extra part

109 18 45
                                        

ps. semua extra part isinya flashback selama Harry di London yaa, dan pake sudut pandang Harry

--------------------------------

Harry's PoV

Gak terasa udah sebulan gue di London. Kangen banget sama Ash. Walau kita masih sering chat sama telepon, tapi tetep aja kurang. Rasanya pengen peluk dia sekarang. Kangen banget sama kebawelannya. Kalau lewat video call doang, ga keliatan bagusnya mata Ash.

Sekarang jam 10 pagi. Gue berencana main keluar, sekadar cari angin aja. Sama beradaptasi di London. Gue pun nyamperin mama yang lagi duduk di ruang tamu. Keliatannya dia lagi teleponan.

Gue berdiri di depan mama sambil membuat isyarat pake jempol dan nunjuk ke luar. "Aku keluar dulu ya, Ma," ucap gue tanpa suara. Takut ganggu.

Mama natap gue, terus nahan gue. "Eh ini ada Harry. Bentar ya aku loudspeaker."

Gue yang bingung cuma bisa nurut.

Terdengar suara dari ponsel mama yang manggil gue. Suaranya kayak gak asing.

"Harry, apa kabar?" tanya orang di seberang telepon.

Gue natap nyokap bingung. Karena nyokap peka, dia langsung bilang 'maminya Ash' tanpa suara.

Gue ber-oh ria sambil menjawab. "Uhm, baik, Tan. Tante gimana kabarnya?"

Maminya Ash ketawa renyah di sana. Dari sini kedengeran banget aura bahagia dia.

"Tante baik juga. Kebetulan tadi tante sama mama kamu lagi ngobrolin sesuatu, tentang kamu sama Ash."

Gue mengernyit bingung, sambil natap mama sekilas. "Ngobrolin apa tuh, Tan?"

"Tentang suatu rencana," jawab maminya Ash.

Feeling gue mulai ga enak nih. "Rencana apa?"

"Jadi gini, Har. Kemarin Ash cerita kalau dia gak mau lanjut kuliah. Dia mau langsung kerja aja. Katanya males belajar. Nah tante gak setuju dan omelin dia. Tapi karena dia keras kepala, jadi dia nolak abis-abisan dan maksa gak mau kuliah."

Gue masih diem dengerin penjelasannya.

"Sebelum tante sampein rencananya, janji dulu ya kalau kamu bakal setuju."

"Tergantung, Tan hehe," kekeh gue. Feeling gue bener-bener gak enak sekarang.

"Janji dulu, Har. Ini demi kebaikan kamu sama Ash juga kok," ucap maminya Ash maksa.

Nyokap gue tiba-tiba nimbrung. "Ikutin aja, Har."

Akhirnya gue nyerah. "Oke. Apa rencananya?"

"Kamu lost contact sama Ash. Block semua media sosialnya supaya dia gak bisa ngehubungin kamu."

Gue melotot. "Hah?! Gak bisa gitu dong, Tan. Nanti–,"

Ucapan gue dipotong sama nyokap. "Nurut, Har. Ash gak akan bisa fokus belajar kalau ngehubungin kamu terus. Dia dari kemarin minta maminya buat nyusul ke London. Maminya capek denger ocehan dia. Bukannya mau misahin kalian, tapi kita pengin kalian belajar dari hal ini. Lagian kalau jodoh juga bakal ketemu lagi."

Sedih banget anjir. Kenapa harus gini coba? Maksudnya, gue kan di London ga sebulan dua bulan. Dua tahun woy. Ya kali dua tahun lost contact sama Ash.

"Lagian nanti tante bakal sering kabarin kamu kok tentang Ash. Gak usah khawatir. Tante juga bakal sering-sering kirimin video atau foto terbaru Ash ke mama kamu, nanti mama kamu sampein ke kamu deh."

"Tapi, Tan, kayaknya aku gak bisa deh," ucap gue sedih.

"Bisa. Tante juga pengin ngetest Ash. Dia setia atau nggak. Soalnya dari seumur hidup tante, dia selalu cerita banyak cowok yang dia sukain. Tapi pas ketemu kamu, Ash jadi gak pernah cerita tentang cowok lain. Selalu kamu tiap hari. Kalian kan udah bikin janji buat jaga hati, tante takut Ash kurang kuat imannya. Nanti kalau seandainya emang dia berpaling dari kamu, tante langsung ngambil tindakan."

Gue diem buat mencerna omongan maminya Ash. Menurut gue Ash kayak gitu karena dia belum nemu orang yang pas buat netap di hatinya. Bukannya gue geer kalau gue udah pas buat dia, tapi kalau denger dari cerita nyokapnya ya gitu. Tandanya gue udah pas buat Ash.

Nyokap gue nambahin. "Gitu juga sama kamu Har. Di London banyak cewek cantik. Jangan macem-macem. Kalau sampe mama denger kamu gandeng cewek lain, pala kamu mama tempeleng."

Gue masih diem buat mikirin ini semua.

"Gimana, Har?" tanya maminya Ash.

Karena kalau dipikir-pikir ini demi kebaikan gue sama Ash juga, kayaknya gak papa.

"Boleh deh," jawab gue gak rela.

Nyokap gue (dan gue yakin nyokapnya Ash juga) senyum lebar. Heran, jahat amat bahagia di atas penderitaan anak.

"Berarti kamu boleh ketemu Ash kalau udah lulus S1 ya," ucap mama tiba-tiba.

Gue melotot. "Hah? Yang bener aja? Berarti lebih dari 2 tahun dong, Ma?"

"Iya, Har. Sebagai motivasi buat kalian biar lulus cepet."

Ini nyokapnya Ash sama nyokap gue kayaknya udah agak gila. Tapi yang lebih gila gue, karena dengan begonya gue setuju sama semua rencananya.

-----------------------------------
HAI HAI HAIIIIIII

AAAAAAAA KANGEN BANGET SAMA CERITA INI

Gue baru baca ulang cerita ini tadi, dan tiba-tiba kepikiran buat bikin extra part. Maaf ya kalau jelek, soalnya ini sekali nulis gitu😭 Bahkan cuma beberapa menit ngetiknya wkwkwkwk. Karena terlalu excited jadi langsung gue post deh.

Kalau rame, gue bakal lanjutin dari sudut pandang Harry. Jangan lupa vomment gais, bayyy.

edit: gue publish ini tanggal 24 maret, which is SELAMAT MEMBADUT BESOK. YOK NANGIS BERJAMAAH:')

Indomaret // Harry StylesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang