Yang kuingat terakhir dari mimpiku ialah berhadapan dengan kingkong yang celangak-celinguk saat ada yang memanggilnya. Bangun-bangun, rupanya aku yang sedang dipanggil.
“Kalau tidur, kau tak tampak suka mengamuk macam kingkong, malah seperti kebo.” Wira menggerutu setelah aku berkacak pinggang di ambang pintu sembari menyipitkan mata akibat sinar mentari yang begitu benderang.
“Kucing juga suka tidur asal kautahu. Teriak-teriak macam kera mau kawin saja,” balasku tak kalah sewot. Lama-lama hewan di kebun binatang tersebutkan juga kalau begini.
Tampaknya aku berhasil memancing amarahnya hingga ia mengerling tajam padaku. Dilemparkannya seikat padi hingga mengenai kepalaku. “Jika kebo bisa menumbuk menggunakan tanduknya, maka kingkong punya tangan untuk menggantikannya.”
Aku membelalak, sumpah serapah menggumpal di dalam benak. Baru bangun sudah dijejali kata-kata menyakitkan yang membuat perasaan anjlok. “Dengan apa aku menumbuknya?”
Ia menunjuk sisi sudung sambil tetap memusatkan perhatian pada perapian yang hampir mati baranya. Kudapati onggokan alu dan lesung dari kayu yang tampak baru. Aku langsung tahu kalau Wira bekerja dari pagi untuk membuat alat ini.
Aku masih cemberut, melirik sinis pemuda yang sibuk dengan tungku bobrok dan kendil di atasnya. Kutumbuk padi hingga terpisah dari kulitnya. Ada untungnya amarahku tertahan, dapat kusalurkan lewat tumbukan yang dengan cepat selesai menjadi beras. Kusodokkan segenggam beras pada Wira yang kemudian memasukkannya dalam kendil berisi air.
"Penduduk baru?" Seorang petani dengan kulit kehitaman dan pakaian kumal menyeletuk.
“Baru kemarin kami pindah.” Wira membalas ramah si petani, sementara aku tak menghiraukannya dan terus mengaduk bakalan nasi.
“Belanda sudah ambil alih?”
“Ya. Bahkan hutan pun habis dibabat.”
Aku mendapati keheningan, dan rupanya petani itu memusatkan perhatiannya padaku dengan pandangan penuh tanya. Dalam hati aku mengusirnya, tak suka dengan berewoknya yang mengingatkanku pada preman.
"Istri saya," kata Wira tanpa ditanya. Si petani kemudian mengerjap, merasa bersalah sudah menatap dengan lancang. Sementara aku mengerutkan dahi sembari menggerutu dalam hati perihal entengnya Wira mengangkatku sebagai istrinya. Tak sudi aku dengan orang yang saban hari memancing emosi itu.
"Kalau butuh penghasilan tambahan, kau bisa ikut bertani denganku," tawar si petani.
Wira berbisik padaku bahwa sebaiknya aku kembali ke sudung karena petani itu amat penasaran dan terus memandangku.
“Biarkanlah, aku lebih malu jika dia menatapku jalan pincang.” Aku kekeh duduk di hadapan tungku.
Aku menguping obrolan mereka perihal serbuan tentara Belanda yang makin giat menjalankan tugasnya, bahkan sudah sampai pelosok. Kudengar juga ada kelompok gerilya yang tertangkap dan disiksa di tempat. Mereka membicarakannya dengan santai, seakan-akan itu sudah biasa terjadi.
Tak lama berselang, beberapa wanita—atau gadis yang menenteng bakul berisi pakaian menghampiri kali setelah mengangguk sopan padaku, Wira, serta si petani yang tak kunjung pergi. Kuamati punggung yang setengahnya terbalut jarik. Mereka tampak tak lebih tua dariku, tetapi aku yakin mereka sudah bersuami. Meski mungkin masih sekitar dua belasan tahun, mereka sudah dianggap dewasa. Wah, bagaimana jika para orang tua di sini tahu aku berusia lima belas dan masih perawan.
Akhirnya petani berjenggot itu pergi, aku pun tertatih-tatih ke dalam sudung dan membiarkan Wira menanak nasi sendiri. Kugeraikan rambut yang bergelombang nan kusut seraya berbaring menatap langit-langit yang bisa ambruk sewaktu-waktu.
Wira menyusul beberapa menit kemudian, menenteng kendil yang isinya nasi matang.
“Tak ada lauk?” tanyaku sembari menatap nasi kekuningan yang membuat nafsu makanku anjlok, tetapi perutku sudah sangat melilit.
"Kau belum pernah diajari bersyukur?" balasnya sinis.
"Paling tidak, dikasih garam biar tidak terlalu hambar."
Karena tak ada tanggapan, aku melenggang dengan sedikit pincang. "Mau ke mana?" tanya si cecunguk.
"Cuci tangan."
"Jangan keluar. Banyak wanita yang tak kaukenal di sungai. Mereka sepertinya sedang menggosip dirimu."
Pura-pura menghela napas dongkol, aku kembali duduk kemudian ikut mencomot nasi dari dalam kendil.
Tidak apa, lagi pula orang-orang zaman dulu yang tak terlalu higienis malah berumur panjang.
Kami makan dalam hening dan kurasa aku yang paling banyak memasukkan butiran nasi ke dalam mulut karena lapar yang tak tertahankan lagi. Saking menikmati penganan hambar itu, aku tak menyadari Wira yang mengeluarkan ikatan daun talas dari sakunya yang berisi beras. Disodorkannya bundelan itu padaku.
"Hasil curian lagi?" tanyaku seraya menyatukan alis—menjadi kebiasaanku tiap mau berdebat dengannya.
"Tadi ada Nyonya yang menyebarkan beras di halaman rumahnya. Para gelandangan menjumput satu per satu. Jadi, aku ikut saja."
Aku menerimanya sebelum bergidik melihat rupa kekuningan beras yang baru pertama kali kulihat. Ini lebih parah daripada beras yang kutumbuk tadi.
Wira tak ambil pusing reaksiku. Ia kembali berucap, "Besok pagi buta, kau yang buat sarapan. Mulai besok aku bekerja di sawah."
"Tapi aku tidak berani gelap-gelap berada di luar."
"Ada kayu kering di belakang rumah. Kau bisa membawanya ke dalam untuk memasak."
Dengan berat hati aku mengiakan. Kupendam kejengkelan yang akhir-akhir ini menyelimutiku sejak kenal Wira. Baru kali ini aku diperintah. Baru kali ini aku membuat makanan sendiri. Orang tuaku amat memanjakanku meski aku kadang ingin mandiri mengingat umurku makin dewasa. Dan sekarang keinginan itu ada di depan mata, tapi aku sungguh malas mengetahui bahan yang perlu kumasak tak layak dimakan.
"Oh ya. Kau keluar rumah seperlunya saja. Jika ada orang lain, jangan menampakkan diri. Kalau kepepetnya bertemu orang lain, katakanlah kau istri Rayan Wira Basoendoro," katanya.
Aku memicing, sedikit terperangah mendengar itu. Meski aku bahlul dalam bidang histori, aku mesti tahu nama itu terlalu wah untuk gelandangan macam dirinya. Basoendoro harusnya disandang priayi.
"Itu nama aslimu?" tanyaku meminta kepastian.
"Nama lahirku. Sejak aku berpisah dengan bapak-ibuku, kuganti menjadi Prawira."
Pemuda bertelanjang dada itu memakai kembali kaus yang telah kering kemudian merebahkan diri. Aku meniru meski tahu tak baik merebah setelah makan. Tulang rusukku ngilu di atas tanah keras yang tak rata. Ekor mataku melirik pemuda yang telentang di sisiku sebelum aku berguling membelakanginya. Pikiran kotorku selalu saja mengganggu, mengkhayalkan ia memelukku dari belakang dan habis itu anu. Dasar otak puber. Tapi tak apalah berkhayal sepuasnya, daripada merana memikirkan nasib yang tengah menimpaku menjadi gelandangan, lebih tak berguna karena aku tak tahu bagaimana kembali ke tempat asalku.
"Mau pinjam lenganku, Rokimah?" Wira membuka mata, menyadari tubuhku yang terus bergerak akibat tanah keras yang tak rata mengganjal di sana-sini. Takkan kusia-siakan kesempatan itu, lekas menarik lengannya yang berotot ke bawah kepalaku.
Kami sama-sama telentang dengan bungkam. Tonggeret tak membiarkan wilayahnya sunyi, mengiringi lembayung senja yang menyorot dari dinding bambu. Gemercik sungai menciptakan hawa tenang yang sejenak mengalihkan pikiran dari kebingungan perjalanan waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Wiyata Saujana
Historical Fiction~Ambassadors Pick 2024~ Ada rahasia besar yang tak diketahui Jasrin. Rahasia yang menjadi penyebab ia hirap ditelan waktu dan menjalani kodrat sebagai pemuas nafsu. Disaksikannya rakyat Hindia Belanda yang berjuang menjalani keseharian mereka di ten...
