebagai pemimpin tentu berada di mobil paling depan, tangan besarnya bersandar di jendela mobil menikmati pemandangan hutan yang mulai memasuki malam.
Dengan rencana yang rapih mereka mulai memblokade jalan keluar menuju kota, tentu sangat mudah yaitu dengan mengikuti jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil. Mereka yang sudah berada di pos masing-masing bersiap dengan senjata lengkap, mulai dari roket peluncur hingga beberapa macam senapan serbu. Bisa dikatakan mustahil untuk keluar dari hutan tanpa terjadi adu tembak terlebih dahulu.
"Apa kau yakin mobil Ken tadi lewat sini?" Tanya Joseph sedikit ragu kepada supirnya. Jalanan yang gelap membuat seseorang berfikir ribuan kali untuk melintasi hutan ini seorang diri, tetapi keuntungan bagi mereka adalah dapat dengan mudah mendeteksi keberadaan para pemberontak jika mereka melihat sedikit cahaya.
"Bos! Aku melihat salah satu anggota kita." Ucap supir segera menginjak pedal remnya. Mobil bermuatan empat orang tersebut berhenti tepat di depan tubuh seseorang, tidak jelas apakah itu anggota mereka atau bukan. Para penumpang termasuk bos segera keluar memeriksanya tubuh yang ternyata masih mengeluarkan suara rintihan kesakitan, "Tolong aku, bos apakah itu kau?" Suaranya lirih memegang bagian perutnya yang terkena tembakan.
Sepertinya itu adalah salah satu anggota mereka yang tertembak saat mengejar pemberontak dan terlempar keluar dari mobil. Beruntung dia masih hidup meskipun sudah tidak memiliki tenaga lagi bahkan hanya untuk berbicara saja kesulitan.
"Dimana Ken?!" Tanya bosnya tanpa melihat kondisi anggotanya yang terluka.
"A-aku tidak tahu," rintihnya kesakitan, teman-temannya tidak bisa berbuat apa-apa hanya memandangnya dengan iba dalam kegelapan malam.
"CEPAT JAWABB!!" Teriaknya garang menarik kerah anak buahnya yang tergeletak di atas tanah itu tetapi nihil. Hanya suara erangan yang ia dengarkan, tatapan memelas ditunjukkan oleh anak buahnya yang terluka itu. Wajah lusuh dengan bercak darah kering di perut, ia mungkin akan segera kehilangan nyawa jika tidak ditolong dengan segera.
Tetapi keangkuhan Joseph yang memang dikenal sebagai pemimpin bertangan besi membuatnya bergegas pergi dari tempat itu, ia bahkan tidak mengucapkan sepatah kata pun kecuali hanya pertanyaan yang ia lontarkan tadi. Mobil kembali nyala dan berlalu seperti tidak ada yang terjadi, sekali lagi teman-temannya hanya bisa memandangnya dengan iba karena tidak memiliki kesempatan untuk menolongnya.
"Coba perhatikan baik-baik jalan di depan kita!" Perintah lelaki keras itu kepada supirnya.
"Lihatlah ada bekas ban dengan jalur zigzag, sepertinya mereka tadi sempat mengejar mobil para pemberontak melewati jalan ini." Tambahnya wajahnya tersenyum lebar segera mengumumkan di radio untuk memberikan perintah siaga kepada seluruh pasukannya.
"Bingo!" Batinnya memasang senyuman puas. Mobilnya berhenti tepat sebelum belokan ke kanan menuju markas para pemberontak. Mereka terlihat memblokade satu-satunya jalan keluar dari hutan tersebut sambil menunggu mangsa mereka keluar dari kandangnya.
**
Di sisi lain Alia dn teman-temannya sudah bersiap di atas mobil tetapi lagi-lagi Alia memberikan perintah aneh kepada teman-temannya. "Arsyi kita bisa lewat ke sisi sebelah selatan kan?" Tanyanya.
"Bisa tapi terlalu beresiko karena kita belum pernah menyusuri secara menyeluruh jalur itu." Jawab Arsyi mulai menyalakan mobil jeep bersiap untuk pergi.
"Mustahil, mereka sudah menunggu kita semua di belokan depan!" Seru Alia dengan nada tinggi.
"Ayo aku dapat menunjukkan jalur lain keluar dari hutan ini," seketika semua mata memandangnya penuh dengan rasa heran.
"A-apa kau yakin?" Tanya bibi Ani.
"Baiklah! Ayo ikuti kemana Alia mengarahkan kita," teriak Zidny bahkan sebelum Alia menjawab pertanyaan dari bibi Ani tersebut.
Mobil segera melaju beriringan menyusuri pantai menuju arah selatan seperti yang diarahkan oleh Alia, sedangkan Pablo masih juga belum sadarkan diri dari pingsannya. Lelaki itu digeletakkan disamping Rafa yang diberi obat penenang oleh Valentina untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Shan, lo udah tau kan tujuan kita kemana?" Tanya temannya di tengah perjalanan.
"Iya tenang aja, gue kenal daerah ini kok." Jawabnya menenangkan Alia supaya tetap tenang dan tidak panik.
"Eh Al, gue mau nanya dong." Ungkap Shania memandangnya dengan penuh rasa antusias.
Deburan ombak di pantai ditambah dengan siuran angin malam semakin membuat malam itu semakin indah. Bulan besar dengan bentuk bulat sempurna terlihat di langit menyapa seluruh penduduk bumi, awan yang biasanya menemaninya tidak terlihat sama sekali. Benar-benar malam cerah yang diwarnai dengan beberapa kejadian menegangkan.
"Yaudah tanya aja sih." Jawab Alia mempersilahkan Shania untuk bertanya.
Mereka berdua duduk di bak mobil jeep pertama bersama dengan Rafa dan paman Pablo, sedangkan mata Alia sedari tadi tidak bisa melepaskan pandangannya dari Rafa. Meskipun ia hanya terdiam dari tadi karena memang Valentina memberikan obat bius agar ia tenang selama perjalanan keluar dari hutan ini.
"Gue agak bingung deh, setelah kejadian itu kenapa lo jadi berubah banget?" Desak Shania terlihat mulai memegang tangan temannya itu.
"Nanti deh, lo bawa kita ke tempat aman dan gue bakal jelasin semua yang gue rasain." Jawab Alia singkat memeluk Shania yang menjadi terpaku.
"Makasih ya, udah mau jadi temen gue." Ucapnya lirih. "Rani, gue pasti cari lo habis ini." Batinnya memeluk Shania semakin erat dan mulai meneteskan air matanya.
Momen singkat ini sangat mengingatkannya kepada semua kenangan bersama Rani, entah bagaimana sekarang kondisinya. Ia tidak bisa melupakan apa yang telah sahabatnya perbuat untuknya selama ini. "Terima kasih, Rani." Batinnya sedikit memberikan rasa tenang terhadap perasaan rindunya yang membuat dada sesak.
"AL!! Coba liat sini deh, habis ini kita kemana?" Panggil Arsyi yang sedang fokus menatap lamat-lamat jalan di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Alia dan Semestanya
Novela JuvenilJangan Ceritakan Kisah Ini!! Bagaimana rasanya menjadi jenius karena kecelakaan yang tidak sengaja? Apa yang akan dilakukan seorang remaja dengan otak super jeniusnya setelah ia menyadarinya? Diawali dengan kisah tak terduga yang dialami oleh seoran...
