23. Luapan Afeksi

565 75 5
                                        

Orang-orang yang mengenakan caping lekas berjalan memanggul keranjang berisi hasil bumi untuk didagangkan. Bendi melintas membawa sekelompok priayi yang berangkat sekolah.

Semua yang dulunya tampak hitam putih di benak, kini kusaksikan begitu jelas suasana tempo dulu di pasar tradisional. Tak jarang aku papasan dengan anak-anak yang memakai goni sebagai penutup tubuh. Mereka memakai ikat pinggang dari serat bambu supaya goni yang dipakai tak melorot. Mataku berkaca-kaca tanpa bisa ditahan. Pun kujumpai wanita tua penjual makanan yang sudah jarang ditemui di zaman modern, nasi umbruk. Makanan tradisional itu dulunya menjadi favorit dan wajib dibeli saat berkunjung ke pasar tradisional. Nasi dengan kecambah dan bermacam sayuran serta sambal kacang itu diracik oleh tangan perempuan yang berpengalaman.

Aku bergegas mencari pedagang yang menjual perhiasan. Barangkali ada yang mau membeli cincin emas yang kupakai dari masa depan.

Memperbaiki posisi jarik gendongan Juna, kututup separuh wajahnya dari terik matahari sampai akhirnya kutemukan seorang pedagang India dengan perhiasan terpajang di depannya.

Setelah bernegosiasi sebentar, kudapatkan harga yang patut untuk cincinku kemudian berlalu mencari anak-anak yang berpakaian tak layak maupun yang telanjang bulat.

Kucegat mereka dan kuberikan beberapa gulden untuk membeli pakaian dan makanan. Raut kusut mereka seketika cerah, netra mereka memandangku penuh suka cita. Punggung tanganku diraih kemudian dicium, hatiku trenyuh dibuatnya.

Salah satu wanita yang tengah berbadan dua menghampiriku dengan senyum manis terkembang kemudian berkata, "Dari tadi aku melihat Mbakyu mengasih gulden pada anak-anak."

"Siapa namamu?"

"Patimah. Aku baru pertama kali melihat perempuan seperti Mbakyu lho, sampai bingung mau memanggil bagaimana. Dari bayi yang digendong, Mbakyu bisa dipanggil Nyonya, tapi mukanya masih Nona, atau Cici sebab matanya sipit. Karena memakai kebaya jadi saya panggil Mbakyu saja."

"Panggil Mbakyu juga tak apa."

"Manis sekali. Sudah berapa bulan?" Atensinya beralih pada Juna dalam gendongan.

"Beberapa hari lagi genap enam bulan." Kupersilakan Patimah mengelus dan mencium Juna tapi ia menggeleng.

"Saya terlalu kotor dan bau."

Kusentuh bahunya, menatapnya dalam. "Tak apa. Aku bakal senang Juna dicium wanita kuat seperti Yu Patimah."

Akhirnya dia mengelus dan mengecup pipi Juna. Ia minta didoakan agar calon anaknya sehat dan semanis Juna. Ia hendak berlalu karena dipanggil simboknya yang telah selesai membeli ikan asin.

Aku terus mengelilingi pasar hingga mendapati ibu-ibu yang tengah bergerombol. Aku penasaran dan ternyata mereka merubungi penjual payung. Aku ikut membelinya biar Juna tak kepanasan. Payung yang bentangannya dari kain berwarna biru kubeli seharga dua gulden.

Kuharap Adji tak mendapatiku berkeliaran di pasar. Niatku ingin kabur ke hutan tempatku pertama tiba, tetapi malah kesasar sampai pasar. Aku betah tinggal bersama Adji, tetapi desas-desus keberadaanku sudah tersebar. Bahkan sempat ada orang yang mengetuk jendela kamarku sekadar membuktikan. Mereka akhirnya mendapat kata-kata tajam dari Adji yang tak nyaman terhadap sikap lancang mereka.

Aku sadar diri, aku bukan siapa-siapa. Aku hanya akan mencoreng nama baik Adji.

Kesibukan Adji sebagai bupati membuat kebersamaan kami di malam hari berkurang. Ia lelah tentu saja. Aku pun penat mengurus Juna sendirian. Mengandalkan naluri, akhirnya aku sampai di wilayah gedung bupati dengan mentari yang telah tertutup awan kelabu.

