TIGA - DELAPAN MATA

604 83 0
                                        

24 Desember 2018, 23.09 pm.

"Ya apa?"

"Besok gua mau ke Palembang, lu mau ikut ga?"

"Ngapain?"

"Ya liburan lah dongo. Tanggal merah coy."

"Bodo, gua ga ikut."

"Sans bro Bunda kan ada yang jagain."

"Udah lu berangkat aja, gua ga ikut."

"Tapi gua gabisa tanpa lu lah. Kita kan 2 raga yang tidak bisa dipisahkan kaya upin dan ipin"

"Alay lu."

"Ayolah, gua pesenin tiket ya."

"Ga."

"Batu! Lu lagi ngapain belom tidur?"

"Kepo lu."

"Yaudah gua mau packing dulu berangkat subuh soalnya. Lu jangan banyak gadang cuicon, inget darah rendah."

"Iya anjir bawel."

"Bye bye cakep hahahahaha."

"NAJIS FIK!"

Telpon dimatikan secara sepihak di seberang sana. Malam ini tidak banyak kegiatan yang dilakukan Zweitson, hanya sekedar ngopi dan membaca novel yang belum selesai dia baca.

"Seneng banget punya keluarga utuh dan pergi liburan, hhhmmm."

Terlihat sudut kanan bibir Zweitson terangkat seolah ingin tersenyum, tapi tak didukung hati yang terasa sakit. Akhirnya yang keluar seperti menyepelekan kondisi yang dia derita.

Hatinya sedikit tak tenang sekarang, ya hanya sedikit saja. Kembali dia membaca novelnya dan ternyata ini tidak membantu untuk membuatnya tenang. Fokusnya hilang dan niatnya untuk tidur saja terhalang kafein yang tadi dia minum.

Kini kakinya melangkah ke arah tangga dan ingin kembali ke kamar tidur miliknya. Sedari tadi Zweitson menghabiskan waktu di ruang tengah dengan hanya tumpukan novel didekatnya.

Selalu saja sebelum sampai di tempat tujuan, kakinya akan diam disalah satu pintu yang ingin dia buka. Matanya hanya bisa menatap pintu tanpa bisa melihat isi didalamnya seperti apa. Badannya akan selalu tegak layaknya tameng para prajurit Negara. Walau terkadang akan ambruk diamuk kenyataan yang sampai sekarang terus menggerogoti ke warasannya.

"Good night Bunda."

***

25 Desember 2018, 10.20 am.

Sudah terlalu siang untuk seorang manusia dikatakan bangun pagi. Zweitson yang baru bangun sedikit merasa pusing karena rasanya baru beberapa jam saja dia tidur. Diambilnya kacamata bulat yang ada di meja untuk menetralkan pandangannya.

Pertama kali yang dia periksa adalah ponselnya. Banyak chat dari Fiki yang 90% hanya memanggil namanya. Tanpa ingin membuat Fiki khawatir Zweitson membalas chat itu bahwa dirinya baru bangun tidur dan dalam keadaan baik-baik saja.

"Baik- baik saja? Haha sejak kapan seorang Zweitson Darelano baik-baik saja?" Ucap Zweitson.

Setelah hampir setengah jam Zweitson merapihkan dirinya agar terlihat seperti anak pada umunya, akhirnya dia keluar kamar tidur untuk melakukan aktivitas yang sama sekali belum ada dalam pikirannya. Biasanya jika ada Fiki pasti akan ada saja kegiatan dengan bocah manja itu.

"Pintu kamar bunda terbuka? Bunda dimana ya?"

Zweitson celingukan, pandangannya menyisir ke kanan dan kekiri takut Bunda melihatnya. Tak lama dari itu, datanglah salah satu ART yang bekerja dirumah Zweitson.

ZWILLING (DEZ14'02,SAMSTAG)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang