Chapter 8

472 24 0
                                        

“Berengsek!!!”

Wanita itu berteriak dan melempar kertas yang ada di tangannya ke atas meja. Matanya memerah dipenuhi dengan amarah. Wanita yang biasanya anggun dengan segala hal bermerk yang dikenakannya mulai dari ujung kaki sampai kepala, membuatnya seperti manekin berjalan. Sangat berbeda dengan dirinya kali ini, keanggunan itu tidak tampak lagi. Hanya kemarahan yang tampak dari wajah orientalnya. Bibir tipisnya yang dipoles lipstick merah biasanya mengalunkan suara merdu dan halus, kini berubah menjadi kata-kata kasar.

Matanya menatap lekat pada pria dewasa yang tengah duduk disalah satu sofa ruang tamu besar rumahnya. Seperti ingin menelan bulat-bulat pria itu.

“Tolong tenangkan diri anda, Nyonya Muda,” ucap pria itu dengan santai sembari menyeruput teh panas yang memang dihidangkan untuknya. Pria itu hanya menyunggingkan senyum tipis melihat wanita yang sedang marah itu.

“Tenang katamu? Bagaimana aku bisa tenang melihat tulisan itu? Apa-apaan Tuanmu itu?”

Wanita itu berjalan mondar-mandir sambil mengacak pinggang. Emosinya memang sedang meledak-ledak saat ini, sesuatu yang jarang ia tampilkan pada orang lain. Hanya pada suaminya lah ia mampu berbuat seperti itu.

“Tuan Besar hanya memerintahkan saya untuk membuat surat itu, Nyonya Muda,” Masih dengan santainya.

“Kalau aku tidak mau menandatanganinya? Apa yang akan terjadi?”  suaranya mulai melemah, ia mencoba untuk duduk di sofa yang menghadap pria itu.

“Anda akan kehilangan semuanya, Nyonya Muda. Status dan Tuan Muda, seluruh aset yang disediakan Tuan Besar, dan Tuan Besar akan menarik semua saham dari perusahaan milik keluarga Nyonya Muda. Termasuk jika keluarga Nyonya Muda menolak semua ini, otomatis saham ditarik dari perusahaan mereka,” masih dengan nada datarnya.

Berbeda jauh dengan keadaan wanita di depannya, matanya yang sedari tadi memperlihatkan kemarahan kini semakin terlihat berapi-api. Wanita itu mengeraskan rahangnya, mengatup gigi gerahamnya dengan keras dengan kedua tangan mengepal di pangkuannya.

“Benar-benar keterlaluan. Bagaimana bisa Tuanmu melakukan hal itu padaku dan keluargaku?” nada bicaranya sedikit melunak, mungkin karena ia sekarang sadar sedang berbicara dengan siapa.

“Sudah diputuskan, Nyonya Muda. Saya harap Anda bersedia menandatanganinya saat ini, jika tidak semua akan diatur langsung oleh Tuan Besar,” pria itu menyodorkan pena berwarna biru pada wanita di depannya yang masih tertunduk kesal.

“Baiklah, Pak Darmawan. Di mana saya harus tanda tangan?” tanya wanita itu setelah mengambil pena.

“Pada bagian yang telah ditempeli sticker Sign Here, Nyonya Muda Jen” ucap pria itu sembari menunjukkan bagian-bagian yang telah ditempeli sticker Sign Here.

Jenny dengan tangan gemetar mulai membubuhkan tanda tangan pada kertas-kertas yang telah diberi tanda. Matanya masih memerah akibat emosi yang belum juga reda.

Cih... Keluarga ini benar-benar berengsek! Mereka mau memiskinkanku? Setelah apa yang aku capai selama ini. Tidak semudah itu Arya dan Richard Wirajaya.

Bibirnya mengukir senyum penuh dengan kelicikan. Ular betina. Itulah sebutan wanita itu oleh keluarga Wirajaya. Memang benar jika Jenny Halim adalah seorang ular betina yang sangat berbisa. Bahkan perbuatannya pun tidak termaafkan bagi keluarga Wirajaya.

“Kalau aku boleh tahu, apakah wanita itu juga mendapatkan bagian dari keluarga Wirajaya?” raut wajahnya yang tadi penuh emosi kini berubah menjadi wajah penasaran.

“Maaf, Nyonya Muda. Jika sudah selesai, saya akan pergi sekarang,” Darmawan mulai berdiri dari duduk tenangnya untuk pamit undur pada Jenny.

“Tidak bisakah kamu memberitahuku saja, Pak Darmawan? Aku akan membayarmu untuk informasi penting itu,” Senyumann licik itu sudah metampakkan dirinya dengan sempurna.

