26. Alia's Time

260 128 65
                                        

"Sudah kuduga bahwa virus ini menggerogoti otak bagian Hippocampus, sehingga menghilangkan banyak memori penting jangka panjang yang sudah tersimpan rapi disana." Jelas paman Don.

"Adakah penangkalnya?" Tanya Valentina terlihat penasaran.

"Tentu, tapi membutuhkan sedikit waktu untuk melakukan analisis terhadap kelemahannya." 

Setidaknya untuk berjaga-jaga mereka harus mengetahui formula rahasia untuk menangkal virus buatan Lena, tanpa disuruh pun paman sudah memulai pekerjaannya. Tetapi ada satu hal yang lupa untuk ia periksa yaitu aktifitas yang berada dalam otak Alia. Ketika semua orang hendak meninggalkan tempat itu paman Don menarik tangan Alia dan membisikkan sesuatu kepadanya, "Ada sesuatu yang menarik di otakmu."

"Baik paman, aku tahu maksudmu sejak semalam. Sepertinya analisismu akan menarik," ucap Alia kepada lelaki itu.

Remaja yang baru saja dilupakan oleh teman lelakinya itu pun segera menuruti petunjuk mantan dokter untuk berbaring di mesin dan melakukan MRI dengan segera. Tidak memerlukan waktu lama hasil pun segera keluar dari mesin printer disamping paman Don. Kertas berwarna hitam dengan kilap-kilap warna putih jika terkena cahaya itu menunjukkan aktifitas otak Alia yang tidak wajar.

"Menarik!" Decaknya kagum.

"Jika dilihat dirimu sekarang hampir mirip dengan penderita LLI," tambahnya menjelaskan keadaan Alia. 

Low Latent Inhibition atau biasa disebut LLI merupakan sebuah penyakit yang melibatkan aktifitas otak yang tidak normal. Biasa juga disebut penyakit jenius karena penderitanya dapat memiliki kepekaan berlebih daripada manusia pada umumnya.

"Tapi yang lebih menarik lagi adalah hal ini terjadi padamu karena suatu kecelakaan, yang menyebabkan neuron di otakmu berusaha menambal kerusakan itu." Tambahnya lagi.

Pantas saja ia dapat memiliki indra melebihi manusia pada umumnya, penglihatannya menjadi berkali-kali lipat lebih tajam begitupun juga dengan pendengarannya yang sudah setara dengan ekolokasi milik kelelawar.

"Coba kau diam sejenak dan dengarkan suara di sekitarmu." Pintanya.

Krekk.

Nguuungg.

Ceplukcepluk.

Berbagai macam suara aneh terdengar di telinganya saat ini, mulai dari suara lalat terbang hingga suara cipratan air di kolam ikan. Masih belum puas juga paman menyuruhnya untuk melihat benda apa saja yang berada disekitarnya secara sekilas.

"Sekarang sebutkan lagi benda-benda itu dan bagaimana bentuk serta warnanya!"

Tanpa disadari, ternyata Alia menghafal semua benda yang baru saja dilihatnya walaupun hanya sekilas. Bahkan ia menyebutkan bentuk dan warnanya sedetail-detailnya, hingga membuat paman Don berdecak kagum melihat tingkahnya. Akhirnya setelah sekian lama Alia terlihat sangat bahagia dengan kemampuan barunya.

"Ahh!" Teriak melengking Alia kesakitan, tubuhnya segera menunduk di atas lantai sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba pening.

"Alia?! Cobalah tenang sejenak. Tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan." Perintah paman Don segera mendekatinya.

"Paman, aku mendengar banyak sekali suara di kepalaku. Bahkan aku mendengar suara tikus berdecit di sela-sela atap rumahmu." Keluh Alia menutupi telinganya sehingga membuatnya lebih baik.

"Sebelumnya ia pasti tidak menyadari bahwa otaknya sudah menjadi super sekarang," batin paman sambil memikirkan cara untuk mengurangi suara yang masuk ke telinganya.

Tubuh senja itu mulai melangkah pergi keluar ruangan mencari-cari sesuatu yang dapat dipasangkan ke telinga Alia. "Ah, mungkin ini dapat meredakan suara yang masuk ke telinganya." Gumamnya segera kembali menghampiri Alia yang masih menunduk di atas lantai ruangan MRI.

Sepasang alat pembantu pendengaran dipasangkan tepat di telinga Alia dan ia juga mengatur frekuensi suara yang dapat masuk ke alat ini, supaya Alia tidak secara tiba-tiba mendengar decitan tikus di loteng. "Sudah sekarang coba dengarkan sekelilingmu."

Raut wajah lega segera terukir indah di wajah hangatnya, anggukan disertai dengan senyuman lebar membuat paman menghela nafas lega.

"Terima kasih paman." Ujar Alia berterima kasih sambil memeluk perut yang sedikit buncit itu.

"It's your time! Sudah saatnya kau membantu mereka anakku, sekarang kau tidak akan kebingungan lagi dengan tugasmu di kelompok ini. Cukup gunakan otakmu untuk mengatur segala misi yang ada, tentu mereka membutuhkan sang masterplan dibalik misi ini." Nasehat paman dalam dekapnya.

Meskipun kini pendengaran Alia terbatas, tetapi setidaknya ia memiliki mata tajam dan ingatan yang kuat untuk membantu timnya dalam membangun strategi brilian.

**

"Lena sepertinya Joseph masih gagal memburu kelompok itu," ucap seorang lelaki tampan dengan kacamata hitam, Rendy.

Siang itu di sebuah cafe di daerah ibukota, ia melaporkan segala hal dengan apa yang terjadi di salah satu aset berharga milik perusahaannya yaitu daerah pelabuhan. Wanita di depannya hanya menyimak tak percaya, jika ada sekumpulan orang yang memiliki rencana gila untuk menghancurkan dominasi perusahaan turun temurun keluarganya.

"Apakah kita harus mengerahkan pasukan dari ibukota?" Desak Rendy setelah menjelaskan panjang lebar laporannya.

Senyum licik kembali hadir di raut wajah mulusnya, tentu Lena sangatlah cocok menjadi pemeran wanita di film-film vampire dengan pasangan kekasihnya yang tampan. Wajahnya terlihat tenang tanpa gelisah sedikitpun seakan-akan ia mengetahui gerak langkah musuhnya.

"Terlalu mencolok jika memburu mereka dalam jumlah kawanan besar, segera kirimkan virus penghilang ingatan dalam bentuk bom asap ke pelabuhan dan biarkan Joseph dan anak buahnya bekerja semaksimal mungkin." Ucap Lena memberikan perintah langsung kepada Rendy.

"Tapi bagaimana jika gagal?"

"Tenang saja, kita masih mempunyai kuda Troya." Jawabnya mengakhiri pertemuan singkatnya dengan tangan kanannya itu.

Kuda Troya sendiri merupakan sebuah istilah, merujuk kepada senjata pamungkas yang dikeluarkan terakhiran. Mungkin juga biasa disebut sebagai kartu As yang jarang dikeluarkan pertama-tama ketika bermain kartu.

Dibawah teriknya matahari di ibukota, Rendy berjalan melewati orang-orang menuju mobilnya. "Sialan! Emang Mail nih jadi biang kerok deh." Gumamnya memberikan sumpah serapah kepada ayah Shania.

Mobilnya terlihat melesat membelah keramaian jalanan ibukota, tidak sabar untuk segera tiba di markasnya untuk mengecek perkembangan virus buatan Lena tersebut.

**

Sedangkan kondisi di pelabuhan tibak begitu jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Joseph sedari tadi pagi membentak-bentak anak buahnya yang bertugas di bagian peretasan. Maksudnya ia ingin melacak keberadaan sekelompok pemberontak itu melalui satelit, tetapi kemampuan anggotanya masih kurang dari kata sempurna untuk meretas benda secanggih itu.

Hamparan biru lautan menjadi satu-satunya pemandangan indah di tengah rasa gelisah yang melanda kepala Joseph. Ia mulai mati langkah untuk menemukan keberadaan musuhnya yang meresahkan, tetapi keajaiban masih berpihak kepadanya.

"Joseph! Kami sedang mengirimkan pasokan bom asap yang berisi virus penghilang ingatan, disitu juga terdapat masker supaya anggotamu tidak terkena dampaknya." Terdengar jelas ucapan seorang lelaki dari telepon milik Joseph setelah ia mengangkatnya.

"Baik bos, kami akan menunggu disini, akan tetapi ada satu kendala lain." Jawab bos preman tenang.

"Tenanglah, kami sudah memindai posisi terakhir mereka melalui satelit, segera akan kukirimkan." Ucap suara dibalik telepon itu memberikan harapan yang ditunggu-tunggu olehnya.

Tut.

"Anak-anak bersiaplah akan ada helikopter yang membawakan kita logistik tempur, segeralah bersiap-siap karena kita akan memusnahkan mereka semua malam ini." Teriak Joseph lantang disaksikan oleh matahari sore yang panasnya menyengat.

Di balik tetesan peluhnya, ternyata masih ada rasa semangat membara di dalam jiwanya. Beruntung atasannya lebih cerdas sehingga memberikan kesempatan kedua untuk memangsa buruannya yang sekarang sedang bersembunyi. Para pemberontak tentu berada dalam bahaya sekarang, karena mereka tidak tahu jika malam ini tempat persembunyian mereka akan disergap habis-habisan.

Alia dan SemestanyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang