"Aku sudah dengar isu buruk tentangmu. "
"Bagaimana isu itu?"
"Bahwa kau kena guna-guna dariku, sampai kau pergi ke dukun buat menanganinya."
"Keterlaluan. Padahal kemarin lusa aku mendatangi ahli spiritual yang kukenal sakti. Aku memberi pengertian padanya tentang dimensi waktu dan ia bisa menerimanya. Hari Ahad kau harus menemuinya langsung, akan kutemani."
Berarti tiga hari lagi aku harus bertandang. Mendadak jantungku berdebar, bimbang karena lama sekali diriku tak melihat rumah asal. Aku nyaman ada di sini, di Hindia Belanda karena tak ada lagi yang mengaturku harus begini-begitu. Aku semakin terbiasa hidup di masa ini, terlebih merasa aman karena tinggal bersama lelaki yang dapat melindungiku dari kekejaman dunia luar.
***
Kami menyusuri jalan dengan bendi yang dikendarai kusir pribadi Adji. Mataku sedari tadi berkaca-kaca, menampung air mata yang tertahan untuk tidak mengalir menjadi anak sungai. Sebab, aku masih ingat betul bagaimana perdebatan Adji dengan ibunya perihal bendi yang akan kami naiki. Bu Ningsih tak membolehkan Adji pergi dengan gundik macam diriku. Masyarakat akan semakin gencar membicarakan kami. Namun, Adji kekeh membelaku dan berhasil mendapat tempeleng dari Bu Ningsih.
Adji berlalu, kurasa ia menahan malu karena mendapat pukulan dari ibunya di hadapanku. Kami diam sepanjang jalan. Sang kusir pun tak berani membuka suara barang sepatah kata. Hanya kerewelan Juna yang mengisi kesunyian.
Juna telah berusia enam bulan, tengah belajar tengkurap. Ia banyak bicara dan memekik seperti bayi aktif kebanyakan. Bobotnya delapan kilogram, dan aku sangat bersyukur karena Adji memberi kami makanan bergizi.
Batita bersurai sehitam arang itu mulai rewel. Mata birunya berkaca-kaca, bakal hidungnya yang mancung memerah. Akhirnya aku terpaksa membuka kancing atasku dan memberinya ASI. Kulirik Adji yang memalingkan muka tetapi mencuri pandang. Memang dasarnya lelaki. Semua lelaki pasti memiliki sifat berengsek, takkan menyia-nyiakan pemandangan yang mungkin membuat kemaluannya berdiri. Aku sudah biasa menghadapi lanangan seperti itu. Pengalamanku sebagai gundik yang dipanggil Mevrouw pun tak sedikit.
Kuhentikan aksi curi-curi pandangnya dengan menatap tepat di matanya tanpa berkedip. Hal itu membuatnya gugup dan terintimidasi, kemudian menyengir bagai kuda yang membawa bendi kami.
Aku paham jalan ini. Aku pernah lewat sini untuk mendaki pada zaman diriku berasal. Ternyata jalur lama tak banyak berubah karena pohon berusia ratusan tahun yang memagari sisi kanan-kirinya. "Apa kita naik ke Kawi?"
Adji menggeleng. "Hanya jalan sedikit. Jangan takut kalau sudah sampai di rumah Mbah Ismoyo."
Tak ayal aku bergidik juga. Kain-kain putih kecokelatan terikat pada tiap batang kayu di halamannya, juga di badan patung penjaga yang berdiri di sisi undakan. Kutengokkan kepala ke arah bendi yang diparkirkan di sisi halaman. Amatanku melanglang buana ke hutan yang terselubung kabut dan Gunung Kawi yang menjulang agung di baliknya.
Adji menggenggam tanganku, menuntunku naik ke undakan dan kudapati sang tuan rumah sudah menyambut di ambang pintu dengan senyuman hangat. Kudekap erat Juna yang tertidur pulas dalam gendongan.
Rumah joglo ini memiliki kandang luas di sampingnya. Tiga sapi putih tengah makan rumput sedangkan puluhan kambing hitam mengawasi langkahku. Aku mengerjap, memastikan mereka benar mengawasiku. Dan memang, pupil persegi mereka mengikuti langkahku yang kemudian hilang dari pandangan mereka, memasuki rumah kayu dengan banyaknya pahatan topeng yang dipajang. Aku tak lagi peduli bagaimana nasib sang kusir di luar, di halaman dengan hawa amat mencekam itu. Yang kupikirkan hanya keamananku dan Juna.
