Tampang Indo tak cukup menjadi senjata untuk menembus pintu bangunan berpilar yang menjulang agung sewarna gading. Dua jurit mendesak kami untuk mengatakan tujuan kami kemari.
“Ada masalah genting di Anyer, mungkin juga di Panarukan. Banyak pekerja yang tewas akibat kerja rodi,” jelas Thomas.
“Itu bukan urusan Tuan Daendels. Mereka sendiri yang tak menjaga diri,” jawab si jurit Londo dengan logat aneh.
“Mereka tewas sebab jarang makan. Upah mereka dikorupsi. Aku tahu Tuan Daendels benci terhadap tikus kantor. Jadi, biarkan kami menemui beliau.” Aku maju selangkah, menaikkan dagu percaya diri padahal kakiku gemetar.
“Geit⁶!” Jurit yang satunya menarik kawannya dengan raut gamang. “Kalian boleh masuk, dua orang saja!” Mereka beringsut, membiarkan salah dua dari kami memasuki gedung. Jan menyorongku dan Thomas untuk melewati jurit itu dengan raut terpinga-pinga.
Di bagian tengah ruangan terdapat enam kursi goyang dan satu meja bundar. Jendela kunonya dibiarkan terbuka lebar, binar dari luar menyoroti vinyet pemandangan alam serta jam lonceng yang berdentang sebelas kali.
“Untung kami bersamamu. Kenapa mereka ketakutan dan menyebut kambing, ya?” gumam Thomas.
“Mungkin tubuhku bau perengus gara-gara belum mandi,” timpalku.
Musik keroncong sayup-sayup terdengar dari ruangan yang hendak kami masuki. Thomas ragu-ragu mendekatkan tangannya pada pintu kayu pilin berganda. Aku berdecak, mengetuknya tiga kali kemudian mengumpet di balik tubuh jangkung Thomas.
Setelah Daendels mengucapkan sesuatu dalam bahasa Belanda, Thomas mendorong pintu dan kami masuk dengan rikuh. Hal pertama dalam ruangan yang tertangkap mataku ialah bendera merah-putih-biru yang berpijak di sebelah gramofon.
“Wie ben je⁷?” selidiknya dari balik meja kerja.
“Ik ben Thomas, en dit is Jasrin⁸.”
“Wat heb je nodig⁹?”
“Kami hendak melapor situasi yang berkaitan dengan kerja rodi.” Meski bisa bahasa Belanda, agaknya Thomas menggunakan bahasa Melayu agar aku paham.
Daendels mengisyaratkan agar kami duduk di seberang mejanya yang penuh tumpukan kertas dan seonggok tinta bulu. Tanpa senyum di bibir tipisnya, sosok itu memang mirip dalam potret yang dilukis Raden Saleh. Namun, saat ini cambang pirangnya belum dipangkas dan seragam marsekalnya berwarna biru tua, bukan hitam.
Thomas mengulang keterangan yang diutarakan kepada penjaga tadi dengan sedikit tambahan, “Banyak pekerja di Anyer meninggal akibat malaria.” Ia menyikutku untuk melanjutkan.
“Pekerja di Panarukan tak pernah makan. Upah mereka mandek di tangan bupati.” Aku bergetar saat iris cokelat Daendels membalas tatapanku.
“Ada buktinya?”
Aku menggeleng. “Satu-satunya bukti nyata ialah bergelimpangnya para pekerja yang kurus kering.”
“Bagaimana aku bisa percaya sementara aku tak tahu siapa kalian.” Daendels menyenderkan tubuh pada sandaran kursi, agaknya tak tertarik dengan penjelasan kami.
“Saya dan satu teman saya di luar, datang dari Anyer setelah menyaksikan banyak pekerja tanpa nyawa yang dikembalikan ke rumah masing-masing. Dan salah satunya adalah paman saya yang pribumi. Kenapa saya tak ikut dijadikan sebagai pekerja? Karena saya Indo.”
“Jadi intinya, kau menuntut pertanggungjawaban atas meninggalnya pamanmu, begitu?”
“Dia tak bermaksud seperti itu. Biar saya lanjutkan. Situasi di Panarukan tak jauh beda dengan Anyer. Apakah benar Anda tidak memberi upah pada mereka?” pancingku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wiyata Saujana
Ficción histórica~Ambassadors Pick 2024~ Ada rahasia besar yang tak diketahui Jasrin. Rahasia yang menjadi penyebab ia hirap ditelan waktu dan menjalani kodrat sebagai pemuas nafsu. Disaksikannya rakyat Hindia Belanda yang berjuang menjalani keseharian mereka di ten...
