28. Rahasia Mereka

526 56 3
                                        

Mama tak mau mengurai rengkuhannya padaku dan Juna. Mendengar isakan pilunya tak ayal membuatku ketularan. Papa pun mengusap-usap matanya. Aku tahu, mereka tak menyangka kembalinya aku setelah sekian lama pergi.

Namun, aku ikut menitikkan air mata bukan sepenuhnya karena terharu. Hatiku tersayat mengingat Adji tak bersamaku. Kapan lagi aku menjumpai pria sebaik dirinya.

Juna ikut menangis karena tidurnya terganggu. Lekas saja aku melepaskan diri dari dekapan Mama yang membuat napasku sesak untuk sesaat. Kususui Juna hingga ia tenang dengan berhati-hati agar kertas yang kusimpan dalam kutang tak terjatuh. Barulah semua menyadari bayiku ini kedinginan. Mama lekas menyelimuti Juna sementara Mbah Sepi mengambil air panas kuku kemudian dicelupkannya kaki Juna agar lebih hangat.

Setelah semuanya tenang, aku membawa Juna yang kembali tidur ke kamar, kemudian mengamankan surat kabar yang robek di beberapa sisinya dalam sela buku harianku.

***

Kemelut yang semalam kuciptakan akibat menggedor pintu dapat tercium oleh tetangga. Apalagi tiap Juna menangis, suaranya tak bisa dibilang lirih. Satu persatu tetangga berdatangan dengan dalih bertamu maupun menghibur Mama yang mereka anggap miring. Namun, sebetulnya mereka ingin tahu apa gerangan yang terjadi di rumahku—rumah Mbah Buyut tepatnya. Aku tak dapat mengelak, mereka melihatku sudah kembali, duduk di kursi rotan menghadap televisi sementara mereka melongok penuh rasa kemelitan dari ruang tamu. Aku enggan mengukir senyum penuh kepalsuan, memikirkan omongan yang mungkin akan mereka diskusikan—bahwa aku menghilang karena keluyuran sampai punya anak di luar nikah. Lagi pula, jika aku buka suara tentang kebenaran, siapa mau percaya? Bahkan jika aku tak membawa Juna, aku pun masih sulit memercayai adanya perjalanan waktu.

Para tetangga itu diladeni oleh Mbah Sepi dan Papa. Aku tak tahu ke mana perginya Mbah Buyut, sementara Mama agaknya memiliki pikiran yang sama denganku. Ia membawakanku teh hangat dan tak mau berhadapan dengan orang-orang penuh keingintahuan itu.

"Selama kau hilang, mereka menganggapku setengah gila. Bahkan mereka menduga-duga bahwa kau kabur bersama pacarmu. Meski mereka bergunjing di belakang, telingaku masih berfungsi dengan baik." Manik gelap Mama mengerikan untuk kupandangi. Ia menyimpan sakit hati yang begitu dalam.

"Kepergianku bukan kehendakku. Alas Ngares yang menjadi biang keladinya." Aku menyeruput teh yang mulai dingin. Mataku mengerling pada Juna yang menggeliat kemudian terlelap kembali dalam pangkuanku.

"Bukan salah hutan itu, Jasrin. Ini salahku. Aku pernah mengalaminya, perjalanan waktu hingga aku menikah di sana."

Aku kesulitan membuka suara lagi, bahkan berkedip pun rasanya enggan. "Apa yang disembunyikan Mama dariku?"

Mama menceritakan semua yang dialaminya dengan emosional. Ada kesedihan sekaligus bara dendam dalam maniknya. Perjalanan ini berkaitan dengan Alas Kejenang dan mimpi Mama. Aku tak menyangka, hutan itu menyimpan misteri padahal kukira Alas Ngares yang angker.

Meski dari kecil aku sering membaca buku harian Papa, aku tak menemukan sepenggal pun pengalamannya dalam menjelajah masa lalu bersama Mama kemudian mencari jalan keluar bersama. Aku menyimak kisah Mama dengan saksama. Jiwanya lebih dulu tiba di Majapahit sebelum disusul Papa yang membawa jiwa raga seperti halnya aku. Mama menikah dengan penduduk Majapahit tetapi dikhianati. Ketika Mama dan Papa hendak melakukan ritual untuk pulang, pengkhianat itu hendak menahan Mama, tetapi tak berhasil.

"Setelah kami kehilanganmu, Jasrin. Aku sering memimpikan suamiku di masa lalu masih menyimpan dendam sehingga mengutuk keturunanku. Mimpiku yang berulang-ulang biasanya berisi petunjuk." Mama tak dapat membendung air matanya lagi. "Aku berpikir kau tak dapat kembali."

"Aku memang tak bisa kembali jika tidak ditolong orang-orang baik di sana." Kemudian aku menceritakan pertemuanku dengan Wira, menjadi gundik, hingga mengenal Adji. Tak ketinggalan, aku menyebut nama Mbah Ismoyo. "Kuharap Mama tak kecewa bahwa aku beralih keyakinan."

Mama menggeleng seraya tersenyum. "Betapa tegarnya kau menghadapi itu semua, Jasrin."

"Bila aku tak bertemu Wira, mungkin aku sudah jadi gelandangan. Jika aku tak dibawa Meneer Lark, mungkin aku bakal mati kelaparan karena makanan yang dibawa Wira selalu terbatas. Kalau jongos tak coba menyetubuhiku, aku takkan pernah bisa menyelamatkan Wira dari busung lapar karena upah rodi yang dikorupsi. Jika aku tak mengenal Adji, kurasa aku akan menjadi gundik selamanya dan takkan bisa kembali."

“Pengalamanmu lebih buruk dariku, Jasrin. Maafkan aku. Ceritakan keparat yang menjadikanmu gundik!”

"Meneer Lark. Tentara kesepian yang jenuh dengan medan perang. Lagi pula, jika aku tak menjadi gundiknya, aku takkan pernah memiliki anak setampan Juna."

Kami mengerling pada Juna yang tertidur pulas. Rambut hitamnya belum sempat dipangkas. Meski kulit putih itu mengingatkanku akan Lark dan penjara bawah tanah, rasa sayangku padanya tak cukup diungkap dengan kata-kata.

***

Terhitung tiga hari sejak aku kembali dari Hindia Belanda, orang tuaku kekeh membawaku pulang ke Bantul, Yogyakarta. Aku mengiakan tanpa banyak cakap. Lagi pula, di sini aku masih diselimuti rasa takut jika sewaktu-waktu terlempar ke masa lalu lagi.

Tak banyak perbekalan yang dibawa dari Trowulan. Seplastik kepingan gula jawa mengingatkanku saat ikut Mbah Buyut mengambil nira dan aku tiba di Hindia Belanda. Sebelum memberikan tangan untuk kusalami, Mbah Buyut memakaikan kalung dengan bandul ukiran bunga wijayakusuma, persis yang dipakai Mama. Tanpa bertanya, aku paham benda ini berfungsi sebagai penangkal malapetaka perjalanan waktu yang mungkin masih dapat terulang.

“Kenapa Papa tidak memakai ini?” Aku menekuri bandul kalung yang berwarna cokelat tua.

“Tokoh-tokoh di masa lalu lebih suka terhadapmu dan emakmu,” ujar Mbah Buyut.

“Papa tidak penting bagi mereka,” celetuk Papa kemudian memberi isyarat supaya aku cepat masuk mobil.

Wiyata SaujanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang