17] Rindu Kenangan

103 13 0
                                        

Tanpa basa-basi lagi. Mari kita langsung baca!! Happy Reading manusia pribumi ^_^

.

.

.

Seluruh calon pengurus osis berkumpul sesuai arahan. Jantung mereka berdegup kencang menunggu kegiatan kali ini. Semoga bukan hal yang menakutkan. Rasa penasaran semakin membara akibat para osis yang sengaja menunda bicara.

"Ayolah, lama banget sih! Dah kepanasan nih," gumam capos.

"Cuma dua menit dibilang lama! Lo kira kami ga kepanasan juga ngawasi kalian?"

Sayangnya, salah satu osis mendengar keluhan itu sampai menyuruh capos yang berbicara untuk maju.

"Coba deh kamu yang nentuin sendiri. Kegiatan apa yang mau kami kasi ke kalian," titah Nanda.

"Gatau! Suka-suka gue lah mau ngeluh malah kena marah."

Waahh, Mika sangat takjub dengan keberanian capos yang satu ini. Pasti ia juga tidak berminat mengikuti organisasi seperti osis. Rasanya Mika ingin juga melawan, namun Mika masih merasa bahwa kesabaran adalah keputusan yang terbaik.

"Masa jabatanmu diperpanjang! Saya gak suka debat sama kamu," bentak Nanda.

"Serah lo. Gue mau pulang!"

Dengan penuh keberanian, capos itu langsung meninggalkan agenda. Entah konsukuensi apa yang hendak Nanda berikan setelah ini. Nampaknya mata Nanda seperti menyimpan dendam terhadap siswa jurusan IPS tersebut.

"Oke, karena suasananya lagi kurang nyaman. Kita lanjutkan saja agendanya, yaitu pelatihan PBB," ungkap osis.

"Jangan lupa tutup mata kalian yaa."

YAHH!! Mereka mengira agenda dibatalkan, ternyata tak sesuai harapan. Parahnya lagi, mereka disuruh menutup indra penghilatan. Bagaimana cara mereka menyesuaikan langkah kalau begini? Terkadang tekad para osis membuat para capos jengkel. Bisa-bisanya memaksakan keadaan.

"Cepat-cepat rapikan barisan. SIAP GERAK!!"

Para capos berposisi tegap dengan rapi. Setiap osis mengelilingi barisan sekaligus memeriksa stamina juniornya jika kurang fit.

"Sebelumnya ada yang sakit di antara kalian?" suara Arfan.

Waktu sudah lewat 30 menit. Salah satu anggota capos kian ambruk tak sadarkan diri. Sontak tim medis bergegas membawanya menuju UKS sebagai penanganan utama. Nanda hanya menggelengkan kepala menanggapi siswa tersebut, heran terhadap kondisi fisik angkatan sekarang dianggap terlalu lemah.

"Belum menuju kegiatan inti, dia udah pingsan duluan ya. Miris banget," sindir Nanda.

"Oke langsung saja yaa. Tutup dulu mata kalian. Siapapun yang ketahuan membuka mata, kami terpaksa menghukum kalian!" tegas osis.

"Siap, iya kak!" sahut mereka kurang bergairah.

"Seluruhnyaa... dua langkah ke kanan... gerak!!"

Kaki kanan capos melangkah ke kanan dengan langkah tegas, disusul kaki kiri sampai kembali menghasikan posisi tegak. Kepala mereka harus tetap lurus meskipun mata terpejam.

Pretended || Avoidant ✅Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang