4] Perjanjian

219 21 2
                                        

Hallo guys... makasih yang udah mau mampir baca kesini, apalagi memberi like. Semoga kalian sehat selalu ya

Have a nice day all🕹

.

.

.

Hari yang cukup melelahkan. Mika langsung melempar tas tanpa mengganti baju terlebih dahulu. Ia hanya melepas jaket sebelum merebahkan diri ke atas kasur. Pesawat kertas bergelantungan di langit-langit kamar.

Dulu Mika merancang puluhan pesawat bersama ayahnya. Rasanya kangen masa kecil. Mika ingin kembali lagi ke umur 7 tahun.

Tuning!

Sebuah pesan menghiasi notifikasi layar handphone bermerek samsung. Matanya terbelalak kaget saat menyimak siapa pengirimnya. Detakan jantung sudah seperti nge-bass di dada.

"Ah siaal. Ada bencana besar! Bisa tamat nih gue."

Jempol Mika mulai memencet tombol telpon di pojok kanan layar. Hingga tiba menit ketiga, terdengar bentakan telah membelah keheningan.

UDAH BERANI YAA PHP'IN SAHABAT SENDIRI?!

Mika terdiam sesaat. Ia berusaha menetralkan pendengarannya yang tersengat suara gempar. Usai lebih tenang, Mika kembali bersuara.

"Aduhh, maaf Asti, gue gak bermaksud ingkar janji sumpahh... tadi gara-gara Bihar kelamaan ngeliatin Viana latihan karate. Semuanya jadi kacau—"

"KENAPA LO GA CEGAH BAMBANG?!"

"Santai dong Ti. Gue udah berusaha ngotot dia biar lebih cepet, eh dianya malah bengong mulu sambil mandang Viana."

"Terus rencana kita buat ngevideoin lo sama Bihar di tukang bubur terus manas-manasin Rega, batal dong??"

"Ya, habis gimana Ti? Gue minta maaf banget yaa udah ngecewain lo hari ini."

"Hhhhh.. asal lo tau ya, gue udah sampe pegel nungguin hampir satu jam! Hadeh, malahan pake dirayu segala lagi sama orang banci."

Walaupun dalam keadaan gelisah dan takut, Mika masih sempat menahan tawa. Sungguh, Asti itu memang pemarah tetapi sering dianugerahi kejadian kocak.

"Hfft.." Tanpa sadar sampai ke telinga Asti. Akan menjadi cerita panjang ini.

"NAPE LO? SENENG NGELIAT GUE MENDERITA?"

"Bu—bukan gitu Ti, gue tadi cuma keceplosan." Mika menaikkan ujung alisnya sambil meratapi sedikit penyesalan.

"Kesel banget denger tingkah lo hari ini, bye!"

Tut.. tut... tut...

Sambungan terputus. Alhasil, obrolan di antara mereka berakhir membuat jalan menuju kedamaian menjadi tertunda.

"Yaelah Astiti, padahal gue belom selesai ngomong udah asal pencet aja."

Pikiran Mika belum bekerja secara maksimal untuk mencari solusi agar mereka bisa baikan.

Pretended || Avoidant ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang