Sesuai perkiraan, Soesanto melontarkan sumpah serapah tepat di depan wajahku saat kami pulang entah berapa lama perjalanan. Kata kasarnya kubalas dengan gerakan bibir meledek yang mampu membuatnya kian naik pitam. Melihat sosoknya membuatku mual. Bayangan ketika ia melepas kancing piamaku sangat menjijikkan.
“Jaga mulutmu! Kalau sampai Mevrouw kenapa-kenapa, meledos endasmu ditembak Meneer.” Mbok Sal memelototi Soesanto. “Dan kalau kau nekat menyentuh Mevrouw, kau bakal modar di tanganku!”
Mbok Sal menodongkan pisau oleh-oleh dari Batavia ke arah leher Soesanto sebelum melenggang menyusulku ke dalam.
“Pokoknya aku takkan membiarkan kalian keluar rumah!” Soesanto masih berteriak-teriak, tak malu apabila didengar tetangga.
“Karepmu¹⁰!” balas Mbok Sal.
Kami kelelahan karena perjalanan jauh, jongos itu malah menambah panas suasana hati.
Aku merebah di kasur kapuk dengan seprei motif mawar. Kasur yang menyaksikan tak cuma satu dua kali aku dilecehkan. Tangisku pecah saat teringat Soesanto yang menjulang di atasku. Aku bergidik ngeri, mengalihkan pikiran pada malam terakhir bersama Lark. Aku menggeleng, tak mau mengharapkan lelaki itu kembali. Malam itu memang ia bersikap lembut, tapi tak dapat memperbaiki kesalahannya yang telah lalu. Aku hampir mati ketakutan di penjara bawah tanah. Aku hampir mati depresi di gudang. Aku hampir mati kelaparan andai Mbok Sal mematuhi perintah Lark.
Mataku menggeridip, telingaku berdenging saking senyapnya suasana. Rumah ini terlalu besar. Harusnya Lark menambah gundik lagi, kenapa ia cukup memilikiku saja? Kalau ia mencintaiku, harusnya tidak menyiksaku.
Ah, sudahlah. Biarkan ia sibuk dengan laganya.
Setahuku, Perang Tondano terjadi karena pemberontakan orang Minahasa yang tak mau menjadi pasukan koloni Belanda. Ketangguhan orang Minahasa membuat pihak Belanda banyak berjatuhan. Makanya, aku sedikit khawatir Lark ikut menjadi korban, dan anakku ini menjadi yatim. Orang Minahasa bakal terus melawan, hingga peperangan berlangsung setahun. Selama itu pula aku harus digerogoti rasa kuatir akan keselamatan Lark agar anakku masih punya ayah yang bernyawa.
Minahasa takluk ketika Agustus 1809. Para pejuang memilih mati daripada menyerah selepas benteng pertahanan Moraya hancur. Dulu aku pernah membuat makalah tentang Perang Tondano dan sekarang masih ingat intinya. Kurasa hidup ini tak ada yang kebetulan, tetapi semua sudah diatur sedemikian rupa dengan benang yang saling bertaut.
***
Tak sampai sebulan setelah aku tiba di Panarukan, aku mendapat surat kabar yang memuat gambar kuitansi di halaman utama. Aku tak bisa bahasa Belanda, jadi kuminta Mbok Sal menerjemahkannya.
“Lengsernya Jabatan Bupati Panarukan Seusai Mengambil Hak Pekerja Rodi.”
Baru judulnya saja aku sudah memekik gembira. Mbok Sal meneruskan terjemahannya.
“Mendapat laporan banyaknya pekerja tewas akibat kelaparan sekaligus penyakit malaria yang merajalela, Gubernur-Jenderal H. W. Daendels turun tangan dengan membawa serta dokter-dokter untuk memberantas wabah malaria di Anyer.
Sementara itu, menurut keterangan para pekerja di Panarukan, mereka tak pernah diberi upah maupun makanan oleh mandor. Sehari-hari mereka hanya menyantap umbi-umbian mentah. Gubernur-Jenderal menyelidiki Bupati Situbondo, Soeroto sampai terbukti benar melakukan penggelapan.
Gubernur-Jenderal mencopot jabatan Bupati Situbondo, sekaligus memasukkannya ke dalam sel selagi menanti waktu eksekusi.
“Jika tak diberantas dengan hukuman setimpal, tikus-tikus kantor akan membudaya dari masa ke masa,” ujar Gubernur Jenderal.
Batavia, 1808
Stem Van Het Volk
Aku menggunting halaman pertama surat kabar tersebut. Berpengaruh atau tidaknya tindakanku terhadap buku sejarah, setidaknya saat ini aku menyelamatkan banyak orang dari malaria dan busung lapar. Bukan hanya aku, tetapi Mbok Sal, Jan, serta Thomas yang sangat berkesan meski perjumpaan kami terlalu singkat.
Kami tak mendapat imbalan apa-apa, tetapi aku puas bisa menyibak kesalahpahaman yang bertahan hingga ratusan tahun lamanya. Kalau bisa pulang, aku berjanji akan membawa potongan surat kabar ini dan menjadikannya arsip bersejarah. Bila perlu, akan kusebarkan di media sosial bahwa selama ini kita ditipu buku sejarah.
***
Perutku makin membuncit. Janin yang kukandung terus berkembang hingga tendangannya dapat kurasakan. Sungguh masih tak menyangka perempuan usia belasan ini hampir jadi ibu. Menurut hitunganku, tiga bulan lagi bayi ini akan keluar melihat baik-buruk loka fana.
Karena tak ada Lark, Mbok Sal bebas mengurusku seperti anaknya sendiri. Ia mengajariku memijat perut yang benar supaya posisi jabang bayi lebih tertata. Walau menurut banyak orang di zamanku itu hanya mitos, tetapi memijat perut memang membuat nyaman dan melancarkan peredaran darah.
Tak dapat kubayangkan seperti apa anakku nantinya. Ayahnya Belanda, ibunya Indo-Jepang, dibesarkan dengan cara kejawen.
Sebetulnya aku gembira dengan keberadaan anakku di dalam perut meski pada mulanya sangat mengutuknya. Aku tak sabar melihat wujudnya. Berambut pirang ataukah hitam? Hidungnya bangir atau demes?
Keseharianku damai sementara di luar sana banyak kerusuhan. Aku tak pernah keluar semenjak merayau ke Batavia akibat nyaris ditiduri jongos. Meski jauh dari dunia luar, bocah pengantar koran saban harinya melangkah di depan pelataran sambil melempar segulung surat kabar. Lagi pula jika keluar rumah, aku tak pernah siap mendapat tatapan sinis dari para nyonya maupun pribumi.
Kupikir mereka merasa aneh denganku yang tak jelas asal-usulnya ini. Wajahku tak ada Belandanya sama sekali, tak cocok memakai gaun berenda dan rambut ikal sebahu. Sementara gundik umumnya pribumi tulen macam Mbok Sal. Perempuan dengan ciri fisik sepertiku banyak yang bergiat di rumah bordil, bukannya menjadi Mevrouw.
Saban malam ketika aku sendirian di teras, angin membisikkan nama yang lama tak kujumpa. Rayan Wira Basoendoro. Pemuda tangguh yang manis lagi tsundere itu. Sunyi malam membuat rasa rinduku leluasa menyelimuti diri yang penuh tanya ini. Aku tak tahu bagaimana kabarnya dan apakah kami bisa berjumpa kembali. Air mataku selalu deras mengucur tiap mengingat sosok itu meski ada kalanya juga merindukan wajah rupawan Lark yang mulanya sangat kubenci.
Malam ini, ialah malam ke sekian kali aku merenungi pribumi itu. Pemuda misterius tetapi aku merasa begitu mengenalnya. Wira. Hatiku trenyuh tiap nama itu melintasi batinku. Kuharap ia juga mengingatku di mana pun ia berada, sekalipun di masa yang berbeda.
_______
¹⁰ Karepmu : Terserah kau.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wiyata Saujana
Historical Fiction~Ambassadors Pick 2024~ Ada rahasia besar yang tak diketahui Jasrin. Rahasia yang menjadi penyebab ia hirap ditelan waktu dan menjalani kodrat sebagai pemuas nafsu. Disaksikannya rakyat Hindia Belanda yang berjuang menjalani keseharian mereka di ten...
