Selasa, 08 Januari 2019, 20.20 pm.
Zweitson sedikit merapihkan kamar tidurnya yang berantakan. Sudah pasti karena ulah Fiki yang sedang sakit pun masih aktif tidak bisa diam. Setelah selesai Zweitson lanjut membuka paket yang tadi siang dia terima.
"Wellcome to my home alat-alat lukisku."
Ya paket itu berisikan alat-alat lukis yang beberapa hari lalu di belinya lewat online. Zweitson membereskannya ke meja kosong yang ada di kamar tidurnya ini. Meja khusus yang dia beli untuk hobi barunya ini.
Zweitson duduk di kursi tempat melukisnya sekarang. Dia mulai mencoretkan sedikit demi sedikit cat lukis pada kanvas. Saat sedang asik melukis, tiba-tiba saja Fiki mengigau memanggil-manggil namanya. Bukannya khawatir, Zweitson malah tertawa dengan kelakuan adik beda rahimnya ini.
"Son jangan pergi."
"Son, son, mau es krim strawberry."
"Pempek gua jangan di habisin Son."
Zweitson beranjak dari tempat duduknya dan mengecek suhu badan Fiki.
"Gak panas."
Kembali Zweitson pada aktivitasnya, yaitu melukis. Sebenarnya Zweitson tidak tahu apa yang akan dia lukis, hanya yang terlintas di pikirannya saja yang dia coretkan dikanvas tersebut. Dasarnya saja Zweitson berdarah seni, jadi apapun yang dia lakukan selalu menciptakan karya seni yang hitungannya bagus.
"Lu tau gak Son? Gua tuh ganteng banget."
"Idih lagi tidur juga pedenya gede hahahaha."
***
Rabu, 09 Januari 2019, 10.04 am.
"Bosen juga dirumah, mana Fiki kerjaannya tidur mulu."
"Udah lama gak ke toko buku. Asik kaliya kesana."
Hari ini Zweitson tidak masuk sekolah karena permintaan Fiki. Si manja itu merengek meminta Zweitson untuk tidak pergi sekolah, terpaksa Zweitson menuruti permintaan si pipi bakpau itu.
Setelah selesai siap-siap Zweitson bergegas pergi ke toko buku dengan di antar mang Imbon. Sudah lama dalam ingatannya tidak pergi kesini. Terakhir dia pergi kesana natal tahun lalu.
Dia ingat sebentar lagi Ujian Nasional, Zweitson lantas membeli buku-buku yang di perlukan untuk persiapan Ujian Nasional nanti. Tak lupa juga dia membeli untuk adiknya Fiki. Akan marah Fiki jika dia tidak dibelikan buku yang sama dengan yang Zweitson punya.
Setelah memilih-milih buku dan membayarnya, Zweitson duduk di tempat yang disediakan. Bukannya membaca buku yang dia beli tadi, Zweitson malah membaca buku aneh itu kembali. Mungkin masih penasaran.
Saat sedang asik membaca, tiba-tiba seseorang menyodorkan Zweitson kertas dan pulpen. Zweitson kaget dan melihat orang yang memberinya kertas tersebut.
Setelah Zweitson tau siapa yang memberinya kertas tersebut, lantas Zweitson membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.
Apa kabar?
Zweitson yang bingung kembali melirik ke arah sang pemilik kertas dan pulpen tersebut yang posisinya sekarang sudah duduk. Yang di lirik hanya memberi kode seolah dia ingin Zweitson menjawab pertanyaannya lewat tulisan kembali. Akhirnya mereka berdialog dengan bantuan kertas.
Kenapa ditulis?
Jawab dulu
Gue baik
Lie
Why?
Keliatan dari mukanya
KAMU SEDANG MEMBACA
ZWILLING (DEZ14'02,SAMSTAG)
Teen FictionCerita ringan, tentang sesosok anak yang tak pernah mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ibunya depresi sedangkan ayahnya seorang yang tak cukup mengerti tentang tanggung jawab. Zweitson Darelano, ini adalah kisahnya. Jangan terlalu mengas...
