Stepsister
By : Yoora Kin
Hari yang biasa. Semua orang beraktivitas seperti hari-hari lainnya. Hingga seluruh anggota keluarga kembali berkumpul malam hari nya di rumah. Jeno menenteng kantong sampah keluar rumah. Hari ini adalah tugasnya membuang sampah. Iren yang mengatur mereka berdua bergantian melakukan tugas itu setiap hari. Jeno memisahkan sampah berdasarkan jenisnya.
Tak...
Sesuatu jatuh, meleset tidak masuk ke tempat sampah. Jeno mengerjit mengenali benda itu. Dia tampak berpikir sebentar hingga ekspresi terkejut muncul begitu saja di wajahnya ketika dirinya selesai memproses pikirannya.
"Ini kan..."
Jeno menyimpan benda itu ke kantong hoddie nya. Memasukan asal sisa sampah tanpa peduli lagi jenisnya dan langsung berlari memasuki rumah. Tujuannya kamar Karina.
Karina sampai mengumpat karena Jeno membuka pintu kamarnya dengan keras bahkan membanting pintunya untuk menutup kembali.
"Lo tiap masuk kamar gue bawaannya mau ngajak tawuran terus, hah ? Nggak sekalian lu copot aja tuh pintu ?", omel Karina.
"Jelasin ini apa ?!", ucap Jeno melemparkan benda dari kantongnya.
Karina menatap benda itu dengan bingung. Dia tahu itu apa tapi untuk apa Jeno bertanya padanya.
"Ini ? testpack kan ? itu loh yang buat cek hamil", jelas Karina.
"Gue juga tahu itu apa dan buat apa. Yang gue maksud itu kenapa nggak kasi tahu gue ?", ucap Jeno meninggikan suaranya.
Karina malah memasang ekspresi bingung. Melihat dua garis yang tertera disana. Dan seketika seakan ada jawaban yang muncul di otaknya.
"Bukan punya gue !", ucap Karina agak kesal. "Gue nggak hamil bego !", lanjutnya.
"Lo nggak usah ngelak. Udah ketahuan juga ! apa susahnya sih bilang ke gue ? kita kan udah pacaran sekarang"
"Gue bilang bukan yah bukan. Lo batu banget sih jadi orang !", kesal Karina. Percayalah seisi rumah pasti sudah mendengar perdebatan mereka samar-samar.
Ceklek...
"Ini ada apa lagi ? kenapa lagi kalian berantem ?", suara bass itu membuat keduanya membatu seketika.
"Ah... itu... bukan apa-apa kok Yah !", elak Jeno.
Donghae semakin menyipitkan matanya menatap mereka curiga. Karina yang akhirnya sadar situasi langsung menyembunyikan benda keramat di tangannya. Tapi siapa sangka mata sang Ayah lebih cepat.
"Itu kan ?"
Terlambat sudah. Karina menghela nafas frustasi. Lihat saja ! dia akan menghajar Jeno setelah ini.
"Ada apa ?"
Dan hal buruk lain berdatangan. Si Nyonya rumah paling ditakuti juga menampakan diri. Habis sudah !
"Sini !", perintah Donghae dan Karina pasrah saja menyerahkan sumber masalah itu. Jeno sampai melotot melihatnya.
Tak...
Ketiganya menoleh ke arah si sulung Lee yang tiba-tiba saja berlutut ke arah kedua orangtua nya. Ada angin apa ini ?
"Maaf ini salah Jeno ! aku yang akan tanggungjawab", ucapnya tiba-tiba membuat Karina panik.
"Bukan ! bukan punya aku, Ayah... bunda ! Jeno salah paham !"
Iren ingin bicara tapi Donghae memberi kode untuk diam.
"Ayo jelaskan Lee Jeno !", titah sang Ayah dengan nada dinginnya.
"Kita pacaran ! aku sama Karina. Aku... aku minta maaf mengecewakan kalian. Tapi aku serius dengan Karina ! aku..."
Iren tampak syok dengan pengakuan yang sangat tiba-tiba itu. Karina pun menunduk menahan keinginan untuk menjambak dan menendang si bodoh yang terlalu banyak drama itu.
"Sudah selesai drama nya ? akhirnya kalian mengaku !"
Perkataan yang lebih mencengangkan dari mulut si kepala keluarga.
"Ayah tahu ?", tanya Jeno masih terkejut.
"Tentu saja ! Kamu pikir uang siapa yang kamu pakai buat nyewa kapal pesiar ? ck, bahkan Ayah nggak kepikiran nyewa kapal pesiar waktu lamaran Bunda kalian", ucap Donghae membuat Jeno dan Karina melongo.
"Kita lanjut bicara di ruang tengah !", suara sang Bunda mengembalikan suasana tegang.
Seisi keluarga itu duduk bersama di ruang tengah. Suasana masih tegang. Karina dan Jeno sama-sama menunduk takut dengan tatapan mengintimidasi milik Iren.
"Berhubung kalian berdua sudah melihat ini ! ini milik Bunda", ucap Iren membuat Jeno dan Karina terkejut bukan main.
Pletak...
"Udah gue bilang kan bukan punya gue !", kesal Karina.
"Wait ! punya Bunda ? maksudnya gimana ?", tanya Jeno memastikan.
"Selamat ! kalian berdua akan punya anak !", jawab Donghae heboh membuat mereka berdua melongo. Hal gila lain yang tidak diinginkan akhirnya menjadi kenyataan.
"Nah... sekarang giliran kalian ! apa maksud Jeno tadi ? tanggung jawab ? kalian sudah sejauh-"
"Bukan Bunda ! bukan begitu ! si bodoh ini salah paham !", potong Karina tidak ingin memperburuk situasi.
Jeno ? dia hanya bisa menunduk dan memaki dirinya sendiri.
"Karina. Kita perluh bicara berdua !", titah Iren dan langsung meninggalkan ruangan itu diikuti Karina.
Sementara itu, Jeno menghela nafas. Dia memang akan mengaku pada orangtua mereka. Tapi bukan sekacau ini. Sungguh dia merasa sangat bodoh saat ini.
"Hah... anak bodoh ini !", ucap Donghae menggeleng melihat keadaan mengenaskan putranya itu.
"Ayah... akan bantu Jeno kan ?", Jeno memelas.
"Ck, tanpa kamu minta Ayah udah bantu kalian. Susah-susah Ayah yakinkan Bunda kalian supaya bisa mengerti dan menerima hubungan kalian. And look... kamu malah keceplosan", jawab Donghae membuat Jeno semakin menyusut di tempatnya.
"Lebih baik kamu diam dan nggak usah ngelakuin hal bodoh lagi ! percaya Karina bisa mengatasi Bunda", lanjut Donghae.
.
.
.
.
.
.
.
.tbc
KAMU SEDANG MEMBACA
Stepsister | JENOXKARINA (END)
FanfictionJeno menerima keputusan Ayahnya menikah lagi. Senang hati menerima kehadiran wanita yang akan mengisi posisi Bundanya yang telah pergi. Tapi ada yang tidak disukainya dari pernikahan itu. Karena Bunda barunya datang sepaket dengan adik baru juga. Si...