"Benar, aku lihat sendiri Raden Mas Adji membeli pakaian bayi di pasar." Aku menangkap pembicaraan beberapa gadis yang sedang berkerumun di belakangku. Kulirik mereka dengan ekor mata. Mereka sepertinya keturunan ningrat, mengenakan kebaya berkilauan dan rambut disanggul rapi.

"Tak kusangka pria pandai seperti itu mengikuti budaya Meneer."

“Romonya mata duitan, anaknya mata keranjang hahaha.”

"Anehnya lagi gundik itu mau-mau saja melayani Raden Mas Adji. Bukankah lebih menguntungkan jadi gundik Meneer daripada inlander?"

"Kalau telanjur tak punya harga diri ya begitulah."

"Dengar-dengar, Raden Mas Adji mendatangi dukun. Kurasa ia kena guna-guna sampai bersikap aneh seperti itu."

Telingaku panas, hatiku membara. "Kurasa yang kalian bicarakan itu salah kaprah. Gundik berbeda dengan pelacur. Kebanyakan dari mereka terpaksa menyerahkan diri karena keadaan. Setidaknya gundik itu setia pada satu orang yang dilayani. Cobalah berempati, bagaimana jika kalian bukan ningrat, melainkan anak yang lahir dari petani? Kalian akan merasakan sulitnya bertahan hidup."

Mereka tergagap kemudian menunduk, akan tetapi mata mereka mencuri pandang padaku.

"Permisi, Nyonya." Dan keempat gadis itu berlalu.

Kupandangi mereka yang menjauh sambil berbisik-bisik. Ternyata perempuan zaman kolonial sama menyebalkannya dengan perempuan di zaman reformasi, suka bergosip.

Lewat jalan tikus yang dipenuhi belukar, aku mengendap-endap ke bangunan di belakang gedung. Aku ragu melangkah. Tekadku untuk kabur gatot dan kini Adji mondar-mandir di serambi belakang dengan wajah pias. Aku melangkah mundur tetapi Juna tergores lalang sampai merengek.

"Jasrin, keluar! Kasihan Juna."

***

Aku mendekam di sudut dipan dengan Juna di pangkuan sedang memainkan mainan kerincing pemberian Adji. Kupingku panas sedari tadi mendengar cecaran Adji yang tak suka permainan kucing-kucinganku.

"Ini bukan tempatku. Aku hanya tak mau merepotkanmu terus-menerus." Air mataku tak tertahan lagi. Bibirku gemetar, jantungku berdebar takut mendapati tatapan tajamnya.

"Kalau kau diculik Londo lagi, itu yang bakal merepotkanku."

"Maaf, aku memang pembawa sial."

Ia memegang kepalanya frustrasi dan tatapannya makin lunak. Kemudian aku terkesiap mendapat pelukan darinya. Aku tahu perlakuan itu tidak wajar sebagai wujud kasih sayang seorang teman. Aku tahu hubungan kami semakin dekat. Witing tresna jalaran saka kulina. Benih cinta akan tumbuh karena terbiasa. Aku sadar itu. Namun aku tak bisa, diriku telah ternoda. Tubuhku telah digerayangi oleh Londo, bahkan hampir saja oleh jongos. Sementara hatiku masih menyimpan sosok Wira.

Tak kubalas pelukannya yang semakin erat dan Juna merengek karena sesak. Adji memegang pipiku, memaksaku untuk menatapnya tapi mataku terus tertuju ke bawah dengan air mata yang berlinang.

"Jasrin, aku tak bisa menahannya lagi. Aku terlalu sayang padamu. Aku ingin memilikimu seutuhnya."

"Aku tak bisa." Aku langsung menggeleng, melepaskan tangannya dari pipiku yang basah. "Aku tak suci lagi. Nama baikmu akan tercoreng karenaku."

"Tidak. Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah tahu keistimewaan dirimu. Auramu memikatku sejak kau masih jadi kekasih Wira. Selama kau di sini, aku menahan mati-matian untuk tidak menyentuhmu. Kau akan menghancurkanku dengan kabur seperti itu. Tolong jangan pergi."

"Adji, banyak gadis ningrat yang mengagumimu. Pilihlah salah satu, jangan pilih diriku yang tak jelas kehidupannya ini."

"Hatiku yang memilihmu, Jasrin."

"Jangan andalkan hatimu saja, Adji. Gunakan akalmu, pikirkan jangka panjangnya. Keluargamu akan membenciku, priayi lain akan memandangku sebelah mata. Belum lagi masyarakat akan bertanya-tanya tentang latar belakangku dan Juna."

Wiyata SaujanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang