21. Kaul Keterangan

553 70 1
                                        

"Adji, kenapa kau baik padaku?"

"Karena kau kekasih Wira." Ia menuangkan teh dari poci ke dalam cangkir bermotif mawar, kemudian menyodorkannya padaku. "Sejujurnya aku masih punya rasa bersalah kepadanya."

Dahiku mengerut meminta penjelasan lebih lanjut. Walau sebenarnya hati belum siap membicarakan pria yang telah mangkat dan jasadnya kini entah bagaimana di rumah Lark itu.

"Mungkin, alangkah baiknya kuceritakan semua tentang keluarga kami.” Tatapannya menembus manikku, membuatku berupaya menutup kegugupan.

"Tak perlu jika itu membuatmu tak nyaman."

"Tak apa. Supaya kita punya obrolan." Ia terkekeh sebelum kembali menampakkan raut serius dan menghela napas. "Romoku ialah saudara tiri bapak Wira—Pakde Soedirjo. Romo diangkat oleh Kakek karena prihatin terhadap ibu kandung Romo yang sakit-sakitan."

Ia menatapku dan aku mengangguk mengerti. Dilanjutkannya dengan sorot menerawang, "Kakek adalah seorang ningrat, memiliki darah Mataram walaupun beliau cuma keturunan selir. Pakde Soedirjo itu anak kandung Kakek yang banyak tingkahnya dan cenderung jail. Ketika dewasa, ia jatuh cinta pada kaum rendahan dan meninggalkan gelar ningratnya. Pakde Soedirjo tinggal bersama ibu Wira—Bude Lasmi di lereng gunung. Kakek tak menghalangi niat Pakde karena beliau masih punya Romo sebagai penerusnya." Ia menunduk dengan napas berat sebelum melanjutkan, "Setelah Kakek wafat, Romo membangun rumah di dekat kediaman Pakde. Mereka tetap silaturahmi seperti saudara kebanyakan sebelum Romo fokus mengurus pekerjaannya dan Biyung mengurus adik kembarku. Waktu itu aku dan Wira berusia sekitar dua tahunan, Bude Lasmi-lah yang sering mengganti popokku dan merawatku seperti anaknya sendiri. Akhirnya kami berpisah ketika umur sepuluh tahun karena Romo harus meneruskan pekerjaan Kakek di kota."

Mataku lama tak berkedip seraya menelan informasi yang tak kusangka-sangka. "Jadi, itulah muasal nama Rayan dan Basoendoro yang dirahasiakan Wira?"

"Begitulah. Sebenarnya dia yang ningrat, bukan aku. Kami tak cuma sekadar sahabat, tapi kerabat walau Romo cuma anak angkat. Makanya, aku merasa kehidupanku sebagai anak bupati bukanlah hakku, melainkan hak Wira."

Tangisku pecah menyesali keadaan. Wira memiliki darah biru, tapi ia hidup sengsara dan mati konyol di tangan Londo bejat.

Adji menepuk bahuku dengan lembut. "Sudah, kasihan Wira jika kau terus-terusan berduka. Nanti anakmu ikut menangis lho."

Aku memaksakan senyum sembari menatap mata sehitam arangnya. "Menurutmu, nama Reswara Basoendoro cocok dengannya?" Kutatap bayi berkulit putih itu dan mengelus rambut tipisnya. Rona kemerahan mewarnai pipinya yang membuatku gemas ingin terus mencubit.

"Jangan! Aku khawatir nasibnya tak jauh beda dengan Wira. Lebih baik nama yang sederhana tapi mengandung doa baik."

"Ya sudah. Bantu aku memilih nama." Aku bersedekap pura-pura merajuk.

"Hm ... Soe ... Soetomo?"

"Tidak! Itu nama tokoh pahlawan kelak."

"Apa maksudmu?"

Aku menutup mulut secara spontan. Adji terus mengamatiku penuh selidik. Kepekaannya kuat dan ia takkan semudah itu mengabaikan ungkapanku barusan.

“Baiklah-baiklah. Terserah kau saja. Aku tak pandai memberi nama.” Aku berusaha mengalihkan perhatiannya.

"Bagaimana kalau Atmo ..." Pandangannya berhenti pada ukiran Arjuna di tembok. "Arjoeno? Ya, Atmo Arjoeno. Aku harap jiwanya segagah tokoh Arjoeno."

“Kuno sekali! Lebih bagus kalau Atma Arjuna,” sanggahku.

“Atma terdengar seperti perempuan,” debatnya.

“Kurasa tidak. Lagi pula nama panggilannya Juna, biar jadi koki sehebat Chef Juna.”

Aku menggigit bibir, keceplosan untuk yang kedua kali. Ah, mulut sialan. Tak berani kubalas tatapan Adji yang menajam dan seolah-olah menelanjangiku bulat-bulat.

"Jadi, sudah bisa kaujelaskan tentang Soetomo dan Sef Juna?"

"Bukan apa-apa."

"Aku yakin ada apa-apa. Kau bukan perempuan biasa, Jasrin. Dari namamu saja sudah ketahuan. Orang singkek tak ada yang punya nama seperti itu apalagi pribumi. Bahkan kau merahasiakan tempat asal dan orang tuamu. Aku tahu pembawaanmu berbeda, Jasrin."

"Jika kau percaya, aku tiba-tiba ada di sini. Tepatnya di hutan sebelum aku bertemu Wira. Seingatku, aku ikut Mbah Buyut mengambil nira di hutan sebelum kilatan cahaya membuatku berpindah waktu dan tempat. Tak masuk nalar bukan?"

"Itu aneh. Tapi aku percaya, pikiranku cukup terbuka untuk menerima adanya perjalanan waktu."

Wiyata SaujanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang