Lelaki yang punya kemiripan paras serta nama dengan dua tokoh di masa lalu itu pulang kampung ke Panarukan, Situbondo setelah mengikuti Ujian Nasional. Orang tuanya menyambut dengan tangan terbuka, tak tertinggal senyum yang merekah. Bagaimana tidak? Rayan bertahun-tahun betah di Bantul bersama bibinya karena waktu itu orang tuanya tak sanggup membiayai sekolah.
Ia merasa bersalah, karena kedatangannya di kampung halaman bukan semata menjumpai ayah-ibunya, tetapi mencari jawaban dari perasaan janggal yang akhir-akhir ini menghantui. Nahas, ia malah sakit-sakitan. Ia sering menggigil, isi kepalanya seperti berputar-putar, tubuhnya loyo. Bolak-balik ke dokter yang berbeda, mendapat pernyataan yang berbeda pula. Ada yang mengatakan ia mengalami tifus, ada yang menyatakan demam berdarah. Obat-obatan rutin ia lahap hingga tandas, tapi kesembuhan tak kunjung memihak.
Saban malam ia memimpikan adegan bersama Jasrin tapi tak kunjung menemukan benang merah yang jelas. Semua buram ketika ia bangun, mimpi itu semakin samar di ingatannya.
"Ini sudah tidak wajar. Tiga minggu Rayan tak sembuh-sembuh. Tiap malam mengigau, pagi linglung, siang sore tak mau makan," ucap ibu Rayan frustrasi.
"Mungkin kita harus membawa Rayan pada orang yang punya ilmu spiritual. Aku kenal seseorang," sahut suaminya.
"Kenapa tak bilang dari awal...." Tangis tak dapat ditahan lagi bersama rasa kesal dan lelah.
"Kupikir kau tak percaya pada hal seperti itu."
Rayan yang tak berdaya itu dibopong ke mobil yang membawa mereka pada kenalan ayahnya yang masih satu wilayah di Situbondo. Atas seizin-Nya, orang itu memejamkan mata sembari mencengkeram kepala Rayan yang bersendawa panjang kemudian memuntahkan isi perutnya. Spiritualan itu menjelaskan siapa Rayan di masa lalu dan apa hubungan yang mengikatnya erat bersama Jasrin.
Ketika Wira tewas tertembak, ia sangat mengharapkan dapat lahir kembali dan bahagia bersama cinta pertamanya. Sama hal dengan Adji yang tak bangkit dari rasa kehilangan setelah ditinggal Jasrin yang mencuri hatinya. Ia melajang hingga di usia yang ke-34 tahun, tewas ketika terjadi pembantaian di Panarukan. Ia juga mengharap dapat lahir kembali dan bertemu Jasrin.
Orang itu pun menerangkan leluhur Rayan yang rupanya salah satu adik kembar Adji yang selamat dari pembantaian. Itu berarti ia masih memiliki setetes darah keturunan Adji yang mana masih kerabat Wira. Ia lahir dengan penyatuan jiwa Wira dan Adji yang memiliki impian sama kuatnya.
***
Setahun penantian tanpa kepastian sungguh menjemukan. Tiap kepikiran Wira maupun Adji, lamunanku berujung pada Rayan yang memintaku menunggunya. Selepas ia bertandang ke rumahku tahun lalu, ia tak lagi menampakkan batang hidungnya sekadar untuk menyapa. Aku menyesali tindakanku yang buru-buru menyuruh Rayan pulang tanpa menanyakan nomor telepon. Ah, tak guna memikirkan omong kosong lelaki itu.
Selagi Juna belum bangun di pagi berembun, aku beranjak ke minimarket untuk membeli bubur bayi karena persediaanku sudah habis. Selama perjalanan, ekor mataku mendapati seorang lelaki yang tak berkedip menatapku. Aku tak peduli jika ada yang aneh pada penampilanku, aku keluar bukan untuk mendapat perhatian orang lain.
Aku bernapas lega setelah memasuki tempat tujuanku. Di luar terlalu banyak pasang mata, membuatku merasa berat untuk sekadar mengambil napas. Entah apa alasannya, aku malas menghadapi lingkungan yang banyak orangnya. Aku merasa mereka memperhatikanku dan membuatku tak nyaman, padahal sebenarnya tak ada yang peduli padaku. Mungkin seperti ini pula yang dirasakan manusia-manusia introvert ketika berada di keramaian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wiyata Saujana
Ficción histórica~Ambassadors Pick 2024~ Ada rahasia besar yang tak diketahui Jasrin. Rahasia yang menjadi penyebab ia hirap ditelan waktu dan menjalani kodrat sebagai pemuas nafsu. Disaksikannya rakyat Hindia Belanda yang berjuang menjalani keseharian mereka di ten...
