[ FRIENDZONE STORY ]
Ini kisah remaja SMA yang tak biasa. Jangan berharap percintaan mereka akan berjalan romantis, karena teka-teki dan sandiwara mendominasi hubungan di sini. Perlahan semakin rumit sejak sifat Darvin yang awalnya hangat kini berub...
Gue tau ini keputusan yang sulit bagi lo. Tapi gue ngelakuin ini bukan semata gue mengikhlaskan sebuah hubungan, melainkan demi kebaikan lo juga.
Gue cuma ga mau liat lo nyakitin diri sendiri lagi jika seandainya lo bertahan di dalam hubungan yang palsu.
Suara Asti sampai terngiang terus setiap kali Mika ingin memejamkan mata. Sejak tadi tubuhnya menggeliat seperti cacing membuat seprai berwarna putih menjadi berantakan.
Hai kak Mika, muachh...
"CK!"
Hayalan Mika sudah diluar nalar. Ia justru membayangkan Adnan versi waria telah merayunya penuh antusias. Tiada hari tanpa imajinasi aneh. Mika segera menarik selimut sebelum aura negatif menghantuinya kembali. Perlahan bola mata hendak terpejam.
"Lo kenapa lagi? Sampe UKS lo jadiin tempat tongkrongan," celetuk Desi. Baru saja ia dikabari untuk menemani Mika.
"Hahaha soalnya gue udah langganan disini, mumpung masih sepi loh wkwkwk," canda Mika sembari merapikan tempat tidur milik umum.
"Ada yang mau lo ceritain ga sama gue? Barangkali gue mau ngasih lo solusi," tawar Desi dengan pandangan yang tenang.
"Sanss, gue ga segalau yang lo kira hahaha. Gue cuma bingung harus ngapain sama perasaan gue. Soalnya banyak yang menarik buat gue pilih."
Desi menghela nafas pelan, perlahan senyuman di bibirnya bangkit. Desi tahu bagaimana sulitnya Sang sahabat menentukan keputusan yang tepat soal pacaran. Masalahnya Mika masih labil menurut Desi.
"Ikuti aja kata hati lo Mik. Di antara mereka, gue yakin pasti ada salah satunya yang bisa membuat hati lo nyaman dan murni," saran Desi.
"Berarti beri gue waktu buat diri sendiri dulu nih?"
"Menurut gue sih iya. Soalnya lo belum menemukan apapun dari mereka, cuma atas dasar keinginan lo doang buat deketin mereka."
Percintaan itu sangat rumit, bahkan otak Mika jadi beringsut. Susah menemukan ujungnya. Belum lagi overthinking kian menyerang kepalanya. Bagaimana kalau nanti mereka kecewa karena perasaan digantung terus? Bagaimana reaksi mereka saat benci dengan Mika?
Tuning...
"Eh bentar dulu Des."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Notifikasi layar handphone tak kunjung memberikan solusi, malah menyebabkan otak Mika tambah rumit.
"Oke Des, sepertinya lo harus bantuin gue sekali lagi deh..." mata Mika masih stay menuju handphone.
"Memang kenapa Mik?"
"Ikuti aja alurnya Des. Eh maksud gue, lo tinggal nonton aja nanti." Tanpa basa-basi lagi, Mika langsung membawa Desi ke lokasi tujuan yang sudah ditentukan Adnan.