Dadaku berdebar menghadapi keredupan relung yang cuma memperoleh cahaya dari obor yang dipegang dua jongos. Kakiku pelan-pelan memijak tangga bawah tanah yang licin. Sumpah serapah tertahan di dalam mulut akibat mereka tak juga mengambil kain yang menyumpal mulutku.
Setibanya di lantai bawah, mereka memasukkanku ke salah satu sel berpintu jeruji besi yang lembap dan kemungkinan besar dihuni banyak serangga. Salah satu jongos mengambil kain di mulutku, kemudian aku langsung berteriak sejadi-jadinya karena takut melihat sel di seberang yang berisi kerangka manusia.
Itu pasti tulang nyonya-nyonya pembangkang sebelum aku. Tak lama lagi aku pasti tinggal kerangka juga. Dan sialnya degup dadaku tak kunjung tenang.
"Kalian itu pribumi, kenapa bekerja dengan Londo?" Aku berusaha tampak garang, tetapi suaraku malah bergetar.
"Maaf, Mevrouw. Kami lebih makmur di sini." Setelah mengatakannya, dua jongos dan seorang kusir itu berlalu meninggalkan obor yang ditaruh di hadapan pintu selku, membuatku dapat melihat dengan jelas penampakan tengkorak di seberang sel.
Aku mengalihkan pandangan. Ingin berseru lagi meluapkan rasa gusar, tetapi takkan ada gunanya. Pandanganku beredar pada lantai berbatu yang tengah kupijak, mendapati banyak kecoak dan kelabang yang berlalu-lalang di sekitar kakiku. Aku menjerit dengan spontan, kemudian merutuki tindakanku yang mengakibatkan serangga-serangga itu berlarian dan merambati kakiku yang nyerinya kumat.
Malam buruk itu kulewati dengan berdiri memeluk tubuh sendiri demi mengusir rasa dingin yang membekuk. Kakiku semakin nyeri, tetapi aku tak mau duduk berselonjor di lantai yang menjadi sarang lipan. Kesadaranku masih utuh dalam raga sampai seekor laba-laba yang besarnya keterlaluan merambat di tembok sebelahku.
Entah berapa lama kesadaranku raib, bangun-bangun aku berharap telah keluar dari penjara bawah tanah itu, tetapi nyatanya tubuhku masih rebah di tanah yang becek. Sejenak aku linglung, kemudian sepenuhnya mengingat kenahasan yang menimpaku.
Aku sungguh putus asa setelah obor yang mulanya remang-remang kemudian padam sepenuhnya. Aku takut gelap. Ketika berada di kegelapan total, mataku sering menampakkan pendar yang sulit dijelaskan, seperti ketika pusing kunang-kunang tetapi berdenyut. Ah aku kesulitan menjelaskan, intinya itulah penyebab aku takut kegelapan. Dan sekarang aku tak dapat melakukan apa pun kecuali berusaha membuka pintu sel meski hasilnya mengecewakan. Tenagaku tak sebanding dengan engsel dan pintu yang digembok.
Aku menangis lirih, meluapkan ketakutan dan membuat tubuhku lelah agar nanti tertidur dan hilang sejenak dari kenyataan. Saat ini aku begitu mensyukuri hal sekecil apa pun yang menemaniku di bawah tanah ini, termasuk serangga-serangga yang merambati kakiku. Setidaknya aku tidak benar-benar sendiri. Dan suara tetesan air membuatku berpikir sejenak berada di dalam gua yang meneteskan air dari stalaktit. Ah, otakku jadi liar ke mana-mana.
Semakin lama, mataku kering dan suaraku serak. Akhirnya tubuhku lelah dan kepalaku pening yang kemudian semakin menjadi-jadi. Sebelum ambruk lagi karena letih dan mengantuk, mataku menangkap cahaya keemasan dari tangga, kemudian muncul netra biru milik Lark yang membawa obor di tangan berkulit pucatnya.
Sialnya, rasa lelah dan kantuk yang hendak membuat kesadaranku lenyap, tergantikan oleh debaran jantung yang membuatku semangat untuk terus melek. Kulirik Lark yang tersenyum pongah. Ia menatapku yang berlepotan tanah lembap penjara ini. Tatapannya menusuk sekali, tak ayal membuatku ciut setengah mati padahal selama ini aku selalu menunjukkan sisi angkuhku.
"Bagaimana? Masih kukuh melawan?" Sudut bibirnya miring di bawah kumis kekuningan.
"Keluarkan aku!" Aku mengguncang pintu dengan brutal.
"Aku tak mau melepaskanmu secara cuma-cuma." Dia mengedipkan sebelah mata birunya, kemudian melanjutkan, "Kau harus mengabdi padaku selama-lamanya."
"Maksudmu, aku harus jadi budak?"
"Budak berahiku. Selebihnya, kau akan menjadi Mevrouw di rumahku, bukan seorang gundik belaka."
Mataku membelalak, mengisyaratkan penolakan mutlak. Harga diriku serasa terinjak-injak atas ucapan dengan logat Belanda itu. Lark mengangguk sambil menampakkan raut kecewa yang kentara sekali dibuat-buat, kemudian berlalu menuju tangga.
Aku menatap si kuning bambu itu dengan dada bergemuruh. Cahaya api dari obornya mulai tak terlihat seiring Lark menghabiskan anak tangga. Lagi-lagi ketakutan menjalariku. Dan entah bodoh atau cerdas aku berseru, “Aku bersedia!”
Namun bukannya berbalik kepadaku, Lark terus bertolak dari penjara bawah tanah. Tak berapa lama berselang, dua jongos dan seorang kusir yang kemarin membawaku kemari membuka gembok yang menggerendel daun pintu. Dua jongos memegang—lebih ke mencengkeram lenganku, yang kusir memegang obor di depan kami. Aku berontak karena cengkeraman dua jongos di kanan-kiriku terasa menyiksa, dan mereka membentakku tepat di telinga. Sudahlah, harga diriku benar-benar luruh.
Sampai di atas, aku kian jelas melihat tanah basah yang mengotori pakaian dan kulitku. Seorang pembantu menuntun ke kamar mandi kemudian melucuti pakaianku satu per satu sebelum memandikanku layaknya aku ini masih bayi yang butuh diladeni. Ia pun menyuapiku dengan sendok porselen yang tampak estetik. Karena perut melilit akibat kelaparan, dengan lahap aku memakan nasi dengan lauk ayam panggang. Pembantu itu juga mendandaniku dengan polesan bedak tipis dan gincu merah delima, kemudian mengantarku ke dalam kamar yang telah diisi pria berkelakuan seperti binatang.
Menghela napas, aku berpasrah diri dengan keadaan yang membuatku tak dapat berbuat banyak. Aku sudah amat bersyukur bisa keluar dari penjara bawah tanah yang membuatku trauma berat. Sekarang aku cuma bisa berdoa dan berharap seseorang menyelamatkanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wiyata Saujana
Historical Fiction~Ambassadors Pick 2024~ Ada rahasia besar yang tak diketahui Jasrin. Rahasia yang menjadi penyebab ia hirap ditelan waktu dan menjalani kodrat sebagai pemuas nafsu. Disaksikannya rakyat Hindia Belanda yang berjuang menjalani keseharian mereka di ten...
