Aku tak kunjung terlelap lantaran menahan ngilu yang teramat sangat mengganggu meski Bu Soma mengolesi minyak di kakiku dengan telaten. Ia dan suaminya itu pasti tahu bahwa Prawira belum tentu membayar jasa mereka. Namun mereka bilang, harus banyak berbuat kebaikan di masa-masa genting seperti ini. Mereka bisa kapan saja mati, bukan?
"Aku bakal sembuh tidak?" tanyaku setengah merintih. Sungguh, putus asa sekali merasakan kaki yang nyut-nyutan luar biasa. Sudah kutekankan berkali-kali kalimat itu, tak jemu-jemu sebab memang sebegitu ngilunya bagiku yang jarang sakit.
"Ada sakit, ada sembuh. Apalagi tulang kamu masih muda, bakal lebih cepat pulihnya." Wanita paruh baya itu terus saja menenangkanku.
Kokok jago bersahut-sahutan menyambut fajar ketika Pak Soma baru saja berbaring di kursi kayu setelah semalaman mendengar rintihanku. Namun, ketukan di pintu kembali membuatnya bangkit.
"Prawira, mari masuk," kata Pak Soma.
Wira menghampiriku dengan kikuk dan berusaha menghindari saling tatap. "Rokimah, mari kita pulang. Dipan untukmu sudah jadi."
Aku mendongak, terenyuh mendapati sekitar matanya yang menghitam seperti panda. Sejak membuat sudung, tidurnya cuma beberapa jam sebelum siangnya bekerja. Aku yakin semalaman ia menyelesaikan sebuah dipan tanpa mengedepankan kondisinya sendiri. Wajar jika ia kerap mencak-mencak padaku, aku memang selalu merepotkannya.
"Tinggal di sini dulu juga tidak apa-apa. Kasihan Yu Rokimahnya," ucap Pak Soma ramah.
"Terima kasih banyak, tetapi kami tidak mau terus merepotkan. Maaf, saya belum bisa membalas jasa Bapak dan Ibu," sahut Wira dengan lirih. Ia menghindari tatapanku. Aku tahu ia malu mengucapkan itu.
"Tak perlu dipikirkan. Kami ikhlas lahir batin. Akan lebih baik bila Yu Rokimah tinggal di sini sampai sembuh. Kakinya masih rentan bila diboyong-boyong." Pak Soma sungguh-sungguh dengan tawaran itu, aku tergoda untuk mengiakan jika tak mendapat pandangan lelah dari si cecunguk yang kali ini tampak melas.
"Terima kasih, Pak Soma. Saya tidak apa-apa kembali ke rumah," celetukku.
Aku menemplok di punggung Wira sebagaimana ketika kami pindah-pindah hutan menghindari tentara Belanda. Namun kali ini, bukan kepanikan yang menyelimuti kami, melainkan kesenduan. Perasaan bersalah mencokol di benakku menghadapi Wira yang kerap kali kubebani.
***
Aku masih merenungkan segala umpatan yang kemarin-kemarin terlontar dari bibirku sementara ia menyajikan ubi rebus yang mengepul di atas daun pisang. Kuamati dengan saksama ketika mulutnya meniup seraya mengupas ubi yang kemudian disodorkan padaku.
"Hanya ada dua biji, untuk kita,” ujarnya padahal aku tak bertanya.
Mataku berkaca-kaca sebelum beringsut kemudian mendekapnya erat. Aku iba menyadari sosok yang tak pernah merasakan hidup ayem sebagaimana diriku sebelumnya. Pasti ia sudah terbiasa berhadapan dengan kerasnya kehidupan pribumi sehingga mampu menanggung beban tambahan dariku. Semakin kencang lenganku di sekelilingnya setelah ia membalas rengkuhanku tanpa mengucap sepatah kata. Dari situ kami tahu, permusuhan yang sempat berlangsung tidak sungguh-sungguh, sebab kami masih membutuhkan satu sama lain untuk merengkuh demi berbagi kegetiran sebagai rakyat jelata.
"Tidurlah, Wira."
"Setelah Engkau."
Aku menahan napas, kemudian sengaja mengutarakan kalimat kurang ajar, "Bau. Mulutmu harus dibersihkan."
Wira membelalak, tapi kemudian tercenung. Kurasa ia membenarkanku dan aku tertawa jahanam dalam hati. Menyulut pertikaian memang mengasyikkan, padahal baru beberapa detik lalu aku terenyuh seraya mendekapnya penuh rasa sepenanggungan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wiyata Saujana
Fiksi Sejarah~Ambassadors Pick 2024~ Ada rahasia besar yang tak diketahui Jasrin. Rahasia yang menjadi penyebab ia hirap ditelan waktu dan menjalani kodrat sebagai pemuas nafsu. Disaksikannya rakyat Hindia Belanda yang berjuang menjalani keseharian mereka di ten...
