29. Bukan Sekadar Teman

612 59 1
                                        

Kehidupanku di Hindia Belanda telah usai padahal aku baru saja menerima nasib dan menikmati ketenteraman. Ada kalanya aku merindukan tanah jajahan itu, sekaligus ningrat yang tak sekalipun memandangku hina sebagaimana orang lain memandang gundik. Aku menyayangkan perpisahan dengan Adji sang penolongku di saat-saat terpuruk. Ia yang menenangkanku ketika Wira tewas di depan mataku. Ia yang menemani persalinanku, hingga lelaki pertama yang dilihat Juna ialah Adji yang notabene bukan siapa-siapa. Ia yang membuatku dan Juna tetap bertahan hidup di rumahnya dengan napas tenang tanpa takut berhubungan dengan Londo lagi. Dan yang paling membuatku terkesan, ia tak pernah menyentuhku sembarangan meski kami tinggal seatap, bahkan pernah tidur bersama. Ia tahu traumaku. Ia dan Wira adalah lelaki yang dapat menghormatiku sebagai perempuan. Di mana aku menemukan lelaki seperti mereka lagi? Aku tak ingin suatu saat Juna menanyakan keberadaan ayahnya dan aku tak dapat menjawab.

Aku mengusap kalung pemberian Mbah Buyut seraya membisikkan nama Rayan Wira Basoendoro dan Raden Mas Adji Rahardjo. Karena merekalah lelaki terbaik yang pernah kujumpai, yang rela mengorbankan segala demi diriku. Hatiku nyeri teringat pengorbanan Wira yang hendak menyelamatkanku dari sangkar berpilar milik Lark, tetapi nahas peluru lebih dulu menembus perutnya sampai melayangkan nyawa. Mencelus lagi kalbuku mengingat Adji yang lebih memihakku ketimbang Bu Ningsih. Ia tak ambil pusing tatkala nama baiknya tercoreng, menjadi buah bibir akibat keberadaanku yang mereka anggap hina. Meski nama kedua priayi itu tak tercatat sebagai pahlawan nasional, tetapi mereka adalah perwira bagiku.

Waktu menyembuhkan luka. Perlahan aku bangkit, berdamai dengan ingatan masa lalu yang menjadi momok tidurku. Tiga bulan pertama, aku menyebarkan dengan nama anonim, foto surat kabar berisi hukuman untuk Bupati Soeroto akibat menelan upah pekerja rodi. Saking viralnya di media sosial dan blog yang kubuat sendiri, beberapa sejarawan bahkan menyelidiki langsung hal itu.

Lambat laun, bukti-bukti bahwa Daendels menggaji pekerja pembangunan Jalan Pos pun terkumpul semakin banyak. Bahkan bukti yang tersimpan di Belanda itu rinci menjelaskan jumlah pekerja dari berbagai daerah, upah perorangan tiap bulannya, hingga rute pengerjaan jalan.

Meski tak mampu memerdekakan Indonesia dari tikus-tikus kantor, setidaknya aku memberantas salah satunya hingga mengurangi jumlah korban kelaparan dari pekerja rodi.

Saatnya aku berani keluar dengan senyum terkembang menghadapi kehidupan baru. Juna menginjak usia sembilan bulan, tingkat kerewelannya berkurang sehingga aku merasa lebih baik. Aku tak melanjutkan sekolah karena aku menghilang selama dua tahunan dan sungguh tertinggal. Teman-temanku sudah lulus, berpencar di SMA atau SMK yang berbeda-beda. Kami tak lagi bertukar kabar. Mereka tak pernah tahu hilangnya aku sebab orang tuaku merahasiakannya. Selama tinggal di Trowulan, Mama maupun Papa tak pernah datang ke sekolah saat dipanggil wali kelas karena aku tak pernah hadir. Mana mungkin orang tuaku mau menjelaskan kalau aku mengalami perjalanan waktu.

Semua kembali normal. Papa bekerja di pembangunan gedung setelah sempat berhenti menjadi petani hutan. Mama kembali bekerja di butik milik Budhe. Untung Budhe tak begitu peduli pada urusan orang lain sehingga tidak banyak tanya alasan Mama lama tinggal di Trowulan.

Sementara orang tuaku sibuk bekerja demi menghidupiku dan Juna, kadang aku kesepian di rumah ketika Juna tidur. Acara televisi maupun berita di sosial media tak pernah menarik bagiku. Aku tidak punya teman. Aku menginginkan sosok pendengar yang baik seperti Adji.

Hanyut dalam bosan, aku hampir ketiduran kalau saja tak dikagetkan nada dering telepon yang memaparkan nama “Mama Renjana” tertera di layar.

“Hal—”

“Sebentar lagi ada temanmu yang mau mampir ke rumah. Kausiapkan suguhan dan jangan lupa berdandan!” ucap Mama tergesa-gesa, langsung memutus sambungan.

Wiyata SaujanaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang