Hawa pasar begitu sumpek akibat lalu-lalang pembeli yang berdesakan. Barang dagangan bercampur dengan aroma tubuh orang-orang yang tak mengenal wewangian. Dari awal kesasar di sini, selalu saja aku diusik bau yang membuat hidungku kembang kempis. Namun, sekelebat aroma nangka membuat perutku melilit dan air liurku serasa ingin menetes.
"Wira, aku ingin makan nangka," ucapku sedikit merengek tanpa sengaja.
"Nanti kita curi di ladang orang. Sekarang aku tidak punya duit," balasnya.
Kurogoh saku celana panjang kolorku, menemukan selembar uang berwarna biru yang kemudian kutunjukkan di depan wajah Wira, membuatnya memundurkan kepala terkejut sampai menjedot dahiku.
Aku mengaduh, sebelum ia berceletuk, "Apa itu?”
Ia memperbaiki gendongannya sembari mempercepat langkah menjauhi penjual buah-buahan. Namun, kecepatannya kurang mujur akibat padatnya pasar.
Aku kembali membuka suara setelah kami keluar dari pasar dan melintas di jembatan. "Aku kepingin nangka, dan kau bisa gunakan uangku."
Wira merenggut uang itu, menelitinya hingga dahinya mengerut. "Dari mana kau mendapatkannya? Setahuku, Gulden Hindia Belanda tak ada yang seperti ini."
"Itu Rupiah."
"Apa maksudmu?"
Aku merenung. Jadi benar bahwasanya tanah ini bukan Indonesia! Masa iya, aku kesasar di tempat yang katanya Hindia Belanda? Ini pasti cuma mimpi, tetapi nyeri di pergelangan kakiku terlalu nyata.
Aku tetap mengunci mulut karena pemuda itu pun tak terlalu acuh. Kupandangi jalanan setapak yang membentang sejauh mata memandang, di antara rumah penduduk yang saling berjarak. Wira tak menyusuri jalanan itu, tetapi mengambil jalan tikus di balik semak tetehan. Kakiku tergores ranting yang mencuat dari sisi kanan, membuat denyutnya kambuh. Sementara itu, perhatianku menangkap lengan baju Wira yang sobek dan dirembesi gumpalan merah gelap.
“Wira, lenganmu terluka.”
Ia berdecak. “Goresan sepele.”
Sambaran ranting yang mengenai kepalaku membuat perhatian pada lengannya teralih. Aku mengelus pelipis yang lecet kemudian meringis ngeri.
“Makanya jangan bengong,” celetuk Wira yang membuatku mengerucut sebal.
Sehabis itu, aku memperhatikan jalur yang dilaluinya, berhati-hati jika ada ranting yang ingin menyabetku lagi. Langkahnya terhenti setelah mencapai pinggir sungai di dekat rumpun bambu. Hanya gemercik air dan serangga yang kudengar. Aku menengok ke sana-kemari, tak menjumpai rumah penduduk barang satu pun.
"Rokimah, kau mau kutinggal sebentar?" tanya Wira sembari membasuh kaki dan tangannya di sungai, dengan diriku masih bertengger di punggungnya.
"Tidak. Memangnya kau mau ke mana?" sahutku, mengeratkan tautan lenganku di depan lehernya karena melorot.
"Harus mau! Kau pikir bobotmu seringan kapas? Tak sudi aku membopong kingkong seharian.”
Aku menggeram, tak sadar telah membuatnya girang karena geraman yang menurutnya persis seperti kingkong. Ia mendudukkanku tanpa memperhitungkan tempat pendaratan yang berupa kerikil, dan sepertinya ada pecahan beling yang mencuat di antaranya. Selepas mendarat, kulemparkan kerikil tepat di kepalanya karena terlampau jengkel.
“Itu malah membuatmu tampak seperti kingkong sungguhan.” Ia terbahak dengan pandangan menista, membuat hatiku langsung tersentil.
Pemuda menjengkelkan itu bertolak diri tanpa dosa, lagi-lagi mencampakkanku di pinggir kali pada cuaca seterik ini. Kupanggil namanya berkali-kali tetapi mendadak telinganya jadi pekak.
Aku berusaha bangkit dari pinggir kali itu, benar-benar kepayahan melangkah. Daripada mengesot di antara kerikil, lebih baik berjalan meski copak-capik. Kuedarkan pandangan, mencari pohon yang daunnya mampu meneduhkanku dari rawi di ujung tombak. Aku menggelesot di bawah pohon melinjo yang tengah berbuah merah-merah. Sedianya rumpun bambu lebih menjanjikan keteduhan, tetapi aku kuatir kena gangguan penghuni yang bersarang di sana. Bukan setan saja, tetapi barangkali bersemayam ular weling atau yang lain.
Telingaku berdenging akibat sunyi yang lama melanda. Alhasil kusenandungkan lagu demi menghalau rasa takut yang makin berkecamuk. Ini lantaran Wira yang sampai hati membuangku di sini sendirian. Lagu kedua rampung, sekonyong-konyong Wira kembali menenteng senjata selain golok miliknya. Dari kejauhan ia seperti bandit yang siap menggorok leher mangsanya. Terperangah aku mengingat tampang itu yang menolongku dari injakan massa, juga serdadu Belanda yang membabat hutan. Namun, tampang itu pulalah yang mencampakkanku sebanyak dua kali di pinggir kali.
"Dari mana saja kau? Dapat dari mana senjata itu?" Mulutku tak tahan untuk mencecarnya dengan nada amat ketus. Padahal niatku semula hendak mendiamkannya sampai ia mengemis maaf, tetapi kurasa itu tak mengubah perangai menjengkelkannya. Apesnya, ia tak acuh dan membuatku malu sendiri. Disodorkannya plastik bening berisi biskuit dari kantung celana yang semakin lusuh.
"Kau habis mengemis?" tanyaku bermaksud memancingnya supaya buka suara.
"Enak saja!" elaknya, menghunus tatapan setajam belati.
"Oh, apa kau mencuri?" Ia bungkam, menyiratkan ketepatan tudinganku. Sebagaimana kingkong, aku sudah siap mencamuk tindakan tak terpuji itu, tetapi segera mendapat sorongan biskuit yang menggugah selera. Tak tahan lagi aku menghadapi perut yang melilit sedari kemarin. Kusantap biskuit itu dengan lirikan tajam yang malah membuatnya tersenyum pongah.
Sekonyong-konyong kakiku nyeri lagi. Rintihan terlontar dari mulutku yang terasa sepat. Kuraba pergelangan kaki yang bengkak, mungkin ini akibat memaksa jalan menuju pohon melinjo tadi.
“Wira, tolong aku.” Yang kupanggil menulikan pendengarannya seolah-olah ia memang bolot yang budek. Kesibukannya memotong bambu kan bisa ditunda untuk menengok padaku barang sekejap. Dadaku bergemuruh, rasa panas mengalir menuju kepala yang terasa mendidih hingga terbayang asap mengepul. “He, congek! Dewata memberimu telinga untuk apa?!”
Terpancing, ia menyamperiku kemudian meraba-raba kaki yang terbalut sobekan bajunya. “Kakimu terkilir lagi.”
"Panggil dokter!"
"Kau gendeng? Dokter tidak akan mau mengobati rakyat jelata secara cuma-cuma!" Ia memutar kakiku sebelum mengerahkan jurus pamungkasnya yang membuatku berteriak keras sekali. Tanpa izin terlebih dahulu, Wira menyobek ujung bajuku untuk dibuat perban ganti. Ia kembali berujar, “Aku makin yakin kau berkerabat dengan kingkong.”
Sumpah serapah terlontar dari mulutku yang jarang sekali berkata kasar. Pemuda itu sungguh menguras emosi dan kekuatan batinku teruji. Ia dengan santai melenggang mendekati sungai sembari melepas baju yang kemudian ia cuci.
Aku menangis keras seperti anak kecil karena sungguh sebal dengannya. Padahal aku jarang sekali bersuara ketika menangis, karena orang tuaku tak mengajari putrinya untuk cengeng. Disamakan dengan kingkong untuk yang ke sekian kalinya benar-benar membuat kedongkolanku di ujung tanduk.
“Aku hendak mencari buah buat asupan kita.”
Aku tak menjawab, tak sudi menanggapi suaranya yang menguras energi itu.
Sebelum berlalu, ia tancapkan empat batang kayu yang runcing bawahnya di sekitarku, menyusun daun pisang yang kemudian diikat dengan kayu itu. Niat baik membuatkanku tempat berteduh itu tak meluruhkan hatiku sama sekali.
Namun, mulutku terlampau gatal untuk bersuara. "Buat apa kau melakukan ini?"
"Biar kau tidak kepanasan dan takkan ada orang yang menyangka keberadaanmu."
"Memangnya kenapa? Bukankah bagus jika ada orang yang melihatku? Aku bisa meminta bantuan."
"Diamlah! Kecantikanmu bakal memikat siapa pun yang melihat. Seharusnya, kini kau berada di masa pingitan."
Ia berlalu, aku pun menggerutu seorang diri. Enak saja sebentar-sebentar aku ditinggal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wiyata Saujana
Ficção Histórica~Ambassadors Pick 2024~ Ada rahasia besar yang tak diketahui Jasrin. Rahasia yang menjadi penyebab ia hirap ditelan waktu dan menjalani kodrat sebagai pemuas nafsu. Disaksikannya rakyat Hindia Belanda yang berjuang menjalani keseharian mereka di ten...