"Monggo diunjuk¹¹." Sang tuan rumah membuka suara, membuatku sadar akan secangkir teh yang telah tersaji di hadapanku.
Ahli spiritual itu memakai blangkon dan ageman hitam. Pantas saja para gadis membicarakan Adji yang mendatangi dukun. Terdapat kaligrafi yang dipajang di salah satu sisi dinding. Lukisan Wali Songo juga mengisi sisi dinding yang lain.
"Jadi, Nyai ini asalnya bukan dari sini, betul?" tanya Mbah Ismoyo.
"Betul, Mbah. Awalnya saya kira cuma mimpi," jawabku sembari menatap matanya yang juga sangat dalam menatap mataku. Kualihkan pandangan, padahal tadinya aku hanya bersikap sopan dengan memandang lawan bicara saat bercakap, tetapi malah gelisah begini.
"Jangan takut, Nyai. Saya tidak akan menggigit." ujarnya kemudian tertawa renyah bersama Adji yang terkekeh mengolok-olokku. Aku pun tersenyum, mulai tenang dengan suasana yang mencair.
"Aku tahu Nyai masih penasaran pada kambing-kambing saya yang aneh itu, bukan?" lanjutnya, membuatku menggaruk tengkuk gugup.
"Saya takut kambing karena trauma, waktu kecil leher saya terjerat tali dadung kemudian diseruduk kambing." Sebetulnya itu hanya alibi, tetapi memang kejadian itu benar adanya.
"Owalah, pasti dulu Nyai suka menyelonong ke kandang." Gigi Mbah Ismoyo berjajar rapi, tak ada yang tanggal padahal usianya sudah senja dengan surai dan cambang yang sepenuhnya putih. "Kambing-kambing itu untuk persediaan jika ada orang yang ingin membuat perjanjian. Nyai pasti mengerti Gunung Kawi sering didatangi orang yang ingin bersekutu dengan jin."
"Benar. Hal itu masih berlaku di zaman saya."
"Aku ini sebenarnya tak berkenan melancarkan urusan mereka. Tapi sudah menjadi tugas turun-temurun dari leluhurku. Jika tidak dilakoni, jin-jin itu bakal murka tak terkendali karena hanya aku yang dipercaya menjadi perantara komunikasi mereka dengan orang yang berkepentingan."
Aku mengangguk paham. Jika kemampuan sudah diturunkan dari leluhur, mau tak mau harus mewarisinya. Seperti halnya Mbah Buyut yang mewarisi ilmu spiritual dari Mbah Canggah, dan mungkin kakekku dari pihak Mama bakal mewarisinya kelak.
Gerimis mendarat menandai pergantian musim. Mbah Ismoyo menitahkan Adji untuk keluar mengajak sang kusir masuk rumah.
"Akan banyak halangan untuk kembali karena masa lalu ibumu," kata Mbah Ismoyo pelan.
Aku menengok ke pintu, berharap Adji cepat kembali. Namun, Mbah Ismoyo menuntutku untuk memberinya sahutan.
"Apa hubungan semua ini dengan ibu saya?"
"Aku tak tahu semuanya. Hanya sedikit gambaran bahwa ibumu sempat menjelajah waktu dan menemukan jodoh di sana. Sayangnya ibumu lebih memilih lelaki lain kemudian mendapat kutukan. Kurasa kutukan itu tertuju padamu." Ia menunduk seraya memejamkan mata seakan mencari visualisasi yang lebih detail. "Selain itu, ada keterlibatan anggota keluargamu yang memiliki ilmu spiritual. Dia mengutus anak buahnya untuk menjagamu, atau bisa disebut sebagai khodam pendamping berwujud kambing."
Aku menelan keterangan itu setengah percaya karena keterlibatan Mama dan Mbah Buyut yang tak pernah menceritakan apa-apa padaku. "Apa karena itu kambing di kandang tadi mengawasi saya?"
"Benar. Penjaga Nyai adalah rajanya para kambing."
Aku mengangguk-angguk puas mengetahui penyebabku terjebak lama di sini dan masih dapat bertahan hidup. Ingatanku memutar ulang saat jurit jaga di istana gubernur menyebut kambing setelah bertemu pandang dengan irisku.
_______
¹¹ Monggo diunjuk : Silakan diminum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wiyata Saujana
Ficción histórica~Ambassadors Pick 2024~ Ada rahasia besar yang tak diketahui Jasrin. Rahasia yang menjadi penyebab ia hirap ditelan waktu dan menjalani kodrat sebagai pemuas nafsu. Disaksikannya rakyat Hindia Belanda yang berjuang menjalani keseharian mereka di ten...
