16. Besar Nyali

296 33 10
                                        

Aku menjilati jemariku setelah puas menandaskan nasi uduk yang dibeli di pasar. Perjalanan dari Panarukan ke Batavia menaiki andong agaknya perlu waktu sebulan penuh. Gila, gara-gara si cabul Soesanto! Kegilaan ini sekalian saja akan kumanfaatkan untuk mengunjungi istana gubernur. Namun, aku mesti bisa bertahan hidup di jalanan selama sebulan, dalam keadaan mengandung.

“Oh, iya, Mbok. Baru terpikir, kenapa kita tak mengirim surat saja daripada jauh-jauh ke Batavia,” celetukku tak nyaman.

“Apa tujuan utama kita pergi? Untuk melapor atau menghindari Soesanto?”

Aku bernapas lega, ternyata tak salah melangkah. Jika jongos itu bisa keluar dari kamar, tamatlah riwayatku kalau tak pergi jauh sekalian. Dia bisa bergerak macam telik sandi, seperti saat mencegatku yang hendak ke klinik menyusul Wira.

Kupandangi persawahan yang dibelah jalur lengang. Beberapa anak yang bermain di pematang melambaikan tangan sambil bersorak-sorai, kubalas lambaian mereka tak kalah antusiasnya. Kalau aku punya ponsel, pasti pemandangan ini sudah kujadikan konten videografi.

Mevrouw, apa kita punya bukti untuk meyakinkan Tuan Daendels?”

Aku menggeleng.

“Aduh, bagaimana ini?”

“Tenang, Mbok. Kita katakan saja kabar yang beredar di kalangan masyarakat kecil, bahwa pekerja itu tidak dikasih upah. Kalau tak percaya, aku akan menantangnya untuk menilik sendiri kondisi mereka,” jawabku, sebenarnya untuk menenangkan diri sendiri karena aku pun skeptis misi ini akan berjalan lancar.

“Bagaimana Mevrouw tahu kondisi mereka seperti apa?”

“Entahlah. Pokoknya aku tahu kalau Tuan Daendels memberi upah,” Aku tak mau membongkar informasi yang masih jadi perdebatan di masa depan dan beredar di internet, bahwa pekerja rodi sebenarnya digaji tetapi dikorupsi.

Mevrouw seperti membela Be—”

Aku memotong celetukan Tugi. “Aku tak membela Daendels. Aku cuma tak mau pekerja rodi mati mengenaskan.”

Kubiarkan kemurungan menghiasi tampangku. Kalau sampai Wira digeret jadi pekerja, aku takkan rela ia mati kelaparan hanya gara-gara penggelapan uang dari orang yang mata duitan.

Seharian penuh aku terkantuk-kantuk di sepanjang jalan. Suara Mbok Sal yang tengah menceritakan masa mudanya seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri begitu saja. Intinya ia sakit hati gara-gara dijual bapaknya sendiri. Sesekali roda andong melindas batu dan membuatku tersentak kaget.

***

Aku sudah terbiasa hidup susah. Tinggal di hutan, sudung, gudang apak, bahkan penjara bawah tanah. Perjalanan di bawah terik matahari kemarau tak ada apanya dibanding perjuangan sebelumnya. Ketimbang meladeni Soesanto si jongos tak tahu diuntung itu, lebih baik aku terkatung-katung menahan lapar dari daerah ke daerah lain demi sampai Batavia.

Aku tahu, tak baik orang berbadan dua naik andong di atas jalan berlubang-lubang, apalagi dua kuda penariknya melaju cepat demi mengejar waktu. Tapi aku pun tahu bayiku tak selemah itu. Ia sudah memilih takdir untuk melihat serpihan surga bernama Bumi. Meski Lark membuatku hampir mati kelaparan dan Mbok Sal mencekoki jamu pengguguran kandungan, jabang bayiku masih sanggup berkembang.

Wilayah demi wilayah kami lalui. Sawah, jembatan, permukiman, ladang, hingga lambat laun banyak pabrik yang menjulang menandakan kami telah melintasi kota. Tiap pasar kami sambangi, persediaan makan dan minum untuk sehari semalam memenuhi kursi penumpang. Bila ada penginapan, kami bermalam di sana. Satu kamar untuk tiga orang demi menghemat gulden yang tak seberapa. Jika permadani hitam menyelimuti cakrawala tetapi kami tak menjumpai rumah bermalam, maka kami tidur di pinggir jalan bersama dua kuda deragem yang juga mendekam tak jauh dari kami. Saat dompetku mulai melompong, kami berhenti di pasar untuk menjual kalung dan anting-antingku.

Memasuki kota, kami sangat bersyukur jika berpapasan dengan pencari rumput yang memanggul keranjang. Mereka pasti bersedia rumputnya kubeli untuk pakan kuda. Sebagai cadangan, aku sempat membeli dedak kering beserta embernya. Kalau tak mendapat rumput, maka mereka makan dedak yang dicampur air.

Untunglah kami lekas tiba di Weltevreden⁵, pinggiran selatan Batavia. Entah genap sebulan atau tidak, aku tak ingat hitungan hariku sampai di angka berapa. Menjelang siang, kami ke sana-kemari layaknya orang hilang yang buta arah. Batavia tempo dulu bebas dari gedung pencakar langit serta polusi berlebihan. Paling-paling, gedung besar yang mengeluarkan polusi hanyalah pabrik gula. Banyak pohon di pinggir jalan, banyak taman yang dihuni burung kecil di antara bangunan-bangunan bergaya Belanda.

Selepas mengantar Mbok Sal beli pisau yang katanya untuk menikam jantung Soesanto jika berbuat macam-macam lagi, tak ada waktu lama untuk menikmati panorama segar Jakarta tempo dulu. Aku tak dapat mengandalkan Tugi yang baru pertama kemari, atau Mbok Sal yang tampak cemas berhadapan dengan lingkungan asing. Aku masuk taman dan menghampiri dua pemuda berpakaian setelan jas.

“Permisi, Tuan. Kantor gubernur di mana, ya?” tanyaku tanpa basa-basi.

Keduanya menaruh atensi padaku, salah satunya menyeletuk, “Kenapa Nona ingin ke sana?”

“Cukup katakan arahnya, tolong.” Aku menangkupkan kedua tangan memohon supaya mereka tak perlu ikut campur.

Pemuda necis berambut klimis itu berdiri, memegang punggungku supaya ikut duduk bersama mereka di bangku yang menghadap jalan. Aku menggigit bibir gamang. Melihat reaksiku, ia tergelak dan berkata, “Tenang, Nona. Katakan tujuanmu dulu, siapa tahu rencana kita sama.”

Aku melambai pada Mbok Sal yang mematung di bawah petromaks andong untuk ikut duduk, tetapi ia menggeleng.

“Pokoknya aku punya urusan.”

“Kami mau ke istana gubernur juga, unjuk rasa atas meninggalnya pekerja rodi.”

Aku terpaku selama beberapa saat sampai pemuda itu menepuk bahuku. “Nona baik-baik saja?”

“Aku hendak melapor pada Jenderal Daendels bahwa hak para pekerja tak sampai di tangan mereka.”

“Jangan menangis, Nona. Mari kita bekerja sama.”

Terlalu emosional membuatku nyaris menjatuhkan air mata. Aku teringat Wira yang tak kutahu lagi bagaimana nasibnya. Jika ia menjadi salah satu pekerja yang tewas itu, aku tak tahu bakal seremuk apa hatiku.

“Aku Jan.” Pemuda itu mengulurkan tangan, aku menyambutnya. Kemudian ia mengenalkan teman Indonya yang lebih tinggi bernama Thomas.

“Aku Jasrin. Dia Mbok Sal.” Aku mengerling pada wanita paruh baya itu yang sudah turun dari andong, tetapi berhenti di bawah lampu penerang taman.

Kami menuju istana gubernur saat itu juga. Tugi kutitahkan menunggu di pinggir taman karena tak mungkin andongnya ikut dibawa ke depan istana gubernur. Sepanjang jalan, Jan terus mengajakku dan Mbok Sal bercengkerama, meski aku yang kerap menanggapi karena Mbok Sal mendadak jadi pendiam. Pemuda itu masih tak menyangka perempuan seperti kami datang jauh-jauh dari Situbondo demi menghadap Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang katanya susah ditemui karena kesibukannya.

“Tapi tenang saja, dengan tampang Thomas yang kebarat-baratan, kita pasti diizinkan masuk kantor,” kata Jan. Agaknya ia memang pandai membuat lawan bicaranya tak canggung. Lain halnya dengan Thomas yang tampak malu-malu.

_______
⁵ Weltevreden : Daerah tempat tinggal utama bagi orang Eropa di Batavia.
⁶ Indo : Peranakan campuran antara Eropa dengan pribumi.

Wiyata SaujanaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang