Rega tidak habis pikir atas peralihan sifat mantannya dalam sekejap. Baru saja kemarin habis menangis. Ketika baru sekolah, Rega sudah disuguhi adegan mesra antara Mika dengan siswa cowok lain. Entah siapa namanya. Selanjutnya, Rega kembali melihat bagaimana friendly-nya Mika bersama Bihar maupun Panton. Mendadak api cemburu menjalar di hati cowok berkumis tipis. Dasar cewek nyebelin!
Adegan beralih ke ruangan musik saat Mika bercanda bersama cowok-cowok lain. Sialnya, Rega yang kebetulan melintasi ruangan, kembali menemukan tontonan yang tidak diinginkan. Rasanya Rega ingin mual.
"Yahahaha begitulah nikmatnya makan pisang goreng melempem! Kan udah gue ingetin jangan beli disana beuh."
"Nikmat pala kakek lo! Gue jujur tau, pas hari pertama dagangnya buka, rasa pisangnya enak beutt. Gak kaleng-kaleng!"
"Biasalah, realita perdagangan. Awalnya doang renyah. Lama-kelamaan jadi aneh, sama kayak niat kita di ekstra musik."
"Yaudah makanya buruan cari peserta baru! Biar ga kita mulu jadi babu musik disini."
Darvin menghampiri Mika dan gerombolan band musik tersebut. Obrolan mendadak hilang sejak mereka saling melempar pandangan. Darvin masih saja mempertahankan wajah datar, sungguh anti ekspresi membuat mereka heran.
"Gue cabut," ketusnya.
"Oh yaudah hati-hati masuk kelasnya Vin! Jangan sampe nginjek kotoran lagi," sahut siswa lain.
"Bukan, gue mau keluar ekstra musik."
"What bro? Lo yakin masa depan lo bakal terancam minggu ini? Kasian loh kita udah setengah perjalanan."
"Sayang banget anjirr, padahal lo pemeran utama kita disini. Suara lo paling penting bro!"
Tanpa sepatah kata Darvin meninggalkan ruangan, seolah masa bodo terhadap perkembangan ekstra musik. Sifat tak acuh cowok ini seperti bukan Darvin yang dikenal sejak SMP. Sangat aneh apabila ciri khas Darvin yang selalu hangat sudah menghilang begitu saja.
Gue harus cari tahu kenapa Darvin kayak begini? batin Mika.
Banyak hal yang janggal disini. Mika langsung bertindak dengan mengejar punggung cowok blasteran yang semakin jauh. Akhirnya Mika berhasil menyamai langkah Darvin.
"Vin, kayaknya lo belum sarapan enak deh bikin lo kurang mood. Sini, gue ajak lo ke kantin bareng! Udah lama kita ga makan citul."
"Gak"
"Ohh ga suka lagi ya sama citul? Gapapa deh kita ganti menu aja jadi cilor balado. Lumayan tuh nantangin perut di pagi hari hahaha."
"........."
Biasanya Darvin selalu menerima candaan Mika. Berbeda seperti sekarang. Jangkan merespon, tersenyum pun sangat sulit bagi Darvin. Sontak, hati Mika agak sesak akibat diacuhkan.
"Eum Darvin...."
".........."
"Oke deh langsung aja ke topik inti. Gue mau ngajak lo kerjasama buat proyek lagu, gue berharap lo berkenan ikut biar kontrak kita ga putus sama industri musik."
"............"
"Darvin, tolong pertimbangin ini lagi. Dengan proyek ini, kita bakal bisa kuliah gratis kalau hasilnya memuaskan bagi industri musik."
Darvin justru semakin membisu. Hatinya tidak terbujuk sama sekali, padahal Mika sudah menjelaskan dengan penuh berprinsip.
Secara otomatis, Mika mulai kehabisan topik pembicaraan. Wajah Mika langsung tertunduk malu.
💠💠💠
Layar handphone menampilkan panggilan masuk dari pelatih ekstra musik. Seketika Mika berhenti belajar untuk menghiraukan panggilan. Barangkali obrolannya penting.
"Selamat malam pak... ada yang bisa saya bantu?" sambut Mika halus.
"Selamat malam nak, maaf ganggu waktunya. Itu... Darvin kenapa keluar tiba-tiba? Apa dia ada masalah sama anggota ekstra musik?"
"Aduh maaf pak kurang tahu saya, karena Darvin juga keluar tanpa ngasih tau alasannya."
"Owala... gimana ya? Bapak jadi takut. Soalnya Bapak udah terlanjur bilang ke pihak industri musiknya kalau kita bakal kerjasama bikin lagu."
"Lagipula, penyanyinya cuma Darvin yang menurut Bapak paling oke. Bapak takut nama sekolah kita bakal terancam kalau kita batal kontrak sama industri nasional."
Rasa iba mengitari hati Mika usai mendengar kesulitan pelatih. Benar juga, industri musik pasti akan menyoroti nama SMA Warnakerta jika pihak ekstra musik ingkar janji. Kemungkinan besar yang terjadi adalah-
"Jangan sampai program musik sekolah kita ter-blacklis gara-gara batal kerjasama. Belum lagi kita harus membuat lagu yang banyak."
Mika menghembuskan nafas se tenang mungkin. Ia yakin pasti akan ada jalan keluar jika dipikirkan dengan baik.
"Bapak jangan khawatir, Mika pasti bakal membuktikan kualitas lagu ciptaan Mika. Dan masalah Darvin, Mika akan cari solusi Pak."
"Semoga berhasil Mika. Bapak berharap sama kamu. Terima kasih."
Sambungan telpon terputus satu sama lain. Mika terdiam sejenak karena berpikir.
"Okeeeh, kalo begitu. Ayo lakukan!!"
Sat.
Set.
Dengan semangat yang masih berkobar, jari Mika mulai menulis ide-ide lirik yang keluar dari otaknya. Mika lekas menyetel petikan gitar untuk menyesuaikan nada dan lirik.
Menurut Mika, menggarap lagu ciptaan sendiri bukanlah perkara yang mudah. Butuh tenaga pikiran. Kepala cewek itu kian berdenyut saking sulitnya menemukan inspirasi lagi.
"Hoaheemm..."
Sekilas Mika melirik arloji di meja belajar, membuktikan sudah hampir dua jam Mika mengerjakan proyeknya. Sungguh melelahkan.
"Ahh ini pindah kemana ya? Kok kurang powernya! Ck... ulangin ah."
Sayangnya, setengah liriknya mengalami kegagalan akibat kurang sesuai dengan nada. Mika melakukan revisi sebanyak lebih dari 3 kali.
"Huhh ya Tuhaann susah banget."
Sampai malam hari tiba, Mika masih memikirkan nada lagu. Sang ibu terheran-heran melihat usaha keras anaknya. Dari baru datang sampai sekarang, anaknya tanpa henti memegang kertas dan gitar.
"Semangat nak!" dukung Tifa.
"Makasii Ma."
"Kamu inget aja istirahat yaa. Kasihan loh besok harus sekolah."
"Besok hari minggu Ma," sahut Mika santai.
Seketika mulut Tifa terkunci. Lantas, wanita paruh baya itu menyengir tidak jelas. "Oh iya hehe, Mama lupa liat kalender. Maklum, makin tua udah nambah pikun."
Sang ibu menutup pintu kamar anaknya agar lebih privasi. Berharap anaknya bisa membagi waktu luang dengan baik.
Pada pukul 22.30 Mika sudah kehabisan energi membuat idenya buntu dan gairahnya luntur. Mika melempar tubuhnya ke kasur dengan membawa catatan lirik.
Mika masih sempat ingin menulis dalam keadaan rebahan, seolah menentang kehendak kalau dirinya sudah mengantuk. Alhasil, Mika sudah tidak tahan melawan matanya yang terpejam.
Saat tertidur pun, tangan Mika masih menggenggam pulpen dan tangan yang satunya menahan kertas di kasur agar tidak terbang.
🔮BERSAMBUNG🔮
KAMU SEDANG MEMBACA
Pretended || Avoidant ✅
Ficção Geral[ FRIENDZONE STORY ] Ini kisah remaja SMA yang tak biasa. Jangan berharap percintaan mereka akan berjalan romantis, karena teka-teki dan sandiwara mendominasi hubungan di sini. Perlahan semakin rumit sejak sifat Darvin yang awalnya hangat kini berub...
