- Ending Story -

266 14 3
                                        

Gess bagi yang suka dengan ceritanya, mohon bantuan untuk share ke temen-temen kalian dan semua sosmed yaa.. makasih 🙏

.

.

.

Tit.... tit.... tit.....

Tubuhnya mulai bereaksi. Deru nafas bertambah cepat dengan bantuan alat oksigen. Perlahan kedua mataà lentik itu mulai terbuka.

"Eumm?"

Secercah cahaya serta teriakan dramatis telah menyambutnya. Kini Mika masih terbaring lemah di sebuah ruang rawat.

"Dokter... dokter!!"

Seorang pria berjas putih serta suster bergegas menghampiri pasien untuk mengecek perkembangan berikutnya. Alhasil, Mika sudah berhasil melewati masa kritis. Ini semua berkat Desi yang sudah cepat memotong tali di lehernya. Keluarga Arghansa akan sangat berhutang budi kepada Desi.

"Huaaa syukurlah Mika... gue takut bangett! Hiks... hiks... makasih Tuhan," Desi menangis haru, sebelum memeluk sahabatnya.

"Hiks... hiks... Mikaa..." suara Tifa.

"Ini semua berkat kamu nak. Makasih banyakk," ungkap Ijya.

"Iyaa Paman. Mungkin lewat saya Tuhan menunjukkan kuasanya. Tuhan masih ingin Mika menikmati masa depannya. Saya yakin nasib Mika pasti jauh lebih suatu hari ini."

Tifa mencium kening anaknya dengan penuh syukur. Mengetahui nyawa Mika selamat seperti terbebas dari segala penderitaan. Ijya turut tersenyum meskipun air mata sudah memenuhi pipinya.

🧸🧸🧸

"Saya berusaha dibunuh Pak! Terus saya dipaksa buat bergelantungan biar saya terlihat seperti bunuh diri," ungkap Mika kepada polisi.

Bukti kuat menyertai sang korban utama. Usai kondisi sedikit pulih, Mika bersedia memberi keterangan kepada para polisi.

"Saksi lain memberi penjelasan kalau katanya kamu mau diserang dari belakang. Benarkah begitu saudari?"

Mika menganggukkan kepala. "Saya juga tau dari Pak Zyan. Kadang saya merasa aneh aja setiap kali saya bepergian, bahkan di sekolah pun saya seperti diawasi," jelas Mika.

"Bisa saja pelakunya berasal dari sekolah kamu nak Mika atau bisa saja memiliki sangkut paut sama pelaku utama," kata polisi.

Mika tersenyum sinis. "Hmm tenang aja Pak, saya kenal wajahnya."

"Serius?!!" Seisi ruangan langsung dibuat terkejut oleh perkataan Mika.

"Betul pak. Motif utamanya adalah karena hutang-piutang bank. Dia direktur yang mau ngincar saya."

Dalam sekejap, otak polisi langsung bisa mencerna setiap keterangan dari Mika, kendati mereka sangat berpengalaman menangani kasus hutang bank.

"Tuan Ijya dan Nona Tifa." Tatapan polisi beralih ke seorang pria dan wanita yang sudah gemetar.

"I... iya Pak?"

Pretended || Avoidant ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang