Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Suara pintu belakang panti asuhan yang terbuka membuat Lengkara dan Ara langsung menoleh ke arah sana.
Sempat rasanya jantung Lengkara berhenti berdetak saat melihat sosok lelaki berdiri di sana dengan memegang selimut di tangannya. Lelaki itu tersenyum tipis sambil menatap ke arah Lengkara.
"Sekala?" gumam Lengkara, lalu setelahnya menghela napas pelan. Gadis itu mencoba membalas senyum Sekala yang kini berjalan ke arahnya dan juga Ara.
"Duduk sini, Kal!" ajak Lengkara sambil menepuk bagian kursi yang kosong di sebelah kirinya.
Sekala mengangguk pelan, ia datang menyelimuti tubuh Ara sebelum akhirnya ikut duduk menyandarkan tubuh di kursi kayu itu.
Keduanya kini sama-sama duduk bersandar di kursi itu, sementara Ara masih setia meletakkan kepalanya di atas pah Lengkara.
"Tiap datang ke panti pasti selalu berakhir di sini," ucap Sekala. Lelaki itu menoleh ke arah Lengkara, ingin melihat bagaimana tanggapan gadis itu dengan perkataannya tadi.
Namun Lengkara hanya bisa tersenyum tipis sebagai jawaban.
Kenangan dirinya bersama Masnaka dan Ara di sini dulu, biarkanlah hanya mereka bertiga yang tau.
Kenangan tentang Masnaka yang menyandarkan kepalanya di bahu Lengkara. Kenangan tentang Masnaka yang mengatakan bahwa ia hanya butuh ketenangan sebagai obat. Kenangan tentang Masnaka yang mengatakan kalau bersama dirinya maka akan banyak sakitnya.
Biarkanlah semua kenangan menyenangkan juga menyakitkan itu hanya ada di dalam pikirannya.
Hening kembali menyapa, tak ada yang bicara di antara ketiga orang itu. Ketiganya sama-sama diam menikmati suasana malam itu.
Lagu I Will Always Love You by whitney Houston yang sedari tadi sudah terputar di ponsel Lengkara menemani keheningan ketiganya malam itu.
"Kakak suka dengan lagu ini?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Ara. Ia bahkan sudah hapal betul dengan reff lagu ini karena Lengkara yang terlalu sering memutarnya.
Lengkara terdiam sejenak mendengar pertanyaan Ara. Mata gadis itu mulai memanas, walau pada akhirnya hanya senyum tipis yang kembali terbit di wajah cantiknya itu.
"Kakak, gak begitu suka...." Lengkara tampak menjeda kalimatnya sejenak. "Tapi seseorang sangat menyukainya," lirih gadis itu.
"Siapa?" tanya Ara.
Lengkara hanya diam sebagai jawaban, tak ada satupun niatnya untuk menjawab pertanyaan gadis kecil itu. Tangannya bergerak memperbaiki selimut di atas tubuh Ara.