Jasrin : Panarukan, 1808
Hatiku berdebar ketika bibir kenyal itu menyambut bibirku. Rasanya agak pahit dan seketika kusadari adegan ini tak senikmat gambaran di film. Aku tahu Wira dehidrasi. Tubuhnya basah oleh keringat, lengannya ternoda oleh bekas luka memanjang yang menjadi saksi kerja kerasnya.
Gebrakan pada pintu menghentikan kami yang sedang dibuai bara rindu. Aku menciut mengetahui sosok Lark yang tampak murka. Ia berlari kemudian memukul rahang Wira hingga menimbulkan suara gemeletuk yang membuatku ikut ngilu.
Jeritanku tak bisa ditahan. Kusaksikan adegan pukul memukul antara dua lelaki yang menjadi bagian hidupku. Umpatan keluar dari mulut mereka dengan bahasa ibu masing-masing. Aku hendak melerai, tetapi Mbok Sal memalangiku sekuat tenaga. Pembantu itu berteriak memanggil Soesanto dan aku dipaksa mereka untuk berbalik masuk ke kamar melewati lorong yang penuh akan lukisan renaisans. Sebelum terlaksana, seruan pistol membuatku membeliak tak percaya. Darah merembes dari perut Wira, menembus kaus putih yang bernoda merah.
Kuserukan namanya, menghambur pada raga yang ambruk. "Wira! Bangun!"
"Jasrin, Rokimah-ku, jangan menjadi perempuan lemah. Lawan para Londo sekalipun itu suamimu sendiri."
Ia memejamkan matanya penuh kepasrahan sementara tangisku makin menjadi. Tak hanya batin, tubuhku pun benar-benar sakit ketika Lark sekonyong-konyong menendang punggungku hingga tersungkur. Penglihatanku mengabur, Mbok Sal menjerit kemudian memelukku.
Suasana dalam rumah itu kacau balau. Teriakan dan tangis susul-menyusul. Anehnya aku masih sempat berpikir bahwa Lark kabur dari perang. Harusnya ia kembali setelah anaknya lahir berhubung perang terjadi selama satu tahunan dan ini masih kurang beberapa bulan.
Namun, pikiran itu tak berkelanjutan sebab perutku sakit luar biasa. Lark tak puas hanya menendangku. Ia menarik lenganku kemudian mendorongku ke meja gramofon di pojok ruangan. Aku mencomot lembaran surat kabar Daendels, menggenggamnya kemudian meringis kesakitan akibat pinggang yang menubruk sudut meja, kemudian luruh ke lantai dengan darah mengalir dari selangkangan. Ia meneriakkan segala umpatan padaku sementara Mbok Sal tersedu menghampiriku.
Jantungku berdegup tak keruan, berusaha melepaskan diri dari cekalan Mbok Sal kemudian sempoyongan keluar rumah lewat pintu belakang. Darah berceceran di lantai. Keringatku mengucur, kugigit bibir sekuatnya demi mengalihkan rasa sakit.
Dari semak, muncul pemuda dengan busana khas priayi-beskap, jarik, blangkon, serta sepatu selop-menghampiriku dengan wajah pias. Aku tak tahu siapa dia, pandanganku buram oleh air mata yang menggenang. Ia memapahku dan aku sangat berharap ia bisa meringankan rasa sakit ini.
Dihadangnya becak, memaksa tukang becak mengayuh secara gegas. Kesadaranku di ambang batas, pandanganku berkunang. Tak lama kemudian aku sudah berada di rumah sakit.
Tak ada yang lebih sakit ketimbang perjuangan seorang ibu demi calon anaknya. Selepas melalui proses yang sempat membuatku terpikir untuk buang nyawa, jabang bayiku lahir prematur tetapi sehat. Jabang bayi lanang yang kelak kuharap tidak bejat seperti ayahnya.
Pemuda yang menolongku masuk selepas proses persalinan. Tangis haru tertahan di kelopak mataku, sungguh berterima kasih pada pemuda itu. Jika tak ada dia, lain sudah takdirku.
"Syukurlah kalian selamat," celetuknya. "Aku Adji jika kau lupa."
Rupanya ia pemuda yang dulu membantu Wira ketika terjadi kecelakaan. Kebaikannya membuatku sungkan berkata-kata.
"Aku cemas pada Wira yang nekat mendatangimu. Makanya kuikuti dia," jelasnya tanpa diminta. Kekhawatirannya benar hingga Wira tewas di rumah terkutuk itu.
"Tolong jangan ceritakan lebih banyak," ucapku menghindari tatapannya. Perasaanku masih campur aduk dan aku belum dapat menghentikan kegundahan hatiku.
"Ah, aku mengerti. Buburnya belum dimakan?" Ia mengambil mangkuk kaca berisi bubur di atas nakas. Aku tahu ia memperhatikanku, tetapi aku terus menatap bayi di sisiku. Rasa tak nyaman bahkan risi timbul ketika ia hendak menyuapiku. Bahkan dokter yang menanganiku adalah dokter pria. Aku merasa hidupku selalu dikelilingi laki-laki. Sungguh tak nyaman. Kurenggut bubur itu dan kusantap sendiri.
Adji mengerti traumaku. Ia keluar membiarkanku menenangkan diri. Kuamati sosok mungil berambut legam di sisiku. Soal nama, akan kupikirkan nanti, yang pasti takkan kusematkan marga de Kleij.
Perlahan matanya membuka, menampakkan warna biru serupa milik ayahnya. Indah sekali. Senyum terpatri di bibirku yang terpesona terhadap manik biru samudera itu.
Esoknya, aku dibolehkan keluar dari tempat berbau obat itu. Tak tahu harus melangkah ke mana. Entah apa yang membuat Adji begitu baik dengan membantuku lagi. Ia menuntunku menuju tempat tinggalnya, berada tepat di belakang gedung bupati yang bernuansa putih gading seolah-olah meniru gaya Eropa.
Aku tak banyak berucap terima kasih karena rasanya tak cukup mengungkapkan dengan kalimat semata. Aku bertekad untuk bekerja keras di rumah itu sebagai balas budi. Namun, baru sebentar mendudukkan pantat di bangku ruang tamu, ibu Adji menghampiriku dengan tangan berkacak pinggang. Ia menatapku dan bayiku bergantian dengan sinis. Nyaliku ciut sehingga aku hanya tertunduk di bawah intimidasinya.
"Untuk apa kau bawa gundik ini, Adji?" celetuknya. Kurasakan jemarinya menudingku.
"Biyung, aku akan menjaganya atas nama Wira, sahabatku."
"Apa hubungannya dengan Wira? Lihat anaknya! Indo itu bakal bawa sial di sini."
Adji menerangkan hubungan diriku dengan Wira, sampai bagaimana aku menjadi seorang nyonya. Aku cuma bisa menatap lewat sudut mata yang sedikit terhalang rambut. Ibu Adji itu bersanggul besar dan berkebaya merah. Gincunya tak kalah menyala, matanya dipertajam oleh goresan celak. Wajahnya mengingatkanku pada roman antagonis Meriam Bellina.
Ia berlalu setelah mengangguk sekali pada Adji. Tak ada kalimat yang secara gamblang mengizinkanku tinggal di sini, tetapi anggukan itu dirasa cukup oleh Adji tanpa ada niatan membujuk ibunya lebih jauh. Aku takut diperlakukan semena-mena oleh wanita itu.
"Tak perlu cemas. Anggap saja rumah sendiri, walau tak sebagus rumah Meneer." Kemudian ia menuntunku menuju kamar untuk membaringkan bayiku. Aku tak peduli itu kamar milik siapa, tetapi kuduga itu kamar tamu. Temboknya warna kuning, dengan nakas dan kelambu yang diikat pada tiang ranjang. Hanya jam dinding dan ukiran tokoh wayang Arjuna yang menghiasi tembok. "Istirahatlah, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."
Kupandangi tubuh berbusana rapi khas pribumi terpelajar itu. Aku mengagumi kebaikan dan kelembutan tutur katanya. Senyumku terkembang penuh rasa terima kasih pada sosok Adji yang menyelamatkan nyawaku beserta jagoan mungil yang tengah pulas dalam dekapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wiyata Saujana
Fiksi Sejarah~Ambassadors Pick 2024~ Ada rahasia besar yang tak diketahui Jasrin. Rahasia yang menjadi penyebab ia hirap ditelan waktu dan menjalani kodrat sebagai pemuas nafsu. Disaksikannya rakyat Hindia Belanda yang berjuang menjalani keseharian mereka di ten...
