26. Sebuah Penerimaan

479 61 6
                                        

Kukira tak perlu waktu lama setelah dirukiah oleh Mbah Ismoyo untuk kembali ke zamanku berasal. Namun nyatanya sebulan terlalui tanpa perubahan. Hampir pupuslah asaku untuk kembali. Meski begitu, aku senantiasa berdoa pada Gusti Allah dengan memasrahkan diri pada takdir-Nya. Lagi pula menetap di sini tak begitu buruk dengan Adji yang masih mengizinkanku tinggal di rumahnya. Kami jarang bercengkerama seperti dulu lagi karena Adji makin disibukkan oleh tugas sebagai bupati.

Suatu ketika di akhir pekan, sekonyong-konyong Adji mengajakku dan Juna jalan-jalan. Karena aku merindukan kebersamaan kami, aku pun mengiakan ajakan itu. Kami tak takut lagi terhadap penilaian masyarakat akan hubungan kami yang mereka anggap tak patut. Aku masih dikenal sebagai gundik simpanan Bupati Situbondo.

Aku tersipu ketika Adji meminta Juna untuk digendongnya. Sungguh, aku merasa punya keluarga cemara. Aku terpana pada Adji yang begitu luwes menjadi seorang ayah. Blangkon yang dipakai itu menambah aura kedewasaannya.

Ia membawa langkahku menuju taman yang tampak asri dengan pohon meneduhi tiap sudut, ditambah berbungaan tumbuh rapi di beberapa sisinya. Kami duduk di salah satu bangku kayu dengan tawa riang Juna di pangkuan Adji yang terus mengajaknya berceloteh. Aku sangat bersyukur dengan keadaanku sekarang yang lebih tenteram dari sebelumnya, bahkan jauh lebih baik dari saat aku ada di masa depan. Bagaimana tidak, di zaman itu aku dituntut untuk belajar sungguh-sungguh demi mendapat peringkat yang baik. Sementara kini, aku tinggal menyiapkan makanan dan mengurus Juna saban harinya. Sederhana sekali, tetapi membuatku merasa jauh lebih baik.

"Selama mengenalmu, aku tak pernah tahu usiamu," celetukku tanpa menatap mukanya, cemas apabila ketahuan terpesona pada sosok Raden Mas Adji Rahardjo. Bahkan nama lengkapnya itu pun baru kutahu beberapa hari silam ketika menyempatkan diri berbasa-basi dengannya.

"Sebulan lagi genap dua puluh. Makanya Biyung menuntutku lekas mencari jodoh," jawabnya.

"Kau masih menyenangi Juffrouw Amarilis?"

"Tidak. Dia sudah kembali ke Netherland, bahkan sebelum kenal siapa aku."

Aku terkekeh, memanas-manasi kisah cintanya yang miris. Juna yang mengulurkan lengan membuatnya beralih ke pangkuanku tanpa menghentikan percakapan kami.

"Aku ingin meminangmu, tapi kuatir mendapat penolakan lagi."

Aku tersentak, menengoknya yang tengah menatapku seraya menyunggingkan senyum manis di bawah kumis tipis. Sekilas ia tampak seperti Wira, yang membedakan hanya blangkon dan bentuk mata. Tapi setelah mengerjap, aku pun sadar banyak perbedaan antara mereka.

"Aku tahu cintamu pada Wira dan traumamu terhadap Meneer Lark. Aku takkan memaksakan kehendak." Ia meneruskan.

"Bagaimana jika aku menerima pinanganmu?" Aku berusaha tersenyum meski pipiku memanas.

"Tak boleh ada kata jika."

"Aku mau jadi istrimu, tapi kaupastikan Bu Ningsih takkan membenciku." Aku masih bertukar tatap dengan Adji yang juga merona. "Trauma itu sudah berlalu, lagi pula Wira telah tiada. Untuk apa aku menutup hati demi seorang yang direngkuh bidadari Surga? Tak ada kepastian bahwa aku akan kembali ke zaman asalku dan aku selalu aman tinggal bersamamu. Aku tak mau ketika Juna beranjak besar, kami masih menumpang di rumahmu sementara ia pun butuh seorang ayah."

Ia tak kunjung berkedip, senyumannya luntur. Kupikir aku salah cakap, tetapi kemudian ia mengacak-acak rambutku yang tergerai sebahu. "Kenapa tak bilang sedari dulu.... Aku tak perlu berdebat dengan Biyung soal jodoh." Ia berlagak merajuk, membuatku tergelak sebelum mengutarakan kecemasanku.

"Tapi aku tak mau jika ibumu tak setuju."

"Aku akan bilang bahwa aku takkan menikah selamanya jika tak direstui bersamamu."

"Lalu bagaimana jika aku tiba-tiba kembali ke zamanku?"

"Aku akan ikut."

Aku menggeleng, menganggapnya tak serius. Mana mungkin perjalanan waktu semudah itu.

Wiyata SaujanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang