Pengapnya bilik dalam klinik itu membuat Wira tak betah, tak punya kesabaran lagi untuk angkat kaki dari situ. Lagi pula, buat apa ia berlama-lama sementara duit pun tak memegang barang satu gulden. Untunglah dokter membolehkannya pulang, dengan rasa tak enak hati pada Adji yang membiayai administrasi.
Mereka mencegat bendi yang melintas untuk mengantarkan sampai gedung bupati. Wira jarang sekali melihat bangunan megah menjulang dengan halaman luas berhias kolam ikan di satu sisinya, dan ia ciut untuk terus mengikuti langkah Adji. Sebab ia sadar diri sekaligus cemas sang bupati mengusirnya. Belum sempat berbalik, Adji meyakinkan bahwa ayahnya yang ramah pasti mengizinkan Wira tinggal.
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, tepat sekali pepatah itu. Rupanya kehangatan sikap Adji merupakan turunan dari ayahnya yang bercambang lebat dan bertubuh gempal, menunjukkan bahwa ia hidup makmur.
“Wira Basoendoro, sungguh pangling setelah bertahun-tahun tak melihatmu.” Bupati itu bernama Soeroto, tak segan-segan memaksa Wira untuk menduduki kursi beludru merah di seberangnya.
Wira menatap Adji dengan gelisah, tak nyaman dengan situasi itu dan mendadak ia ingin pulang ke sudung lamanya.
“Tinggallah di sini, Wira. Sudah waktunya aku membalas budi romo dan biyungmu,” kata Pak Soeroto.
Wira menggeleng sangsi. Ia tak kenal betul sang bupati, tak tahu pula tabiat sesungguhnya hingga bersedia berbagi tempat tinggal pada pemuda compang-camping macam Wira.
“Jangan berburuk sangka, sahabatku. Sungguh, kami tulus membantumu,” ucap Adji. Netra kecokelatannya menatap lurus pada netra gelap Wira, menyalurkan ketulusan yang lama tak dirasakan pribumi itu.
Mengenyahkan sungkan yang kian menyelar, Wira menyahut, “Baiklah, jika aku diberi pekerjaan yang jelas.” Saat itu pula, sang bupati memberinya tugas mengurus kebun di belakang rumahnya.
Dengan tampang masygul, Wira ingin protes bahwa ia lebih suka membersihkan kandang kuda karena dengan begitu, ia bakal jarang terlihat oleh orang lain. Namun, ucapan Adji membuatnya mengurungkan niat itu.
“Nah, tepat. Mengurus kebun tidak terlalu kotor dan cukup ringan. Kau masih harus menyimpan semangat untuk kekasihmu.”
“Wira punya kekasih? Siapa?” Sang bupati langsung tertarik, membuat pipi Wira bersemu. Rona merah itu mengundang gelak dua priayi di depannya.
Mereka tak paham bahwa rona itu pertanda amarahnya memuncak. Kekasihnya diambil Meneer, tak patut menjadi bahan gurauan. Tak mau menimbulkan perkara, Wira menelan amarah yang mendidih mengingat Rokimah-nya dipelihara Londo.
Menyadari Wira yang terus bergeming, Soeroto sadar akan sesuatu. Ia berbisik pada putranya, “Apakah kekasihnya itu seorang budak?”
Ingatan Adji berbalik pada saat seorang jongos membawa pulang Jasrin, padahal klinik tempat Wira berbaring hanya tinggal beberapa langkah lagi.
Dialihkannya topik, membicarakan masa kanak-kanaknya pada Wira, tapi malah membuat pemuda itu kian jengkel. Ia butuh istirahat, jahitan di dahi dan hidungnya belum kering. Ia pun tak ingin mengenang masa kanak-kanaknya yang kelabu.
***
Batinku terus mengadu, mengeluh, menyalahkan kodrat yang amat buruk menjatuhiku. Akhirnya aku cuma dapat berpasrah pada Sang Hyang Widhi. Luka hati lebih lara ketimbang tamparan di pipi oleh tangan besar Lark. Jika bisa memilih, lebih baik aku hidup melarat penuh perjuangan bersama Wira yang bisa menghargaiku sebagai perempuan, bukannya terkurung di rumah megah untuk melayani seorang Meneer yang sama sekali tak berbelas kasih padaku, tersiksa tiap kali ia menuntaskan birahi di atas ranjang yang selalu berkeriut tiap kali ia mengentakkan pinggulnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wiyata Saujana
Historical Fiction~Ambassadors Pick 2024~ Ada rahasia besar yang tak diketahui Jasrin. Rahasia yang menjadi penyebab ia hirap ditelan waktu dan menjalani kodrat sebagai pemuas nafsu. Disaksikannya rakyat Hindia Belanda yang berjuang menjalani keseharian mereka di ten...