“Maaf, Nyonya Muda. Saya datang kemari sebagai Lawyer Arya Wirajaya dan saya sangat patuh kepada beliau. Jika Anda ingin menyogok saya, mungkin Anda harus terlebih dulu menyogok diri anda sendiri,” ucapan Darmawan yang halus namun menusuk itu mampu membuat Jenny menggeram emosi. Dan jelas saja ia akan segera meledak lebih parah dari sebelumnya.

“Lancang sekali Anda, Pak Darmawan. Anda tahu siapa saya? Jenny Halim Wirajaya!” Jenny membentak Darmawan yang masih seperti biasa, bersikap dingin.

“Saya tidak ada waktu untuk berdebat dengan Anda, Nyonya Muda Jenny Halim, dan yang harus Nyonya Muda ingat adalah keluarga Wirajaya tidak pernah menginginkan nama mereka tersemat pada nama Anda. Seperti poin nomor 3 pada surat yang telah Nyonya Muda tandatangani tadi. Kalau begitu saya permisi.”

Darmawan berjalan meninggalkan Jenny dengan emosinya yang semakin memuncah. Membuatnya melemparkan vas bunga yang ada di dekatnya. Sepertinya dia sudah benar-benar dibuat gila oleh keluarga Wirajaya.

“Sudah saya bereskan, Tuan.”

Darmawan menghubungi seseorang sebelum masuk ke dalam mobilnya. Meninggakan rumah besar bergaya modern, serta Nyonya rumah yang masih mengamuk. Karena dari luar pun ia bisa mendengar suara barang-barang pecah.

Di tempat yang berbeda seorang pria paruh baya tengah tersenyum sesaat sebelum meletakkan ponselnya di atas nakas. Senyum kemenangan itu jelas terpancar pada wajahnya yang kini sudah dipenuhi oleh keriput.

“Why you smiling, Ehemann?” seorang wanita dengan rambut peraknya ikut duduk ditepi ranjang, bersisian dengan sang pria.

“I feel greatful...” jawabnya sembari merangkul bahu wanita yang masih terlihat cantik diusia senjanya.

“Tapi, bahagia kenapa?” tanyanya dengan nada kesal.

“Untuk saat ini aku berhasil untuk memukul mundur ular betina itu. Setidaknya semua akan terkendali sampai pernikahan Richard dan Arin berlangsung,” jawab pria yang sedang megusap-usap punggung sang wanita.

Pasangan yang selalu harmonis selama usia pernikahan mereka. Gosip? Jauh dari rumah tangga mereka, berbeda sekali dengan putra tunggalnya yang selalu menjadi bahan gosip. Mereka adalah Arya Wirajaya dan istrinya Marry Albercht Wirajaya selalu seperti ini. Romantis sepanjang masa dan nyaris tidak pernah terjadi pertengkaran.

“Jangan hanya memukul mundur, Arya, lebih baik kamu menebasnya sekalian saja,” katanya dengan kegeraman dan tangan mengepal yang melayang ke udara.

“Tidak secepat itu, untuk mendapatkan hasil yang baik kita harus melakukannya secara perlahan dan terencana. Aku tidak ingin semuanya kacau hanya karena terburu-buru ingin menghunuskan pedang pada ular betina itu,” Arya meraih tangan istrinya yang masih mengepal ke udara.

“Terlalu mewah jika kamu mengatakan menghunus pedang padnya. Dia lebih pantas untuk dilibas dengan golok, Sayangku,”  ucapnya berapi-api dengan tangan yang masih digenggam oleh suaminya. Membuat pria itu terkekeh geli melihat tingkah sang istri.

“Tidak ada yang lucu, Arya. Jadi berhentilah menertawaiku,” tangannya memberikan cubitan pada pinggang suaminya

“Kamu sangat lucu. Memangnya tadi menonton video lawakan apa?” tanya suaminya penasaran walau jelas terdengar nada mengejek di dalam ucapannya.

“Aku tidak nonton video lawakan, Arya. Aku hanya menonton video perempuan jadi-jadian dihamuk masa karena maling jilbab.”

“Huh?”

“Iya. Dia maling jilbab dari jemurannya orang. Waktu ditanya polisi dia jawab karena ingin bertahubat. Kan aneh, ya, Sayang.”

Arya yang mendengar penuturan istrinya langsung tertawa terbahak-bahak. Tanpa mempedulikan raut wajah istrinya yang sedang kesal. Ia sadar benar bahwa setiap kata-kata yang keluar dari mulut istrinya itu adalah saduran dari sinetron atau video yang ditontonnya.

Belajar bahasa Indonesia pun dari acara tv yang ditontonnya, katanya agar lebih mudah paham. Tapi lihat hasilnya? Kalimatnya selalu penuh drama dan berlebihan.

Second WifeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang