14. Sebelum Ditinggal

752 81 2
                                        

Baru sehari bergiat pada pengrajin Tionghoa, pada akhirnya Wira digeret juga oleh dua pejabat Hindia Belanda yang punya rambut pirang. Mulanya mereka tampak ramah seperti tamu pada umumnya, tapi begitulah semakin lama terbongkar juga kehendaknya mencari pribumi untuk menjalankan perintah yang sering kali membuat sengsara.

"Slimme aap," ucap pria dengan jas putih yang memegang tongkat. Ia tampak gembira mendapati Wira tak berontak seperti pribumi lain. Justru berjalan tegak tanpa keraguan atau ketakutan menerima risiko yang akan diberikan tuan-tuan itu.

Ia hanya menanamkan ini di dalam hatinya, Tuhan memberiku apa yang kuyakini. Dan aku yakin akan berhasil melalui ini semua.

Sugesti itu memupuk semangat bekerja meski tak dibayar. Saban hari bahkan malam, ia bersama pribumi lain memukul dan mengusung batu-batu besar yang kemudian menjadi bahan baku jalan aspal. Beberapa hari berselang, tak terhitung jumlah korban yang mati kelaparan akibat tak dikasih makan.

Karena semakin berkurangnya jumlah pekerja, tuan-tuan mandor memberi tambahan waktu istirahat untuk pekerja rodi mencari makanan. Sugesti baik membuat Wira tetap kuat. Ia tidak mau masuk klinik lagi. Maka dari itu, ia tak boleh sakit.

Siang itu terasa lebih terik dari biasanya. Banyak debu beterbangan. Tak terhitung bulir keringat yang menetes dari para pekerja rodi. Di antara pria-pria kurus kering, Wira memukul batu dengan tenaga yang tak kunjung luruh sementara kulitnya mengilat akibat keringat.

Kerasnya kehidupan sudah menjadi hal biasa baginya, walau yang ini memang jauh lebih berat sehingga membuatnya tak sempat memikirkan sang puspa hati.

***

Perutku terasa diaduk, berulang kali aku bolak-balik ke kamar mandi hingga Mbok Sal menyediakan ember di sisi ranjang. Isi perutku terkuras kalau terus begini. Tubuhku jadi lemas, kepalaku makin pening. Karena tak dapat menahan rasa yang sungguh tak mengenakkan, aku mengiakan tawaran Mbok Sal untuk memeriksakan diri ke klinik.

Aku bingung mesti bersyukur atau mengeluh setelah dokter memberitahuku yang tengah berbadan dua. Namun aku pun jadi panik karena Mbok Sal lekas membawaku pulang dan mencari jamu untuk menggugurkan kandunganku. Sayangnya jamu yang pahitnya bukan main itu tak mempan untuk kandunganku yang menapaki usia tiga bulan.

Betul saja, sepekan berlalu dan jabang bayi di perutku tak menunjukkan reaksi apa pun. Sementara aku santai karena sudah memasrahkan semua pada Sang Hyang Widhi, lain lagi dengan Mbok Sal yang kalang kabut mencari minuman beralkohol dan hendak menyuruh Soesanto mencarikan dukun pijat untuk menggugurkan bayiku. Namun, aku menolaknya karena selain takut akan karma, aku juga kuatir dengan rasa sakit akibat aborsi.

Mevrouw tak boleh begitu! Pokoknya Meneer tidak boleh tahu!” Mbok Sal garang sekali ketika menggertakku. Matanya mendelik, beda sekali dengan sisinya yang sering tunduk padaku.

“Mbok jangan seenaknya mengaturku, ya! Nanti aku yang dapat dosa besar. Lebih baik Lark mengetahuinya daripada aku yang dapat karma buruk.” Aku menyentuh perutku yang masih rata. “Biar dia mengusirku dari tempat terkutuk ini!”

Kubalas delikan Mbok Sal biar dia tak lagi berani padaku. Geram juga aku lama-lama. Jika aku dianggap nyonya di sini, ia juga mesti menghormatiku bukannya mengaturku seenak jidat. Dadaku mencelus ketika Lark membuka pintu dan mendengar perdebatanku dengan Mbok Sal. Mau tak mau pembantu yang makin menyebalkan itu berkata jujur pada Lark. Ujungnya aku tak boleh dikasih makanan sampai bayi ini tak berkembang.

Dugaannya salah, si jabang bayi masih bertahan sementara aku yang kepayahan. Tubuhku makin kurus, tulang igaku tampak menjengul. Kepalaku selalu pening, perutku tak usah ditanya betapa perihnya. Aku masih terpikir bahwa ini mimpi. Aku masih remaja lima belas tahun—atau sudah enam belas, aku tak tahu apakah sekarang sudah lewat bulan September apa belum. Dan tak mungkin mengandung anak dari tentara Belanda yang bermarga de Kleij. Kalau aku sungguhan berbadan dua, kuharap aku takkan bangun dari mimpi ini, sebab tak mau mengetahui reaksi orang tuaku.

"Mbok, apakah perjalanan lintas waktu benar adanya?" Tak kuhendaki suaraku serak, tetapi aku benar-benar merasa lemah.

"Itu mustahil." Mbok Sal memijat bahuku yang memprihatinkan seakan tinggal tulang yang terbalut kulit.

Kalau tak lagi rebah di kasur yang menenggelamkan tubuhku dalam lautan empuk, aku pasti cuma duduk-duduk di depan piringan hitam. Mujurlah Mbok Sal memberikanku sepiring makanan tiap Lark pergi bertugas. Meski kadang menyebalkan, setidaknya ialah satu-satunya yang dapat menghiburku.

"Kenapa Lark dipanggil meneer? Aku sering mendengar orang memanggil meneer kepada tuan pemilik kebun, bukan perwira." Aku mencoba membangun topik pembicaraan demi mengalihkan kegusaran diri sendiri, selagi Mbok Sal menyuapiku.

"Sama saja. Kita sebagai kaum rendah lumrah memanggil orang Londo dengan sebutan meneer. Entah itu pemilik tanah atau perwira. Lagi pula, Meneer Lark punya harta yang sebanding dengan para tuan tanah. Ayahnya itu gubernur di Netherland sana, tapi Meneer Lark memilih jalan hidupnya sendiri. "

"Aku berharap Lark binasa saat bertempur." Aku mendapat tepukan di mulut oleh Mbok Sal.

"Jangan begitu! Setidaknya Mevrouw aman tinggal di sini berkat Meneer Lark.”

"Aku tak butuh. Aku lebih memilih hidup di tengah hutan bersama kekasihku."

"Bagaimana jika dia diambil untuk kerja paksa? Mevrouw mampu hidup sendirian di sana?”

Menyinggung tentang kerja paksa, aku teringat sesuatu. “Tak ada yang namanya kerja paksa! Sebenarnya kita dijajah pejabat pribumi.”

“Saya tahu, Mevrouw.

Aku mengerling pada Mbok Sal yang menyorotkan tatapan nelangsa. Aku berbinar-binar mendapat seseorang yang sependapat denganku. Lekas-lekas kuhabiskan makananku sambil merancang rangrangan sinting yang mungkin bisa menyelamatkan negeri ini dari budaya korupsi.

Aku beringsut memutar lagu keroncong dari gramofon untuk meredam pembicaraan tabu ini supaya para jongos tak bisa menguping.

“Mbok, kita bisa membongkar kebusukan itu kalau kita berani bicara. Katakan saja alamat Jenderal Daendels padaku,” bujukku antusias sampai tak sadar kedua tangan mengepal di depan dada.

“Jauh, Mevrouw. Kita tak bisa ke Batavia tanpa ketahuan Meneer.

Bahuku melorot kecewa. Pupus sudah asaku menjadi pahlawan.

"Siapkan perlengkapanku. Besok aku berangkat ke Tondano." Lark muncul dari pintu besar yang memang dibiarkan terbuka. Badanku terperanjat, begitu pun dengan Mbok Sal.

“Kenapa kaget begitu? Apa yang kalian rencanakan?” Netra birunya memicing penuh selidik. Rambutnya lepek karena keringat tapi tak melunturkan ketampanan seorang Londo. Ah, kenapa aku baru sadar?

“Maaf, Meneer. Pembicaraan perempuan. Saya akan menyiapkan perlengkapannya,” sahut Mbok Sal kemudian melesat ke kamar Lark, sementara aku melanjutkan acara duduk manisku di depan gramofon. Mataku membeliak, mendapati piring bekas makanku masih teronggok di samping piringan hitam yang berputar.

"Terserah bila kau mempertahankan anak itu. Bersiap-siaplah jika dia lahir tanpa ayah karena belum tentu aku selamat dari perang," kata Lark sembari menyentuh bahuku.

Aku hendak bergembira ditinggalnya, tetapi mendadak hatiku gundah jika ia benar-benar gugur dalam perang. Kesensitifan orang mengandung memang sialan.

"Kapan kau berangkat?" Aku menyesali suara yang masih saja serak.

"Besok fajar. Maka, beri aku kasih sayang hanya untuk malam ini," pinta Lark sambil berlutut dan menangkup tanganku. Untuk pertama kalinya kuluruhkan rasa benci pada sang Meneer ketika pemilik rambut kuning bambu itu tak sanggup menampung rembesan air mata. Tak dapat disangkal aku ikut berkaca-kaca, kekerasan hatiku mendadak lunak. Pada malamnya, aku dengan sukarela melayani Lark yang tak lagi berlaku kasar.

_______

⁴ Slime aap : Monyet pintar.

Wiyata SaujanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang