Sebelum pulang sekolah, Mika memutuskan untuk menemui pelatih ekstra musik. Masih ada banyak hal yang belum dibahas, terutama tentang penyanyi lagunya.
"Permisi pak,"
Mika mengetuk pintu dengan sopan sebelum dipersilahkan masuk. Mika langsung duduk menghadap pria paruh baya bertopi cokelat.
"Maaf ya Pak, saya belum perbaiki format lagunya. Dan soal penyanyi... saya bisa kasih kak Arista sebagai rekomendasi."
Sang pelatih menghela nafas berat. Ternyata hasilnya nihil. Ekspresinya terlihat seperti belum puas.
"Waktu Bapak periksa, improvisasinya agak fals nak. Tapi kamu jangan khawatir, karena Darvin udah perbaiki semuanya."
"Darvin Pak?"
"Iya, Bapak cuma menyayangkan rasa kerjasama kalian berdua. Entah apa yang bikin kalian mis komunikasi kayak gini?"
Mika menautkan kedua alisnya untuk mengamati perkataan pelatih lebih mendalam. Soalnya ia masih belum paham.
"Kamu bisa cek ini sekarang," titah pelatih.
Berdasarkan hasil laporan pelatih, secarik kertas membuktikan bahwa Darvin mengambil alih kerjasama kontrak dengan industri lagu. Semuanya Darvin yang mengatur. Sang pelatih kian menyodorkan SK (Surat Keputusan) yang sudah berisi tanda tangan Darvin maupun pihak industri musik.
"Jadi, Darvin satu-satunya orang yang terpilih untuk menggarap sebuah lagu. Yah kita doain saja, semoga lagunya sukses."
"Terus gimana dengan lagu buatan saya pak? Saya udah nyiapin dari lama, padahal tinggal nyari penyanyi doang."
"Itu yang bikin Bapak gak ngerti sama kalian berdua. Katanya Darvin, kamu gak bisa ikut. Makanya cuma dia yang bersedia pergi ke Jakarta nanti sore."
Cowok itu seperti menyerangnya bertubi-tubi. Setelah banyak kebenaran yang pahit terungkap, kini Mika kembali mendapatkan kebenaran yang lebih parah dari permasalahan anak remaja.
Rasanya ingin meneriaki wajah Darvin yang keterlaluan itu! Hati Mika terbakar habis, hanya untuk memikirkan perbuatan seorang Darvin.
🍀🍀🍀
Ribuan embun memenuhi seluruh penjuru langit. Seiring berjalannya waktu, hujan bertambah deras menyerbu bumi. Jalanan komplek pun semakin sepi, karena banyak warga lebih memilih berlindung di rumah.
Seluruh tubuh Mika kembali dibasahi ribuan hujan yang menggebu-gebu. Ia lebih memikirkan nasibnya daripada kondisi tubuhnya.
Kaki Mika mulai berhenti di depan rumah Darvin. Pemandangan yang mengingatkannya langsung kepada penghuninya.
"LO PUAS BANGET KAN UDAH NGALAHIN GUE KAYAK GINI?!" pekik Mika yang suranya tertutup hujan, tidak peduli jika Darvin akan mendengarnya.
"Dasar cowok gak punya hati! Lo bukan Darvin yang gue kenal! Sampe segitunya lo benci sama gue cuma karena masalah percintaan??! Itu gak sebanding sama masa depan gue."
"Cuma karena gue egois gitu? Kan lo sendiri yang gak pernah cerita! Padahal gue udah nawarin buat jadi penenang buat lo... hiks... hiks..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Pretended || Avoidant ✅
General Fiction[ FRIENDZONE STORY ] Ini kisah remaja SMA yang tak biasa. Jangan berharap percintaan mereka akan berjalan romantis, karena teka-teki dan sandiwara mendominasi hubungan di sini. Perlahan semakin rumit sejak sifat Darvin yang awalnya hangat kini berub...
