12. Kabur Demi Tekad

782 96 3
                                        

Pedih menyelar seluruh wajah, dipenuhi luka goresan akar mencuat yang dilewati ketika ia jatuh terguling. Berkali-kali pemuda berkumis tipis itu meringis, tiap jarum menembus kulit dahi yang robek selepas bagian hidung yang lebih dulu dijahit. Belum lagi nyeri akibat memar yang memenuhi sekujur tubuh. Untuk bergerak sedikit pun, ia harus menelan nyeri yang kian merajam. Lambat laun kesadaran pulih sepenuhnya, dan ia tak bersyukur sebab tak siap merasakan tusukan jarum dan denyut ngilu sementara ia mencerna suasana sekitar yang bau obat. Dindingnya putih gading, selimutnya loreng putih-hijau. Lelaki asing sedari tadi menggenggam tangannya barangkali menguatkan. Sungguh, ia merasa berutang nyawa pada lelaki paruh baya berkaus cokelat itu.

Selepas dokter dan perawat mengotak-atik lukanya, ia ditinggal bersama lelaki asing itu. Meski berbaring, ia dapat melihat dengan jelas pemandangan dari jendela yang kacanya sangat bening. Pasti petugas kebersihannya bekerja dengan sungguh-sungguh. Tak ada yang menarik perhatian, cuma seonggok bangku panjang di atas rumput teki yang hijaunya menusuk mata. Lelaki asing itu mengenalkan dirinya sebagai Bapak Tejo, yang kemudian mohon diri karena masih punya tugas mencari rumput untuk ternaknya. Ia tak menahan kepergian lelaki itu, meski diam-diam ia mengharap ditemani lebih lama. Namun, Bapak Tejo bilang, sebentar lagi kerabat pemuda malang itu bakal kemari. Ia berulang kali mengutarakan rasa terima kasihnya yang tak terkira berkat bantuan Bapak Tejo. Belum tentu mereka bersua kembali untuknya membalas budi. Namun bagi Bapak Tejo, kata terima kasih itu sudah sepan.

“Bangsa ini masih berantakan di bawah hidung-hidung mancung dari Barat. Walau tak mampu jadi pejuang kemerdekaan, setidaknya kita menolong sesama makhluk Allah,” ucap Bapak Tejo sebelum ia berlalu.

Setelah itu terjadi keheningan, membuat kupingnya berdenging karena menganggur tak menangkap suara. Tubuhnya nyeri tak keruan, sekilas ia menangkap memar kebiruan di pundak yang tak terbalut sehelai kain. Kemudian ia celangak-celinguk mencari baju putihnya yang telah berganti warna kecokelatan. Menghela napas kemudian, menyadari baju sehari-harinya itu pastilah sudah berlumuran darah dan dibuang. Hari ini sial sekali baginya. Sekujur tubuhnya berdenyut-denyut, ia bertekad setelah keluar dari klinik itu, bakal bertandang pada Pak Soma untuk dipijat.

"Wira, bagaimana keadaanmu?" Adji datang menenteng sekeranjang buah tanpa ketuk pintu terlebih dahulu.

"Nasib baik nyawaku belum melayang," jawab Wira. Yang dimaksud melayang itu bukan akibat jatuh dari tebing, tapi terperanjat saking kagetnya dengan kemunculan Adji selagi ia melamuni nasib nahasnya.

Adji mengamati muka lebam Wira dengan prihatin. Mata sahabatnya itu menyipit karena tulang pipinya bengkak.

"Kau tak tanya kenapa aku bisa seperti ini?"

"Wira, jangan banyak cakap dulu. Aku bisa tanyakan itu saat kau sudah sembuh."

"Kata dokter, hidung dan dahiku ada empat belas jahitan, dan aku tidak bisa mencium aroma dengan normal lagi. Sarafku—"

"Diamlah!"

"Adji, aku ingin melihat kekasihku. Aku merindukannya."

Adji tercengang mendengar nada parau itu. Sempat-sempatnya Wira memikirkan kekasihnya sementara dirinya sendiri lebih memprihatinkan. Namun, melihat anak sungai yang mengalir di pipi Wira, ia mengurungkan gerutunya, malah tak sanggup menahan air matanya pula.

"Namanya Citrakara Jasrin Reswara. Aku sering memanggilnya Rokimah. Ia dibawa tentara Londo beberapa minggu lalu. Tolong, Adji. Datangkan ia padaku."

"Apa pun untukmu, Wira, asalkan kau sembuh. Aku akan mencarinya saat ini juga."

Adji melenggang dengan air mata yang menggenang di pelupuk. Tanpa kata, ia menutup pintu dan menuju rumah Meneer berambut kuning bambu.

***

Bolu warna merah muda yang terkunyah tak juga membuatku berselera untuk menelannya. Sebab, pikiranku terus berkecamuk memikirkan nasib Wira. Mengingat darah yang memenuhi wajahnya itu, aku merasa mual sekaligus pening.

Bagaimana bisa pemuda tangguh itu celaka?

Karena tak dapat menahan tekadku lagi, kuminta Mbok Sal membelikanku keripik pisang ke pasar sehingga aku bisa sendirian di rumah besar bernuansa putih tulang ini. Kumanfaatkan kesempatan ini meski risikonya membuat jantungku berdentum-dentum bagai disko. Satu jongos menemani Lark di markas, satu lainnya berjaga di depan. Kusir pribadi yang dulu ikut membawaku ke penjara bawah tanah entah berada di mana. Hanya jongos di depan gerbang halaman itulah penghalangku saat ini.

Namun aku tak hilang akal. Rumah sebesar ini tak mungkin hanya punya pintu depan. Aku menyelinap keluar lewat pintu belakang, kemudian terpapar pemandangan kebun jagung yang belum lama ditanami. Aku tak tahu arah, tapi tetap nekat mencari rumah sakit atau sejenisnya yang kemungkinan menjadi tempat Wira dirawat. Sebelum benar-benar meninggalkan rumah, aku menoleh untuk memastikan tak ada siapa pun yang memergoki.

Belum jauh bertolak, aku membentur tubuh jangkung yang awalnya kukira Wira, rupanya bukan. Jelas berbeda, dari blangkon khas priayi hingga paras yang tampak resik, tak seperti Wira yang compang-camping.

"Mevrouw kenapa terburu-buru?" tanyanya. Aku malah tergagap sebelum meminta maaf telah menabraknya. Tak mau mempermalukan diri sendiri dengan kegugupan, aku langsung melesat sebelum darahku terasa berhenti mengalir akibat cekalan lengan dari priayi itu. Tambah patah lidah diriku ketika angin semilir membawa aroma cendana darinya.

"Lepaskan!" Aku menepis kegugupanku dengan raut galak yang sengaja kupamerkan supaya ia urung mengusikku.

"Mevrouw hendak ke mana?"

Aku geli mendengar julukan itu. Gaun seputih gading yang menjuntai sebatas lutut jelas menegaskan bahwa aku ini seorang nyonya. Namun, aku merasa tubuhku cuma dimanfaatkan untuk memuaskan nafsu birahi bagaikan gundik yang harusnya dipanggil nyai. Mana bisa aku percaya jadi nyonya begitu saja sementara tak ada ikatan resmi. Lark pikir semua pribumi sebodoh itu?

"Raden melihat laki-laki berdarah yang naik becak?" tanyaku setelah menenangkan diri.

"Wira Basoendoro?"

"Ya, ya! Di mana ia?"

Pemuda priayi itu memberi isyarat untuk mengikutinya. Langkahku kemudian sejajar dengannya, tak mau tertinggal, takut hilang arah dan tak dapat pulang. Ia membawa langkah kami menuju klinik tempat Wira dirawat sambil memperkenalkan diri sebagai Adji Rahardjo, dan aku tak sungkan-sungkan mengenalkan diri sebagai Rokimah. Kakiku terasa pedas akibat jalan tanah yang panas. Kulirik kaki Adji yang mengenakan sendal kulit. Mendadak aku malu, gaya seperti nyonya tapi lupa memakai alas kaki.

Puas menatap kakinya yang tampak bersih, pandanganku beralih pada sekeliling jalan yang ditumbuhi semak belukar. Aku tak tahu apakah ini jalan raya atau jalan setapak, hanya beberapa pedati yang berpapasan dan pengendaranya menyapa Adji seakan-akan priayi itu amat dikenal.

"Jasrin, kan namamu?" Dadaku mencelus, tak menyangka ia mengetahui siapa diriku.

Belum sempat menjawab, aku paham betul berada di depan kantor Residen ketika lenganku diseret jongos Lark yang seingatku bernama Soesanto. Adji menarik lengan kiriku, dan aku seperti barang edisi terbatas yang diperebutkan. Tak tinggal diam, aku menggigit tangan Soesanto yang kekar. Sia-sia, Adji pun tumbang hanya kena kibasan tangan Soesanto.

"Bilang padanya bahwa aku menunggunya!" pesanku pada Adji yang lekas beranjak, tetapi tak berniat melawan Soesanto lagi.

Ia mengangguk dengan enggan.

***

Adji meneruskan langkah menuju klinik yang tak jauh dari kantor Residen untuk menyampaikan pesan Jasrin pada Wira, yang tengah rebah seraya menatap luar jendela dengan kerinduan menggebu-gebu pada perempuan yang kerap membuatnya kesal.

Setelah mendengar penuturan Adji, pemuda yang tampak babak belur itu tak tahu harus bereaksi apa. Ia gembira perempuan yang dirindukan masih peduli padanya, tetapi ia tertampar oleh keadaan yang telah berubah. Rokimah bukan lagi gadis lemah yang bergantung padanya. Ia sendiri hanya pribumi yang tak punya apa-apa, mustahil mengambil kekasihnya dari cengkeraman seorang Meneer.

Bahkan setelah diberi tempat berteduh oleh Adji, ia masih saja merepotkan sahabatnya itu dengan rebahnya ia di balik selimut putih-hijau. Rasa kecil hatinya tak dapat ditampik.

Wiyata SaujanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang