8. Si Kuning Bambu

792 105 3
                                        

Cahaya rawi menyingsing, menembus dedaunan yang berembun. Aku bakal menikmati kesejukan tiada tara ini jika dadaku tak berdebar akibat termakan buah pikir negatifku sendiri. Kucari-cari Wira di luar wilayah sudung, menyibak belukar barangkali ia pingsan di sana, menyembul ke pinggir jalan utama barangkali melihatnya kembali. Namun nihil, membuat kepalaku pening.

Masa iya gara-gara perkataanku kemarin yang dikiranya membela Daendels, Wira jadi tak mau pulang. Aku lebih khawatir jika pemuda itu dimakan binatang buas, jatuh ke jurang, atau dibawa kompeni. Pikiran semakin liar kurang ajar tanpa seizinku, memberi bayangan tubuh Wira yang terkoyak-koyak dengan darah muncrat ke mana-mana. Dengan air mata yang sialnya semakin deras, aku berlari kecil ke jalan utama, mengabaikan nyeri kaki yang makin menjadi, pun mengabaikan Wira yang pernah mewanti-wantiku untuk tak keluar jauh dari sudung.

Setelah mencapai pemukiman, aku bertanya pada para wanita yang sedang mencari kutu rambut. "Permisi, apakah ada pemuda telanjang dada dan memakai celana batik lewat sini? Dia punya kumis."

Namun, mereka menggeleng dengan pandangan ganjil, tanpa ada keramahtamahan sedikit pun sebagaimana lelaki pembawa rumput dan pasutri Soma yang pernah membantuku.

"Ini pemukiman pribumi, berdarah murni Jawa. Singkek tidak pantas mengotori tanah kami." Seorang pria berperut buncit, kumis tebal, serta sandang hitam menatapku sinis. Hatiku terasa membara, tak lagi sudi bertanya pada orang-orang yang rasis.

Kakiku terus berlari meski berdenyut-denyut. Aku tak boleh manja lagi. Jika aku kehilangan Wira, hidupku tamat sebab tak tahu cara bertahan hidup di masa pelik seperti ini. Di setiap persimpangan jalan, instingku menjadi penunjuk arah dadakan yang mampu kuandalkan.

Gemercik air mulai terdengar, mengiringi seorang lelaki yang menyenandungkan nada keroncong. Aku merasa plong luar biasa, yakin bahwa Wira-lah si pemilik suara. Kususuri batu berlumut tanpa mengurangi kewaspadaan karena takut terkilir lagi kalau terpeleset. Air sebening kaca mulai tampak meluncur dari ketinggian. Di bawah air terjun itu, kudapati seorang lelaki berambut kuning bambu sedang membersihkan diri. Mataku terbelalak, degup jantung tak dapat ditenangkan, lekas-lekas aku berbalik tetapi keburu tergelincir akibat pergerakan yang tergesa. Kutengokkan kepala, rupanya ia sudah membalikkan tubuhnya padaku. Netra biru bertubrukan dengan netraku yang membelalak, terbayang apa yang bakal terjadi jika aku tak berhasil kabur.

Tak lagi kuacuhkan kaki yang lebih nyeri. Segera aku bangkit dan meninggalkan tempat itu.

"Wacht¹!"

Aku semakin merinding ketakutan. Kakiku melangkah tanpa tujuan sebab lupa jalan. "Wira! Tolong aku!" Sia-sia. Empu yang dipanggil tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Sekujur tubuhku dingin ketika sebuah tangan besar menarik lenganku, memaksa untuk berbalik badan menghadap si kuning bambu yang kini telah berpakaian hijau prajurit. Aku menampik cekalannya seraya berteriak minta tolong. Namun, tubuhku tak sanggup melawan Londo bongsor itu. Dia menarikku, memandangku dengan sorot menilai kemudian sekonyong-konyong mengecup bibirku. Kurang ajar! Ingin kuteriakkan segala umpatan, tetapi mulutku masih dibungkam dan cuma bisa menggumam tak jelas. Tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah ketika tubuhku dibopong ke rumah megah dengan dua pilar besar. Aku hanya bisa berharap, Wira datang bak pangeran berkuda demi menyelamatkanku jika ia tak juga diculik Londo dan dijadikan sebagai jongos.

Seorang wanita paruh baya membukakan pintu dan menyambut tuannya. Aku meminta tolong dengan lirih pada wanita itu, tetapi ia hanya mengerling iba tanpa mampu berkata apa pun. Aku paham ia berada di bawah kendali si kuning bambu dan tak punya kuasa untuk menolongku.

Si kuning bambu mendudukkanku di kasur empuk yang terasa nikmat jika tanganku tak gemetaran. "Jangan takut. Aku hanya menyelamatkanmu."

Aku memberikan delikan padanya meski debaran jantung terasa berdentam hingga kepala. Menyelamatkanku dari apa? Aku selamat jika tak bertemu dengannya, batinku.

"Seorang totok dilarang menginjak tanah itu. Kalau sampai perangkat desa tahu, kau akan mati." Ia melanjutkan dengan logat Belandanya.

Wanita paruh baya yang tadi menyambut tuannya, kini datang membawa gaun putih berenda serta perlengkapan mandi.

"Mari, Nyonya harus mandi," katanya.

"Aku tidak sudi mandi di sini! Cari perempuan lain untuk kaujadikan Nyai!" bentakku seraya melebarkan mata yang lambat laun berlinang dengan air.

"Tenang, kau bukan Nyai. Kau akan menjadi Mevrouw." Lelaki itu berujar dengan santai, membuat umpatanku meluncur begitu saja. Bajigur.

Wanita paruh baya yang mungkin bekerja sebagai babu atau pelayan itu menggeret paksa diriku ke kamar mandi.

***

Di tempat lain, Wira sedang bersandar di bawah pohon cengkih seraya merenungi kalimat Jasrin yang terkesan memihak lawan. Tak tahu saja perempuan itu betapa susahnya pribumi akibat bangsa barat yang seenak jidat menguasai Nusantara. Omong-omong susah, ia jadi teringat kenangan pahit terakhir bersama kedua orang tuanya.

Wira kecil dan orang tuanya sedang merumput di pegunungan. Ketika sedang asyik berbincang sembari memegang arit, ayah Wira jatuh tergelincir ke jurang. Ibu Wira syok, berteriak histeris hingga semaput. Wira kecil dengan kaki gemetar menuruni gunung, meminta tolong pada warga setelah sampai di lereng. Hampir semua warga di dusunnya berbondong-bondong ke tempat kejadian perkara. Para ibu-ibu menenangkan Wira yang menangis sambil berlari kecil.

Sesampainya di sana, ibu Wira telah sadar dan sedang meringkuk dengan pandangan kosong bak kehilangan separuh jiwa. Wira memeluk tubuh gempal ibunya, sedangkan wanita itu meratapi suaminya. "Mas Mojo, Kembali! Bangunkan aku dari mimpi ini ...."

Wira kecil ketakutan mendengar ibunya yang histeris untuk pertama kali. Lelaki kurus bermandi keringat itu menjerit tatkala ibunya melepaskan pelukan mereka kemudian merangkak ke pinggir tebing.

Warga menarik tubuh gempal itu dengan belingsatan. Teriakan nanar ibu-ibu tak membantu sama sekali. Kodrat tak bisa dihindari, tubuh ibu Wira bagai batu giok sepuluh ton. Tak ada warga yang tak kewalahan, berpasrah ketika ibu Wira terjun dari tebing gunung. Wira memekik memanggil sang ibu hingga otot lehernya tampak menonjol.

Wanita itu tersangkut di ranting pohon yang tumbuh di sisi gunung. Tidak ada satu pun orang yang berani mengambil raga tanpa jiwa itu mengetahui ketinggian gunung bak negeri di atas awan dengan kabut setebal daki.

Mereka memilih angkat tangan dibanding mengambil risiko besar; mendaki tebing curam demi mengambil mayat yang ‘salah sendiri bertindak gegabah’.

Wira menatap kecewa semuanya, kemudian berlari dengan air mata yang tidak dapat ditahan. Sejak saat itu, Wira menghidupi dirinya sendiri dengan merumput untuk kambingnya. Penghasilan lain ia dapatkan dari bertani dan berladang untuk tanah orang lain.

Ketika Belanda mulai menduduki kampungnya, warga beserta dirinya memilih angkat kaki. Dan ia menemukan perempuan lesehan di pinggir jembatan.

_______
¹ Wacht : Tunggu.

Wiyata SaujanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang